Ini, Tantangan Tugas Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum

oleh
Sektor Pembibitan, Posisi Puncak Satgas Citarum Harum
Bibit pohon jenis Manglid yang ditanam oleh Presiden RI Joko Widodo dan pejabat lainnya kala peresmian Program Citarum Harum di Cisanti, 22 Februari 2018 lalu.

SOROTINDONESIA.COM, Bandung,- Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum yang saat ini dipimpin oleh Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, menempati posisi puncak diantara jajaran Sektor lainnya. Posisi puncak ini diartikan karena lokasi tugasnya yang berada di hulu Sungai Citarum, bermarkas di Bongkor Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, dengan ketinggian sekitar 1.600 dpl, yang diapit oleh Gunung Papandayan, Gunung Windu dan Gunung Wayang.

Peran Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum memiliki karakteristik tugas yang berbeda dibandingkan dengan 22 sektor lain yang ada di bagian tengah ataupun hilir Sungai Citarum. Disini, medan tempur yang dihadapi bukanlah tumpukan sampah dan limbah industri, namun lebih banyak untuk menghutankan kembali wilayah kawasan hulu Sungai Citarum dan mempersiapkan pohon dengan bibit yang baik untuk disebar dan ditanam di kawasan DAS Citarum dibagian tengah dan hilir.

Persoalan di hulu Sungai Citarum ini diketahui adalah alih fungsi hutan menjadi lahan budidaya pertanian yang tidak sesuai dengan kaidah konservasi, seperti menjadi perkebunan sayur dan kentang. Sehingga berkurangnya fungsi kawasan lindung hutan dan non hutan. Hal ini yang menyebabkan banyaknya lahan kritis, kadar erosi yang semakin tinggi, yang berakibat sedimentasi disepanjang Sungai Citarum. Selain itu, kawasan tangkapan air menjadi berkurang.

Saat wartawan berkunjung ke Posko Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum ini dan bertanya langsung ke Dansektor Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto tentang persoalan di wilayah tugasnya terkait alih fungsi hutan dan perilaku masyarakat terhadap perbaikan ekosistem, dijelaskan olehnya, “Ekosistem hulu Citarum tergantung pada kondisi masyarakat, jadi masyarakat itu tergantung dengan kondisi kesejahteraannya, jadi kalau masyarakatnya tidak disejahterakan atau tidak sejahtera, mau bilang apapun untuk perbaikan ekosistem ini tidak akan terjadi. Karena percuma saja, hari ini kita tanam tapi esoknya dicabut lagi. Apapun yang kita tanam, tidak akan jadi. Nah, masyarakat disini sebagian besar adalah petani, dari sebagian besar petani itu 90 persennya adalah buruh tani yang hanya diberi upah Rp 25 ribu perhari oleh pemodal yang mengelola lahan-lahan garapan itu. Jadi bagaimana kita berbicara sejahtera jika harapan mereka adalah itu,” ucapnya sambil mengajak wartawan peliput berjalan-jalan sore mengitari lahan pembibitan pohon disekitar Posko didampingi oleh tokoh komunitas setempat, Kamis (26/7/2018).

Dilanjutkan olehnya, “Kenapa itu bisa terjadi? Karena merupakan suatu proses yang sudah berpuluh-puluh tahun disini. Untuk mengatasi itu, awalnya seperti yang saya dapatkan informasi dari instansi yang berkepentingan disini, Perhutani, bahwa pada tahun 2013 sudah pernah dicoba untuk dibagikan lahan garapan kepada masyarakat secara merata, 1 kepala keluarga itu 5 patok. Tetapi pada kenyatannya masyarakat itu tidak bisa mengolahnya karena kebutuhan modal tani dan lainnya tidak bisa terpenuhi, akhirnya lahan-lahan itu hanya dimiliki oleh kapitalis. Masyarakat daripada ada hambatan di permodalan, pilihannya adalah bekerja. Bekerja sebagai buruh tani. Sehingga ada dampak sosial yang terjadi, seperti anak putus sekolah, menikah usia muda, dan sebagainya,” kata Yanto.

“Kemudian kapitalis-kapitalis itu kan terbentuk dengan sendirinya, karena kepentingan dan kebutuhan. Mereka jadi besar karena lahan, lahan dari siapa? ya dari masyarakat. Mereka punya finansial yang cukup kuat, akhirnya mereka bisa mengolah hutan, menanam kentang dan lain sebagainya. Disaat para petani ada yang membutuhkan modal, mereka bisa kucurkan modal, bibit, dan pupuk. Tapi pada saat panen, petani wajib menyerahkannya kepada kapitalis tersebut. Harga diatur oleh mereka. Jadi kapan petani bisa menjadi sejahtera? akhirnya petani menjadi buruh tani, tidak pernah menjadi pengusaha tani,” tutur Dansektor lagi.

