Support Pesantren, Rektor Unnes Nyatakan Bangga Mahasiswa Aktif Di NU

oleh
Support Pesantren, Rektor Unnes Nyatakan Bangga Mahasiswa Aktif Di NU
Rektor Unnes, Prof Dr Fathurrohman M.Hum., saat memberikan sambutan pembuka lomba Paduan Suara Hari Santri Nasional 2018 di Auditorium Unnes Sekaran, Gunungpati, Semarang.

sorotindonesia.com | Semarang,- Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Dr Fathurrohman M.Hum., menyatakan bangga terhadap mahasiswanya yang aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Demikian diungkapkan saat wawancara seusai membuka Lomba Paduan Suara dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2018 di Auditorium Unnes, desa Sekaran, kecamatan Gunungpati, kota Semarang, tadi pagi (15/10/2018).

Menurut Fahtur, oleh karena Unnes merupakan bagian dari masyarakat Indonesia, khususnya Jawa Tengah, dan Kota Semarang, maka berusaha mengembangkan karakter mahasiswa melalui adanya kerjasama dengan pesantren.

“Unnes memiliki kerjasama dengan pesantren dalam pembinaan keagamaan, terutama dalam membentuk akhlak mulia,” kata Fathur. “Karena itu, jelas beda antara mahasiswa yang kos dengan yang di pesantren,” imbuhnya.

Selain itu, Unnes perlu berkontribusi pada masyarakat dengan turut membantu dalam pengembangan pesantren yang ada di seputar kampus. Melalui berbagai program, network link yang men-support kemajuan pesantren NU yang ada di lingkungan Unnes.

“Terlebih dengan NU sebagai sebuah organisasi masyarakat yang besar, kegiatan seperti ini bisa dilakukan di Perguruan Tinggi Unnes,” terangnya. “Kami merasa senang ada mahasiswa Unnes yang aktif di organisasi milik NU,” ungkapnya.

Diterangkan, semenjak menjabat sebagai rektor pada tahun 2014, kerjasama dengan NU langsung dirintis, bentuknya pengabdian masyarakat dan penelitian di beberapa pesantren. Sebab itu, Unnes dapat membantu sesuai apa yang telah diketahui bersama.

Utamakan Teknik, Bukan Entertain

Sementara, Koordinator lomba paduan suara, Naela Hidayatul Mukarromah menerangkan, tata tertib lomba terkait aturan jumlah peserta dengan jumlah minimal 15 santri dan maksimal 25 santri dalam 1 grup. Peserta menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya dan Mars Ya Lal Wathan dengan satu lagu pilihan, Shalawat atau lagu Religi.

Pentingnya panitia menekankan aspek teknik, diungkapkan Sirajatul Lami’ah, salah satu Juri dalam even tersebut.

Ami, sapaan akrab perempuan yang saban hari mengajar di MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon, kecamatan Tugu. Panitia tidak mengambil sisi entertain sehingga lebih menekankan teknik olah vokal, dan aransemen musik. Perlu diketahui, teknik olah vokal dimaksud meliputi teknik pecah suara (pembagian berdasar genre maupun oktaf, power maupun keserasian dan kekompakan dalam membawakan lagu).

“Lomba ini, menilai teknik lebih tinggi daripada artistik,” ungkap ibu muda yang juga wakil ketua Fatayat NU Kota Semarang. Ia mengukapkan adanya lomba paduan suara dalam menyambut hari santri, yakni meningkatnya bakat dan minat putra putri NU di bidang seni paduan suara islami.

Juri lain yang menegaskan hal serupa, Moh Aniq, dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menerangkan, harmonisasi suara dan nada merupakan pertimbangan penting dalam penilaian. Secara lugas dikatakan, presisi nada yang dipadukan dengan nada lain harus sesuai dengan rhythm dan accord. Terkait kendala pada kejuaran sejenis, dosen yang juga peneliti di The Mutamakin Institute, Kajen Kabupaten Pati ini mengungkapkan, pada umumnya di dunia panggung, kesiapan panitia menjadi persoalan tersendiri di mana sound dan panggung terkadang memiliki pengaruh dalam performa peserta dan pendengaran Juri. (Qie)

Comments

comments