STUNGTA Jawab Persoalan Sampah Kawasan

oleh -
STUNGTA Jawab Persoalan Sampah Kawasan

sorotindonesia.com, BANDUNG,- Permasalahan pengelolaan sampah rumah tangga hingga kini masih menjadi persoalan serius bagi sebagian besar wilayah perkotaan di Indonesia. Tidak terkecuali di wilayah Jawa Barat.

“Misalnya adalah wilayah Bandung raya yang meliputi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat. Dari sekitar produksi sampah sebanyak 6.000 ton perhari, 2.000 ton terserap ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir sampah) Sarimukti.,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Prov. Jawa Barat, Bambang Rianto, di salasatu ruang rapat Gedung BPKAD Lt 3, Kawaluyaan, Kota Bandung, Kamis (5/12/2019).

“Pertanyaannya, kemana sisa sampah yang jumlahnya 4.000 ton?” tanya Bambang Rianto yang pada kesempatan itu sekaligus mengapresiasi program terobosan yang dilaksanakan oleh pemerintah kota dan kabupaten dalam mengelola dan memanfaatkan sampah.

Pada rapat presentasi yang dihadiri antara lain oleh DLH Jawa Barat, Disperkim Jawa Barat, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK), Badan Standarisasi Nasional (BSN), DLH Kota dan Kabupaten, tim Hejo Tekno serta stakeholder lainnya, disampaikan terkait dengan salasatu solusi penanganan sampah kawasan menggunakan terapan teknologi incinerator yang bernama Stungta.

Dijelaskan oleh Betha Kurniawan selaku ketua tim Hejo Tekno yang menciptakan mesin incinerator ini kepada wartawan seusai presentasi langsung di lapangan, “Stungta adalah singkatan dari Sistem Tungku dan Treatment Air, awalnya nama tersebut dari bahasa gaul Geus Tangtu (sudah tentu.-red) yang kerap di plesetkan oleh kaum distro jadi stungta yang akhirnya menjadi akronim dari nama mesin incinerator tersebut,” jelas Betha yang menyatakan mesin tersebut karya asli anak bangsa dari Bandung yang telah digarap selama dua tahun hingga menghasilkan produk yang ada ini.

“Saat ini kami diberi lompatan oleh DLH dan Disperkim untuk kesempatan berbicara pada seluruh stakeholder dan kementerian, harapannya sih Stungta yang ada di Jawa Barat ini menjadi solusi nasional. Tapi kita tidak muluk-muluk dulu, minimal persoalan sampah di Citarum ini beres,” beber Betha.

“Kami ingin membereskan masalah di lingkungan tanpa menambah masalah baru, sehingga kenapa kita mengikuti track yang benar,” ujarnya dihadapan wartawan.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Betha, “Alhamdulillah, dari banyak pihak, dikatakan Stungta sudah on the track, sekarang tinggal wait and see, kita sedang terus berproses,” terangnya lagi.

Betha juga menuturkan, kelebihan dari incinerator Stungta ini secara teknis bisa menyesuaikan dengan suhu yang sudah ditentukan, “Incinerator ini bukan mesin yang asal bakar, kita punya pakem internasional untuk incinerator bahwa ada suhu yang diwajibkan antara 800 hingga 1.200 derajat celcius, ada pencucian asap sehingga smokeless atau tidak ada asap, sifatnya sistem pembakaran dua kali hingga asap yang keluar tidak beracun dari hasil uji oleh Sucofindo,” tuturnya.

Selain diperkenalkan kepada stakeholder yang memiliki kebijakan dan strategi, mesin incinerator Stungta ini juga telah diuji melalui Badan Standardisasi Nasional (BSN) dan sudah proses pengajuan HAKI.

Zulhamaidi dari BSN yang turut dalam kegiatan tersebut kepada wartawan menjelaskan, “BSN secara tugas dan fungsi bertanggungjawab di bidang standarisasi. Secara umum kami sudah ada SNI yang mengacu, yaitu SNI 8423 tahun 2017 tentang incinerator yang ditetapkan oleh BSN untuk pengujian dan sertifikasi incinerator ini,” ucapnya.

