Sejumlah Awak Media Bentuk Komunitas Jurnalis Peduli Citarum Harum

oleh

BANDUNG,- Sejumlah awak media yang berasal dari berbagai organisasi dan komunitas seperti AMMNI (Aliansi Media Massa Nasional Indonesia) dan JBN (Jurnalis Bela Negara), sepakat membentuk jaringan bersama Jurnalis Peduli Citarum Harum untuk ikut serta berperan aktif mengawal suksesnya program Citarum Harum yang telah dicanangkan oleh pemerintah dan Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo. Pertemuan pertama ini digelar di Dafam Rio Hotel, Jl RE Martadinata, Kota Bandung, (12/2/2018).

Pertemuan yang digagas oleh Tio dari Media Suara Nasional dan Martika Edison dari Tabloid Indonesia Indonesia serta di mediasi oleh Stanley Teguh dari sorotindonesia.com ini bertujuan untuk saling memberikan masukan dan usulan. Tidak kurang dari 18 perwakilan media yang hadir, termasuk diantaranya Sekjen AMMNI, Zhovena, dan Ketua JBN, Mohammad Gun.

“Mengembalikan kondisi Sungai Citarum yang bersih dan indah perlu kepedulian dari seluruh komponen masyarakat, termasuk peran media, bila perlu kedepannya diusulkan untuk ditetapkan ada Hari Peduli Citarum, agar masyarakat memahami pentingnya keberadaan Sungai Citarum untuk kehidupan warga masyarakat itu sendiri,” kata Edison membuka usulan di awal pertemuan tersebut.

Harry Safiari, jurnalis yang telah lama mendedikasikan diri di bidang lingkungan sungai dan budaya, mengapresiasi penanganan Sungai Citarum yang kini dalam satu komando, “Sekarang diharapkan tidak ada lagi tumpang tindih tugas untuk memperbaiki Sungai Citarum, tidak lagi jalan sendiri-sendiri, namun demikian perlu ada interaksi yang intens antara Gubernur, Pangdam dan Kapolda dengan wartawan terkait kemajuan program Citarum Harum ini,” usul Harry. “Perlu adanya agenda yang sistematis untuk itu,” imbuhnya.

Menurut Harry, wartawan seringkali tidak berdaya untuk mencari dan mengkonfirmasi data, ditambah penegakan hukum dan regulasi yang dianggap masih lemah, “Masyarakat harus kita dorong peduli kepada Sungai Citarum, jangan sampai masyarakat apatis terhadap apapun program Citarum,” kata Harry lagi, yang berharap seluruh stakeholder bisa lebih transparan menangani dan membuka informasi yang luas terhadap sungai yang pernah disebut sebagai septic tank raksasa ini.

Wartawan senior lainnya, Adi Raksanagara, menyebutkan bahwa Sungai Citarum sepanjang lebih dari 270 Km dari Situ Cisanti hingga Muara Gembong itu melintasi 12 kota dan kabupaten di Jawa Barat, “Tapi kenapa terkesan fokusnya di Kabupaten Bandung?” tanyanya. Namun ia mengapresiasi penanganan Sungai Citarum yang telah dibagi menjadi kurang lebih 21 sektor. Ditambahkan oleh Adi, ada sekitar 46 anak sungai yang bermuara ke Citarum, termasuk diantaranya adalah Sungai Cikapundung. “Cikapundung bisa menjadi model untuk membangun non teknisnya. Mari kita hidupkan lagi komunitasnya, lalu kita munculkan kembali isu-isu publik yang ada di masyarakat,” ujarnya.

Ada tokoh-tokoh dan sosok personal yang menurut Adi selalu siap bergerak tanpa perintah untuk Citarum, seperti contohnya Ade Rohim. “Kita munculkan juga mereka, termasuk mungkin mitos-mitos yang pernah ada,” kata Adi. Menurut Adi, terkadang masyarakat lebih mudah digerakan oleh isu dan mitos yang pesannya positif ketimbang masyarakat dijejali dengan ancaman dari peraturan dan undang-undang. “Masyarakat banyak yang lebih suka mencermati polah masyarakat itu sendiri lewat komik ataupun cerita-cerita ketimbang statemen para pejabat” ucap Adi.

Usulan menarik lainnya yang dilontarkan oleh Kang Adi adalah mengubah istilah dalam sosialisasi ke masyarakat, seperti kalimat “Jangan buang sampah sembarangan”, diubah menjadi “Simpanlah sampah pada tempatnya“. Kedua kalimat tersebut menurut Kang Adi bertujuan sama, namun rasa penerimaannya yang berbeda.

Shahadat Akbar dari media edupublik.com saat memberikan usulannya di pertemuan komunitas Jurnalis Peduli Citarum Harum, (12/2/2018).
Shahadat Akbar dari media edupublik.com saat memberikan usulannya di pertemuan komunitas Jurnalis Peduli Citarum Harum, (12/2/2018).

Lain halnya usulan Bagoes dari arcom.co.id, “Sekarang sudah jaman digital, sosialisasi kita bisa kembangkan di media sosial. Kita buka akun terkait program Citarum Harum ini, selain produk jurnalistik kita bagikan kesana, begitupun dengan sentilan-sentilan,” ucap Bagoes.

Ia juga menyoroti tentang limbah rumahan yang jumlahnya mungkin lebih besar dari yang dibuang oleh perusahaan, “edukasi dan kontrolnya harus menyeluruh, jika masyarakat masih ada yang membuang sampahnya ke kali atau ke sungai, berarti masih ada sistem yang harus dibenahi. Sampah rumahan dan pedagang makanan atau pasar bila terus menerus, bisa menumpuk di sungai,” kata Bagoes lagi.

Acara diskusi tersebut berlangsung lancar dan interaktif. Semua perwakilan media yang hadir menyuarakan usulan, kritik dan masukannya.

Salasatu poin yang disepakati pada pertemuan pertama itu, diputuskan bahwa media yang tergabung didalam Jurnalis Peduli Citarum Harum akan turut membantu menyelenggarakan even-even edukasi ke tengah masyarakat sekaligus membangun sentral informasi. [*]

Jurnalis Peduli Citarum Harum

Comments

comments