Sekarang, ajak Dansektor, mari stakeholder yang ada kita sama-sama perbaiki, perbaiki dari mindset-nya, perbaiki dari kesejahteraan masyarakatnya, kita sejahterakan masyarakatnya diluar kawasan dengan alih komoditi, kita sejahterakan dengan usaha-usaha lain yang bisa dikembangkan disini. Selama ini masyarakat merasa hanya dijadikan sebagai objek, tidak dijadikan sebagi subjek. “Mari kita ajak masyarakat untuk sama-sama mengembalikan ekosistem yang ada, saya yakin jika masyarakat sudah sejahtera, mereka akan menjaga hutan dengan sendirinya. Selama ini saya mendapatkan informasi dari masyarakat, program banyak, tapi hanya mimpi saja. Akhirnya selesai begitu saja tanpa ada yang membekas di masyarakat, tertinggal sisa-sisanya saja,” jelas Dansektor.

Selama 5 bulan berada di Satgas Citarum, Kolonel Yanto menjelaskan langkah-langkah yang sudah dilaksanakan bersama jajarannya, “Banyak tantangan, karena untuk mengembalikan mindset masyarakat itu tidak mudah. Jadi kita berusaha semaksimal mungkin melaksanakan pendekatan face to face pada masyarakat, kita adakan pendekatan secara persuasif dan dari hati ke hati. Mudah-mudahan mereka terketuk hatinya, bahwa apa yang kita lakukan itu bukan untuk mereka tetapi untuk generasinya, untuk anak dan cucunya kelak,” ucapnya.

“Karena selama ini mereka tidak memikirkan mendalam apa yang terjadi dengan kondisi alam ini. Mau rusak juga yang penting mereka bisa bercocok tanam, bisa menghasilkan apa yang mereka inginkan. Tanpa melihat apa dampak yang telah mereka lakukan untuk lingkungan ini. Banjir di wilayah Bojongsoang mereka kurang peduli karena bukan wilayahnya mereka. Padahal kontribusi terbesar untuk sedimentasi dan erosi kan dari sini. Mereka belum sadar itu, itu yang kami rasakan. Tetapi kita punya keyakinan, apabila kita konsisten dan apabila dari berbagai pihak bisa membuka diri untuk bersama-sama dengan kami menyelesaikan persoalan ini, saya yakin dalam jangka waktu dua tahun akan kelihatan perubahannya,” kata Kolonel Yanto optimis.

Ia menambahkan, “Saat ini juga kita sudah bisa melihat satu perubahan yang signifikan, yakni dengan adanya keinginan, kesadaran masyarakat. Tetapi masyarakat yang ada disini perlu bukti bukan hanya janji-janji saja, mereka ingin bukti dan melihat seperti apa”.

Sektor Pembibitan Satgas Citarum Budidaya Ikan Dan Kelinci

Saat ini Sektor Pembibitan Satgas Citarum di sekitar Posko telah memiliki lahan Demontration Plot (demplot) yang dikhususkan untuk pengembangan budidaya ikan dan kelinci serta tanaman serai wangi. Ini sebagai upaya untuk dijadikan alternatif ekonomi bagi masyarakat, selain kedepannya dari hasil tanaman buah-buahan dan juga tanaman ekoforestri seperti kopi.

“Kami menanam serai wangi dan akan membuat penyulingannya disini, masyarakat sudah banyak yang menanamnya. Bulan Agustus ini serai wanginya sudah bisa dipanen,” kata Kolonel Yanto.

Dansektor Pembibitan Satgas Citarum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto menunjukkan demplot serai wangi kepada wartawan.
Dansektor Pembibitan Satgas Citarum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto menunjukkan kepada wartawan demplot serai wangi yang masing-masing tanaman tersebut sudah ditandai. Kamis (26/7/2018).