Kelayakan dari mesin incinerator Stungta ini, lanjut Zulhamaidi, pihaknya akan melakukan proses sertifikasinya terlebih dahulu.

“Karena ini masih voluntery, artinya secara produk dari kacamata BSN sudah bisa diedarkan. Namun kalau memang menjadi nilai tambah, diharapkan untuk SNI segera,” ujarnya.

Diterangkan lebih lanjut oleh Zulhamaidi, “Selain memenuhi lulus uji mutu sesuai dengan SNI tersebut, juga menerapkan sistem manajemen mutu. Sehingga kualitas incinerator (Stungta) ini lebih konsisten dan stabil, harapannya seperti itu,” terangnya kepada wartawan.

Kesempatan yang sama, Lucky Ruswandi, Kepala Bidang Infrastruktur Pemukiman Dinas Perumahan dan Pemukiman Prov. Jawa Barat, saat diwawancarai oleh awak media mengatakan, “Ini apresiasi buat teman-teman di Hejo Tekno maupun Gerakan Hejo, karena ini merupakan inisiatif yang luar biasa bahwa ada kesadaran dari teman-teman bahwasanya persampahan itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Kemudian kami dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat ingin mendorong agar produk dan sistem ini menjadi salasatu contoh solusi terhadap permasalahan sampah yang sampai saat ini bisa dikatakan belum berhasil dientaskan,” urainya.

“Kita juga mendorong meskipun yang kita kenalkan adalah teknologi yang sifatnya itu adalah pengolahan atau pemusnahan sampah, namun yang ingin kita bangun bukan hanya pengolahan sampah, tetapi juga pengelolaan sampah mulai dari hulu hingga ke hilir bagaimana sampah tersebut terkelola dan visible secara ekonomi dan sebagainya,” kata Lucky.

Lucky juga menyebutkan harapannya ada pilot project untuk penerapan teknologi ini di lapangan. “Paling tidak sekarang mesin incinerator ini kita tempatkan disini sebagai uji coba, kemudian juga di program Citarum Harum saya ingin mengusulkan bahwa ini salasatu teknologi yang akan dipakai di program Citarum Harum tersebut,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan oleh perwakilan dari Pemerintah Kabupaten Bandung Barat yang ikut dalam presentasi, “Ini alat yang mobile, bisa digunakan dimana sampah itu ada. Saya kira ini akan berguna untuk masyarakat hingga ke tingkat desa,” kata Maryati, Kepala Bidang Kebersihan di Dinas Lingkungan Hidup.

“Harganya memang lumayan, tapi ya mudah-mudahan harga yang relatif mahal tersebut berbanding dengan sampah yang bisa dikelola oleh mesin yang berkapasitas dua ton perhari ini. Kita lihat mesin ini bisa mengatasi masalah sampah secara zero waste langsung dari sumber yang memang sangat diharapkan,” ucap Maryati.

Sarana TPS 3R di Kabupaten Bandung Barat sendiri diakui oleh Maryati baru ada di dua tempat, yakni di Cikalong dan Cipeundeuy.

“Produksi sampah di Kabupaten Bandung Barat perhari antara 600 hingga 1.000 ton, dan hingga kini masih bisa ditangani sebanyak 150 ton perhari. Sedangkan dari 165 desa, baru ada dua fasilitas TPS 3R yakni di Cikalong dan Cipeundeuy,” ungkapnya.

“Pengurangan sampah sekecil apapun yang dilaksanakan oleh masyarakat memang harus ditunjang juga dengan teknologi, salasatunya adalah ini yang menjanjikan kedepannya bisa mengatasi permasalahan-permasalahan sampah yang ada di sumber. Sarana seperti ini juga yang bisa mengurangi sampah dikirim ke TPA. Mudah-mudahan nanti yang salasatu pilot project-nya ada di Kabupaten Bandung Barat, bisa menjadi percontohan bagi desa-desa yang lain agar tumpukan-tumpukan sampah di Kabupaten Bandung Barat terus berkurang dan lebih berkembang dengan beberapa metode yang sudah ada,” pungkas Maryati panjang lebar.[St]

Comments

comments