Srawung Orang Muda Keuskupan Agung Semarang Ajarkan Mahalnya Perdamaian

oleh -
Srawung Orang Muda Keuskupan Agung Semarang, Ajarkan Mahalnya Perdamaian

soroindonesia.com, Semarang,- Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda yang diinisiasi Keuskupan Agung Semarang mengajarkan betapa mahalnya sebuah perdamaian. Srawung merupakan mandat Dewan Karya Pastoral (DKP) KAS kepada Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (Kom HAK KAS) serta Komisi Kepemudaan KAS bersinergi dengan Pelita Semarang, Lakpesdam NU Jateng, dan Gusdurian Jateng-DIY dalam kepanitaannya.

Srawung digaungkan untuk mengajarkan betapa mahalnya sebuah perdamaian. Penampilan Joko Kendil dalam pentas pembuka Srawung, Jum’at, (26/10/2018) petang, menyampaikan pesan penting pada ribuan orang muda yang hadir memenuhi gedung, bahwa sebuah perdamaian harus diperjuangkan. Menyampaikan pesan moral bahwa berdirinya sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sah bukanlah sebuah sulapan tanpa perjuangan.

Jovanka Angie, berangkat sebagai utusan gereja Santo Yohannes Evangelista Kudus mengungkapkan, Srawung sangat menginspirasi bagi bangsa Indonesia, karena keragaman itu sangat penting. Berangkat dari perbedaan menjadi satu kesatuan, persatuan Indonesia. Gadis 15 tahun ini mengaku kurang mengerti cerita rakyat sebelumnya.
“Penampilan Joko Kendil, jadi lebih mengetahui tentang budaya Jawa, teruma folklore,” katanya. Saat ditanya konsep kegiatan Srawung selanjutnya dia menjawab, “Lebih dipertahankan tentang tradisi Jawanya, untuk mengenalkan pada generasi muda pada budayanya,” harapnya.

Peserta lain, Muhammad Nur Ihsan, seorang anggota komunitas Gusdurian asal Jepara ini menyatakan, Srawung memiliki orientasi yang jelas, yakni persatuan seperti tujuan Gus Dur, “Bahwa persatuan dan kesatuan itu penting,” kata pria 25 tahun ini, “Semua agama ada di sini. Perlu adanya persatuan, semua bersatu padu untuk membangun bangsa,” sambungnya.

Menurutnya, Gus mengajarkan kita untuk tidak mengecilkan golongan tertentu sebagaimana lakon Joko Kendil, tak perlu mengecilkan fisiknya yang tidak menarik. Sisi lain cerita tersebut, katanya, menggambarkan bahwa perjuangan itu tidak ada yang mudah. Butuh pengorbanan. Terlebih, berjuang untuk mempersatukan dan menaklukkan hal yang dirasa tidak mungkin. Lebih lanjut, ia memberikan komentar tentang performa sendratari.
“Penampilannya menarik, penempatan kolaborasi antara musik dengan tarian serasi, ucapnya.

Mencari tahu persiapan para pemain, Romo Aloysius Budi Purnomo mengungkapkan, para pemain dipersiapkan dengan serius dengan rentang waktu yang dirasa cukup, “Mereka berlatih dengan giat sejak April lalu,” kata Romo Budi, “secara kepanitian juga disengkuyung bareng, makanya tamu yang hadir juga tokoh lintas Agama, Pemerintahan, dan peserta saat ini sudah seribu lebih. Ini belum rombongan yang datang nyusul nanti malam dan besok pagi,” imbuhnya.

Dikatakan, puncak Srawung selama tiga hari merupakan selebrasi multikultur yang bersifat mengedukasi. Kegiatan Srawung secara rielnya berbentuk ‘forum muda bercerita, pemantik mimpi, workshop, forum penegasan komitmen dan rencana tindak lanjut, selebrasi seni dan budaya dalam bentuk sendratari dan festival dolanan anak.’ Menurut susunan kegiatan, pada 28 Oktober akan dilaksanakan deklarasi dan tekad kerja sama pasca-Srawung di empat kota atau wilayah, yaitu Semarang, Surakarta, Yogyakarta dan Kedu-Magelang. Itulah sebabnya, ada Pra-Srawung, Puncak Srawung dan Pasca-Srawung.

“Kami berharap semua yang terlibat dalam rangkaian kegiatan Srawung akan terus memberikan gema dan daya dalam rangka merawat dan menjaga NKRI melalui persaudaraan sejati demi mewujudkan peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman sesuai agama masing-masing dan di tempat atau wilayah asal masing-masing,” kata dia, “dengan demikian, rangkaian kegiatan Srawung yang dimulai sejak Maret dan puncaknya saat ini, tidak mandeg, melainkan bergerak mengalir laksana air segar yang terus memberikan kesembuhan atas dahaga,” harapnya.
“Mewujudkan perabadan kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaannya merupakan garis haluan perjuangan Srawung,” ujarnya.

Perlu diketahui, Srawung di UTC Hotel and Convention, Jalan Kelud Raya N0. 2, Gajahmungkur, Kota Semarang, merupakan puncak dari puluhan kegiatan pra Srawung. Beberapa di antaranya, pameran lukisan bertemakan Perdamaian Palestina Kerukunan Kita telah digelar pada Maret lalu, tepatnya pada tanggal 21 sampai 25 di Pastoran Yohannes Maria kompleks Unika Soegijapranata Semarang. Selanjutnya, Orang muda Semarang juga turut dalam Karnaval Paskah Kota Semarang pada 27 April lalu, Malam Pentas Seni Music for Diversity, Ragam Nada Lintas Agama oleh dan bersama Pelita Semarang, di Taman Nada Brumbungan, Semarang (18/8/2018), di Kendal Sarasehan dan pentas seni lintas Iman bertajuk “Pancasila Kuwi Aku, Aku kuwi Cah Enom sing Kendel Srawung” (15/7/2018), di Sleman diadakan “Srawung Kekinian” Art Exhibition & Mural Session, Arts Performance di Melcosh Kaliurang, dan lain sebagainya. (arh)

Comments

comments