Tunjukkan Progress Pembenahan IPAL, Cor Saluran Pembuangan Limbah PT Sinar Pangjaya Mulia Dibuka

oleh
PT Sinar Pangjaya Mulia membuka cor di saluran pembuangan limbahnya setelah menunjukkan proggres perbaikan IPAL-nya kepada jajaran Sektor 21 Satgas Citarum Harum dan elemen masyarakat.

CIMAHI,- Saluran pembuangan limbah milik PT Sinar Pangjaya Mulia yang ditutup dengan cara dicor pada tanggal 26 Mei 2018 lalu, hari ini dibuka setelah pihak manajemen melakukan pembenahan dan menambah fasilitas pengelolaan limbahnya dan berkoordinasi dengan jajaran Sektor 21 Satgas Citarum Harum beserta elemen masyarakat.

Sebelumnya, saluran limbah PT Sinar Pangjaya Mulia ditutup oleh Satgas karena kualitas limbahnya yang dibuang ke Sungai Cibabat berwarna ungu kemerahan. Sehingga Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama jajarannya menutup pembuangan limbah itu agar tidak masuk ke aliran sungai.

“Kita (TNI) turun ke Sungai Citarum adalah sesuai dengan Perpres No. 15 tahun 2018 untuk mengembalikan ekosistem Sungai Citarum kembali bersih seperti yang dahulu. Dasar yang lain setelah Sungai Citarum di cap sebagai salasatu sungai yang terkotor di dunia, itu yang mencoreng martabat dan nama Indonesia,” Kata Kolonel Inf Yusep Sudrajat saat pertemuan dengan pemilik pabrik Eddy Sukandar bersama jajaran serta didampingi Benny Wullur sebagai kuasa hukum, dihadiri oleh perwakilan elemen masyarakat dari LSM PMPRI dan belasan awak media di Holiday Inn Pasteur, Kamis (7/6/2018).

“Tugas dan wewenang kami (TNI) adalah membenahi Sungai Citarum, artinya kondisinya sedang dalam keadaan darurat. Dimana-mana jika TNI masuk itu kondisinya berarti sedang tidak normal. Kalau dalam kondisi biasa mungkin aparatur sipil serta Polri yang bergerak. Tetapi karena situasinya seperti ini, TNI diturunkan ke sungai sepanjang kurang lebih 290 Km tersebut, yang terbagi menjadi 23 Dansektor dari Gunung Wayang hingga Muara Gembong,” jelas Yusep kepada pihak PT Sinar Pangjaya Mulia.

“Saya, mendapat amanat tugas di Sektor 21 yang meliputi anak-anak sungai di wilayah Kabupaten Bandung, tidak termasuk Majalaya, tambah Kota Cimahi,” terang Yusep.

Yusep menerangkan lebih lanjut, saat ini sampah permukaan di Sungai Citarum sudah berkurang. Masyarakat sudah mulai paham untuk tidak lagi buang sampah ke sungai. “Mudah-mudahan pabrik dan industri di wilayah tugas saya pun untuk persoalan membuang limbahnya sudah bisa sejalan dengan warga masyarakat, artinya, limbah yang dibuang ke aliran sungai kondisinya sudah bersih,” tambahnya.

“Saya lihat foto, video, dan laporan lainnya terkait dengan Pangjaya ini, saya hanya bertindak menutup lubang pembuangan limbahnya saja. Maksudnya, silahkan jika ingin mengotori, kotori wilayah pabrik saja, jangan ke aliran sungai. Karena kita sebagai masyarakat, berhak menikmati air sungai menjadi bersih. Sungai itu seperti serambi depan rumah kita yang menyenangkan,” ucap Yusep. “Semoga ini bisa dipahami oleh pengusaha, dan saya juga bertekad program Citarum Harum ini harus berhasil, cadu mundur pantang mulang (tidak akan mundur dan kembali) sebelum tugas berhasil dilaksanakan,” imbuhnya.

“Saya bukan galak (menutup lubang pembuangan limbah), tidak. Kalau tidak begini tugas kita bisa tidak selesai-selesai,” tegas Yusep.

Pada kesempatan yang sama, Eddy Sukandar, pemilik dari PT Sinar Pangjaya Mulia, menyebutkan bahwa sejak awal pabriknya didirikan sudah di design sekaligus dengan pengolahan limbah. Design pengolahan limbah itu sesuai dengan petunjuk dari Lingkungan Hidup. Tapi sekarang saya tidak akan lihat lagi kebelakang, setelah perusahaan kami disegel saluran pembuangan limbahnya, kami merasa tuntutannya air limbah yang dibuang itu harus jernih. maka dari itu saya memberanikan diri menghubungi Kolonel Yusep, karena kita sudah ada pembenahan untuk itu,” kata Eddy.

