Tantangan Santri Di Era Digital

oleh
Tantangan Santri Di Era Digital

sorotindonesia.com | Semarang,- Setiap anak memiliki tantangan yang berbeda dengan orang tuanya. Demikian pula dengan santri, perubahan zaman yang ada merupakan realitas yang harus dihadapi. Mahasiswa Universitas Wahid Hasuim Semarang (Unwahas) membincang ‘Nasionalisme Kaum Santri‘ dalam refleksi Hari Santri Nasional 2018 di halaman kampus 1 Unwahas, jalan Menoreh Tengah Sampangan Gajahmungkur, Kota Semarang, Senin (22/10/2018) malam.

“Banyak anggapan bahwa santri mempunyai label masyarakat tradisional yang notabenenya kaum terbelakang. Namun Gus Dur mempunyai pemikiran modern, meskipun begitu Gus Dur tidak meninggalkan tradisi dan kebudayaan tradisional,” kata Sekretaris Lakpesdam NU Jawa Tengah, Dr. Teddy Kholiludin M.Si., saat menjadi pembicara dalam acara tersebut.

Teddy menjelaskan tentang santri yang hidup di era digital, di mana pada zaman sekarang hampir semua tidak bisa terlepas dengan dunia digital. Menurutnya, hidup di era datar, di mana semua tidak ada lagi yang namanya jarak. Yang jauh akan terasa dekat karena teknologi merupakan suatu tantangan bagi santri. Sebab, kata dia, tidak ada batasan jarak. Santri juga harus berkompetisi untuk melawan dengan media arah kanan maupun kiri.

“Kecenderungan kita hidup di globalisasi, artinya kita harus menawarkan blokalisasi,” tutur Teddy.

Dia mencontohkan, di Bantul terjadi pembubaran adat Larung oleh kelompok Islam kanan, di Cilacap tersebar pamflet bertuliskan Larung dapat menyebabkan Tsunami. Itu merupakan tantangan bagi kaum santri mengenai blokalisasi.

Sementara, Wakil Rektor I UIN Walisongo Dr. H. Musahadi, M.Ag menjelaskan bahwasanya fakta dan realita Indonesia adalah negara yang multikultural, dari segi budaya, ras, adat, sampai kepentingan politiknya. Dari keberagaman itulah yang menjadikan santri lebih cermat karena dengan adanya keberagaman maka banyak muncul paham radikalisme, intoleransi, dan pandangan lain.

“Saya mengibaratkan menulis suatu kata, setiap orang nantinya akan berbeda-beda pendapat karena bisa saja kalimat dibaca dengan tanda baca yang beragam,” ujarnya.

Masalahnya, kata dia, pada era zaman digital ini di dunia maya sudah banyak konten yang mempengaruhi kebudayaan Indonesia, dengan menyuguhkan konten-konten yang tidak sama dengan nilai, budaya Indonesia. (dian/arh)

 

Comments

comments