Diterangkan lagi oleh Dansektor lulusan Akmil tahun 1993 ini, “Kita sudah ada demplot 3 kolam budidaya ikan yang ditanami kurang lebih 10 ribu ekor ikan nila dan tawes.” Dilanjutkan, “Disini ikan tersebut diberi makan rumput yang biasa disebut balakaciut yang banyak tumbuh di sekitar kawasan. Direncanakan 6 bulan panen. Setelah panen, yang kita akan lakukan adalah mengeceknya ke laboratorium, kandungannya bagaimana, kalau sudah kita rasakan kan enak ikannya, tetapi kandungannya seperti apa, inilah yang akan kita promosikan. Kalau ini sudah memiliki nilai, masyarakat yang ada disini tinggal mengembangkan. Dinas terkait tinggal menunggu bibitnya. Data yang kita dapat, disini kurang lebih ada 800 kolam masyarakat. Salasatu yang untuk penghasilan tambahan atau minimal untuk mereka menambah gizi keluarganya itu dari budidaya ikan yang dikembangkan. Disini airnya banyak dan tidak ada kandungan logam berat, jadi ikan yang dihasilkan diharapkan adalah ikan sehat yang bisa masyarakat jual dan menghasilkan secara ekonomi atau untuk konsumsi keluarganya sendiri,” harapnya.

Dansektor Pembibitan Satgas Citarum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto menunjukkan kepada wartawan demplot budidaya ikan air tawar. Kamis (26/7/2018).

“Kita juga coba beternak kelinci sebagai contoh kepada masyarakat, yang ini baru dua minggu kita datangkan. Urin kelinci ini juga bermanfaat dan bernilai ekonomis sebagai pupuk cair. Tapi yang di lokasi ini kita tidak akan jual karena akan digunakan untuk tanaman kopi kita. Kita coba edukasi kepada masyarakat bahwa dari sini mereka bisa mendapatkan beberapa keuntungan, dari kelincinya jika berkembang biak anaknya bisa dijual, lalu yang besar bisa dijual sebagai kelinci pedaging, urinnya bisa dijual untuk dijadikan pupuk. Harga urin kelinci ini lumayan, satu liternya sepuluh ribu rupiah. Harapan kita, perbankan bisa memfasilitasi petani yang memang serius untuk mengembangkan kelinci, untuk mengembangkan budidaya ikan air tawar, buyung puyuh, lebah madu dan lain sebagainya,” harapnya lagi dihadapan awak media.

Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto didepan kandang budidaya kelinci yang rencananya akan ikut dikembangkan di masyarakat karena hasilnya dinilai menguntungkan.
Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto didepan kandang budidaya kelinci yang rencananya akan ikut dikembangkan di masyarakat karena hasilnya dinilai menguntungkan secara ekonomi.
Tentang Pembibitan Pohon Di Sektor Pembibitan Satgas Citarum

Terkait dengan pembibitan pohon yang dilaksanakan Satgas Citarum di hulu sungai, dijelaskan oleh Kolonel Inf Yanto Kusno H, “Kawasan lahan pembibitan berbagai jenis pohon di Bongkor ini sekitar 20 hektar. Lainnya di kawasan Cikembang,” jelas Kolonel Inf Yanto sambil mengajak berjalan-jalan melihat sekitar lokasi pembibitan. Tampak di sekitar posko tersebut ratusan bahkan ribuan bibit tanaman yang tertata rapi. Seperti diantaranya bibit pohon Tarum, Kopi, Suren, Ecalyptus, Manglid, Anyang-anyang. Termasuk juga tanaman Serai Wangi yang memiliki nilai ekonomis.

“Selain untuk ditanam di kawasan konservasi diseluruh DAS Citarum, bibit-bibit pohon ini juga disebar ke setiap sektor,” terangnya.

Data yang disodorkan oleh Dansektor, pertanggal 26 Juli 2018, sudah 715.312 bibit pohon yang sudah tertanam dari 1.349.488 yang sudah siap. “Jajaran kami senantiasa berpatroli untuk mengecek kembali bibit yang telah ditanam di kawasan. Jika ditemukan ada yang mati, kita langsung ganti dengan yang baru. Sudah ada sekitar 3.224 yang mati atau rusak, dan sudah kita ganti sebanyak 3.018,” ungkap Dansektor.

Selama ini, dikatakan oleh Dansektor, faktor yang mempengaruhi kurang berhasilnya penghijauan di kawasan hulu DAS Citarum, diantaranya adalah kualitas bibit, pola tanam yang kurang tepat, pengawasan atau kontrol pendampingan, serta masyarakat dijadikan sebagai objek bukan subjek.

“Kami meminta pihak yang lain untuk serius,” pinta Dansektor. “Sajikan data yang riil sesuai fakta dilapangan untuk realisasi percepatan pengendalian kerusakan DAS Citarum,” imbuhnya. “Ini juga yang saya sampaikan didepan Gubernur di Bogor beberapa waktu lalu,” pungkasnya. [St]

Komandan Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto
Komandan Sektor Pembibitan Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto

Comments

comments