Tak Ada Penulis Hebat Tanpa Membaca

oleh
Tak Ada Penulis Hebat Tanpa Membaca

Antar Venus, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran (Unpad), merupakan seorang penulis yang produktif. Sebagai seorang penulis, Venus telah menghasilkan dua buku. Buku pertama berjudul “Manajemen Kampanye” dan yang kedua berjudul “Filsafat Komunikasi Orang Melayu”. Judul kedua yang disebut merupakan karya termutakhirnya, buku tersebut diterbitkan pada tahun 2015.

Sedangkan buku pertama terbit pada tahun 2004. Selain sebagai penulis buku, Venus juga aktif dan produktif dalam menghasilkan artikel di media massa seperti Pikiran Rakyat, Republika, Media Indonesia dan Kompas.

Penulis yang lahir di Banten, 2 Juni 1968, ini menjadikan aktivitas menulis dan membaca sebagai dua hal wajib yang harus dimiliki seorang penulis. “Tidak ada. Tulisan fiksi pun orang butuh gagasan, dan kita memperoleh informasi itu dari membaca. Saya membaca ratusan buku. Tidak bisa. Untuk buku serius ya, buku otentik, buku yang transformatif, buku liberatif, buku yang kreatif, itu butuh membaca. Apalagi buku-buku yang akademis, butuh sekali. Jadi tidak ada. Kalo buku yang ditulis bagus, kalau buku yang ngawur-ngawur sih bisa dengan pengalaman aja,” ungkap Venus.

Dalam menyusunan Buku “Filsafat Komunikasi Orang Melayu”, Venus menghabiskan banyak waktu untuk membaca. Ia berkeliling ke wilayah Indonesia hingga Malaysia untuk mencari literatur terkait kebudayaan Melayu.

Selain menulis buku, Venus juga aktif menulis artikel di beberapa media seperti Pikiran Rakyat, Republika, Media Indonesia, dan Kompas. Baginya, menulis untuk media massa cetak memiliki perbedaan besar jika dibandingkan dengan menulis buku.

Venus berujar, “Saya pikir sangat berbeda ya, kalau buku, kita membutuhkan Litertur yang sangat banyak. Butuh kerangka berpikir yang lebih luas. Intinya sebenarnya sama aja, cuma tekanannya yang berbeda. Di media isunya harus praktis. Di buku juga begitu, lead atau pembukaan harus menjual, kalau tidak menarik tidak akan dibaca banyak orang. Tapi media itu dibutuhkan, di media itu dibatasi, 1000 karakter, bagaimana caranya isunya praktis, menarik, dan relevan. Tulisannya juga lebih nge-pop, bahasa dan juga tidak perlu memakai kutipan apa-apa dan sebagainya. Isunya yang relevan dan bahasanya yang lebih ringan, kalau di media.”

Sebagai seorang penulis, ia juga memiliki sosok penulis yang diidolainya. Antar Venus menyebut sosok Jalaludin Rahmat, penulis dan dosen Fikom Unpad, sebagai tokoh yang diidolainya karena baginya Jalaludin Rahmat merupakan salah satu penulis terbaik di Indonesia sepanjang sejarah.

Ia juga mengaku banyak mengadopsi gaya kepenulisan Jalaludin Rahmat yang kerap menggunakan cerita-cerita dalam tulisannya. Secara umum Venus sangat menyukai tulisan yang mengalir dan hidup, ia menyebut Andrea Hirata sebagai sosok penulis yang memenuhi kriteria itu.

Terkait dunia kepenulisan Indonesia saat ini, Venus juga memberi komentar. Ia berpendapat bahwa dunia kepenulisan Indonesia saat ini kurang berkembang karena rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia menyebut faktor kegagalan membangun kultur membaca di Indonesia sebagai masalah utama.

Baginya, pendidikkan Indonesia tidak berhasil membangun kultur menulis dan membaca dari jenjang sekolah dasar. Untuk mengatasi hal itu, Venus menawarkan solusi berupa penyederhanaan faktor-faktor penting yang mempengaruhi.

“Penghargaan terhadap membaca juga tidak ada, lomba-lomba membaca juga tidak ada, perpustakaan juga tidak dibangun sedemikian rupa sehingga orang mau membaca, tulisan-tulisan juga tidak dibuat dengan sedemikian ringan, dan ilmu pengetahuan yang paling penting gagal untuk mengkomunikasikan dirinya secara readble, jadi tingkat readibility ilmu pengetahuan kita juga rendah sehingga orang terlalu pusing dengan berbagai konsep dan malas membaca pada akhirnya. Coba kalau semuanya disederhanakan, aktivitas membaca digalakan, dengan semua pihak saling bekerja sama. Jadi sekolah, orang tua, media massa, penerbit, dan termasuk juga ilmuan bekerja sama. Utamanya ilmuan, ilmuan itu tugasnya membangun ilmu dan mengemas ilmu yang akhirnya bisa ditulis di ruang publik,” ungkapnya.

Antar Venus bisa disebut tengah naik daun dengan buku terbarunya, buktinya ia berkesempatan untuk memberikan buku terbarunya kepada PLT Gubernur Sumatera Utara Ir. H. Tengku Erry Nuradi, M.Si, dalam Kongres 4 ASPIKOM di Medan Sumatera Utara pada Selasa (10/5/2016).

Venus menyatakan hal penting lain dalam kepenulisan adalah promosi, “Buku harus dipromosikan. Bagaimana buku ini dibicarakan di Facebook, diulas juga di harian Republika. Di harian Pikiran Rakyat sendiri saya juga menulis artikel tentang filsafat komunikasi orang melayu kemudian ada diskusinya di forum Asia Afrika. Artinya, kita harus kembali ke awal, saya ingin membangkitkan semangat mempelajari diri kita. Maka itulah saya ingin menjadikan kajian komunikasi etnik nusantara sebagai sebuah mata kuliah. Sehingga ada, belum ada kajian-kajian komunikasi etnik di Indonesia pada saat ini,” ujarnya. (rkh/rkh)

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.