Seminar Jurnalistik Ansor Jateng, Arjak Imroni Singgung Partai Setan

oleh

Semarang, [ Sorot Indonesia ] – Sekretaris PWNU Jawa Tengah, Dr KH Arjak Imroni, M.Ag., menyatakan partai setan adalah orang-orang yang suka menyebarkan hoaks. Sebab, menurut penjelasannya, penyebar kebohongan pertama adalah iblis. Dikatakan, Iblis memberikan kabar bohong kepada Adam tentang buah khuldi. Hal ini, disebutkannya saat membuka Seminar Jurnalistik GP Ansor Jawa Tengah yang mengangkat tema Teknologi Informasi Sebagai Sarana Jitu Gerakan Islam Ramah, di Aula lantai dasar MAJT, Jalan Gajah Raya, Sambirejo, Gayamsari, Kota Semarang, Sabtu (12/05/2018).

Sekertaris PWNU Jawa Tengah Dr KH Arjak Imroni pada sambutannya di Seminar Jurnalistik GP Ansor Jawa Tengah yang mengangkat tema Teknologi Informasi Sebagai Sarana Jitu Gerakan Islam Ramah.
Sekertaris PWNU Jawa Tengah Dr KH Arjak Imroni.

Lebih lanjut, Arjak yang juga Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Walisongo Semarang mengatakan, pergaulan global dihubungkan teknologi, sehingga layaknya sebuah desa global satu sama lain terkoneksi. Teknologi informasi, kata dia, telah menjadi urat nadi masyarakat modern. Hal ini mengakibatkan banyak generasi muda yang tergiur oleh tawaran belajar agama yang instan. “Kami berharap dari seminar dan pelatihan ini ada tindaklanjutnya, sehingga kader-kader NU mewarnai pergaulan global,” kata Arjak.

Ketua Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT, KH Noor Achmad menambahkan, berita-berita moderat harus lebih banyak diproduksi oleh kader NU. Informasi Islam moderat harus lebih banyak disuarakan. Nasionalis, moderat, dan santun, menurutnya, ciri khas NU, dan para jurnalis yang berlatar belakang pendidikan NU.

Kasubdit III Sosial Budaya, Direktorat Intelijen dan Keamanan, Polda Jateng, AKBP Bambang Purwadi tampil sebagai keynote speaker mengungkapkan, dari teknologi lahir banyak pekerjaan baru bagi anak-anak muda. Hal itu bagian dari dampak positif yang perlu didorong, sedang dampak negatif seperti hoaks harus ditekan. Pihaknya secara berkala mengawasi ujaran kebencian, hoaks dan informasi yang menghasut. “Kita dukung acara ini agar Jateng bebas hoaks. Kita gunakan teknologi dengan bijak,” ujar Bambang.

Seminar tersebut diisi oleh Wakil Ketua PP GP Ansor, Mujiburrahman, Kabid E-Goverment Dinas Komunikasi dan Informasi Jawa Tengah, M Agung Hikmati dan Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), Septiaji Eko Nugroho.

Dalam kesempatan tersebut, Mujiburrahman mengatakan, dalam era media sosial ini perlu ada solusi agar tradisi keilmuan pesantren tetap lestari dengan sanad yang tersambung tapi juga merangkul teknologi. “Kami juga tengah menyiapkan website agar bisa mewarnai wacana keislaman,” kata dia

Septiadji Setyo Nugroho dalam paparannya mengungkapkan, penangkalan hoaks di Indonesia selalu mengedepankan norma-norma yang berlaku, terutama norma agama. Diungkapkan, Singapura belajar tentang penanganan hoaks dari Indonesia melalui Mafindo.

Septiadji Setyo Nugroho saat memaparkan materi dalam Seminar
Septiadji Setyo Nugroho

Lebih lanjut ia menegaskan, perlawanan terhadap hoaks dimulai dari keluarga. Keluarga punya peran besar sebagai institusi terkecil dan inti masyarakat, sehingga tradisi melawan hoaks harus dibiasakan.
”Keluarga sebagai garda terdepan memerangi hoaks. Mafindo saat ini sedang membangun sistem melawan hoaks yang disinergikan dengan isu antikorupsi dan antiradikalisme. Keluarga sebagai basis. Orang tua punya tanggungjawab memastikan anak bebas dari hoaks,” kata dia.

Menurut Septiadji, karakteristik masyarakat menyukai berita bombastis dan bohong. Tipe berita itu lebih cepat viral. Hal itu dimanfaatkan produsen hoaks meraih pembaca. Di sisi lain, berita hoaks juga memanfaatkan emosi pembaca, sehingga larut di dalamnya. Tak terkecuali penduduk dengan latar pendidikan yang tinggi. Pada sisi media, banyak pemiliknya terlibat dalam oligarki, sehingga menggunakan media sebagai saluran politik praktis yang sebetulnya media harus menjaga independensi dari partai politik. “Hoaks ini harus dilawan bersama. Kader NU yang waras saat ini tidak lagi saatnya mengalah dan diem. Harus bergerak. Ojo ngalah.” tegasnya

Seusai seminar, kader GP Ansor dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah mendeklarasikan diri memerangi hoaks. Selain itu, GP Ansor mendukung penegakan hukum oleh Polri dalam memberantas hoaks. Kemudian ikrar untuk menyatakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Harga Mati dan Indonesia Jaya. (sorotindonesia.com/arh)

Comments

comments