Eddy menegaskan bahwa pihaknya sepakat untuk program Citarum ini. “Karena sayapun lahir disini,” ucapnya. “Kita sama-sama di program Citarum Harum ini, dan kita juga akan selalu berusaha untuk bisa mengolah limbah tanpa mencemari sungai,” ujar Eddy lagi sembari mengungkapkan pabriknya sudah sanggup melakukan recycle limbahnya meski belum 100 persen bila disesuaikan dengan kapasitas maksimal. “Selama cor belum dibuka, kami mengoperasikan lamela, alat pengendapan, dari hasilnya ini air sudah cukup bening. Dan kami berencana mendatangkan mesin ini satu lagi untuk mengoptimalkan kualitas limbahnya, dengan kapasitas 120 kubik per jam yang hampir ekuivalen dengan produksi kita sekarang,” terang Eddy. “Kami juga sedang meng-investigasi cara agar penggunaan air bisa lebih hemat,” pungkasnya.

Benny Wullur, kuasa hukum dari PT Sinar Pangjaya Mulia, pada giliran berbicaranya mengatakan, “Kami juga perlu luruskan, saat pertama kali Satgas datang, kamipun sedang menyempurnakan pengelolaan IPAL. Nah, itu bisa dilihat ke dalam pabrik kegiatan-kegiatan tersebut. Produksi kami 2.000-an dari kapasitas 3.500an. Dalam hal ini juga kami perlu luruskan pemberitaan yang seolah-olah kami tidak punya IPAL, padahal ada. bahkan sedang dalam proses peningkatan dan penyempurnaan. Kami juga instropeksi diri dengan tidak akan melihat orang lain dan sekeliling, nanti kita juga tidak akan maju-maju. Kami akan terus menyempurnakan sampai seperti yang kita inginkan sama-sama, Citarum kita bersih,” urai Benny.

Menanggapi pernyataan dari pihak perusahaan, Kolonel Inf Yusep Sudrajat menyampaikan bahwa keinginan pembukaan cor oleh pihak perusahaan harus diiringi oleh tekad limbah yang keluar dari aliran sungai, “Kita menutup saluran limbah itu sama-sama dengan wartawan dan elemen masyarakat. Jika dibuka pun harus sama-sama. Setelah dibuka, dan ternyata nanti ditemukan limbah yang keluarnya kotor, saya akan tutup lagi permanen,” tegas Yusep.

Pada pengamatan Direktur Investigasi LSM PMPRI, Arif Nurcahyo, sebelum pembukaan cor PT Sinar Pangjaya Mulia, dikatakan, “Setelah klarifikasi dilapangan, dirunut dari inlet, proses hingga outlet termasuk memodifikasi jalur proses pengolahan misal dari bak qualifier yang dulu langsung ke sungai, kini melalui alat baru/mesin lamela termasuk memasukan chemical dcA decoloring agent,” kata Arif melalui pesan singkatnya.

Dilanjutkan oleh Arif, “Akan dibuatkan kolam ikan sebelum masuk lamela, agar sebelum masuk sudah jadi indikator limbahnya tidak beracun,” tambahnya.

Kondisi limbah IPAL PT Sinar Pangjaya Mulia
“Salah satu indikator baiknya sistem IPAL adalah munculnya lumut di permukaan air manakala kolam qualifier di non aktifkan,” kata Arif Nurcahyo. Jumat (8/7/2018).
Hati-hati Penipuan Mengatasnamakan Komandan Sektor Satgas Citarum Harum

Yang menarik pada konferensi pers antara pihak PT Sinar Pangjaya Mulia, Dansektor 21, serta perwakilan elemen masyarakat yang juga dihadiri oleh belasan media cetak dan media online ini,  Kolonel Inf Yusep Sudrajat mengingatkan kepada pabrik dan industri khususnya diwilayah tugasnya di Sektor 21 agar waspada terhadap modus penipuan atau pemerasan yang menggunakan nama Dansektor.

“Ini ada orang pabrik yang dikirimi pesan oleh pelaku (terduga pelaku) yang mengaku mewakili Dansektor untuk menyetorkan sejumlah uang dengan dalih agar cor-nya bisa dibuka,” ungkap Yusep sambil memperlihatkan pesan yang di kirim oleh pemilik pabrik saat konfirmasi padanya.

“Jika menerima pesan yang meminta uang ke pabrik-pabrik mengatasnamakan Dansektor, jangan ditanggapi, supaya tidak jadi korban penipuan,” kata Yusep.

“Membuka saluran pembuangan limbah yang ditutup itu mudah saja, bersihkan limbahnya yang akan dialirkan ke sungai, kita buka. [St]

Konferensi Pers PT Sinar Pangjaya Mulia
Konferensi Pers PT Sinar Pangjaya Mulia, kamis (7/6/2018).

Comments

comments