Samba Sunda Sajikan Konser Spektakuler 25 Tahun Berkarya

oleh
Samba Sunda

SOROTINDONESIA.COM, BANDUNG,- Kelompok yang berbasis alat musik dan kesenian tradisional Jawa Barat, Samba Sunda, menggelar konser bertajuk ‘Taramurag’ untuk memperingati 25 tahun karyanya menapaki kancah musik nasional dan internasional.

Konser yang digelar di kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Jl Buah Batu kota Bandung, Sabtu (25/2), ini digagas dalam upayanya juga meningkatkan geliat apresiasi masyarakat terhadap musik tradisional.

Samba Sunda

Dalam setiap karyanya Samba Sunda menampilkan pesona instrumen-instrumen daerah yang sebagian besar dipengaruhi oleh sentuhan kebudayaan Sunda seperti gamelan, degung, kecapi suling dan angklung yang dikolaborasikan dengan instrumen atau alat musik dunia (keyboard, drum, gitar) dan alat musik tradisional lain. Dari kolaborasi itu tercipta musik orkestra yang sangat mengagumkan.

Samba Sunda yang dikomandoi oleh composer multi-instrumentalist Ismet Ruchimat mengawali karirnya pada tahun 1989, musik yang ditawarkan berwarna etnik yang eksotis.

Dalam sekapur sirihnya, Samba Sunda dinilai meraih sukses besar pada debutnya di Eropa pada tahun 2003. Dan pada tahun 2005 mengeluarkan rekaman internasional yang dirilis di seluruh dunia pada jaringan label ternama dari Jerman.

“Beberapa waktu sesudah pembentukan SambaSunda (Sebelum 1998 dikenal bernama Prawa) kami sempat berpencar dan mengamen di beberapa tempat untuk mencari pendanaan buat rekaman”, ujar Ismet mengisahkan di sela konsernya.

Kini Samba Sunda telah menjadi fenomena lokal yang telah melejitkan nama Indonesia di kancah musik internasional. Bahkan saat ini SambaSunda telah meregenerasi dengan dibentuknya Samba Sunda junior.

Iman Soleh, Direktur Eksekutif Seni Bandung #1 menyebutkan pada komentarnya, “Tidak banyak kelompok musik (tradisional) yang mampu bertahan dengan nafas panjang, dan walaupun dibeberapa penampilannya di padu dengan musik modern namun tidak kehilangan kesundaannya”, ujarnya.

“Banyak kelompok musik berbasis budaya lokal justru rontok di langkah kedua, tapi Samba Sunda justru telah menapaki langkah ke duapuluhlima, kini mereka telah memiliki wajahnya sendiri”, imbuh Iman.

Pada konsernya di Taramurag, SambaSunda membawakan karya-karyanya yang spektakuler diantaranya Bubuka, Balebat, Kembang Gadung, Bajidor Kahot, Song for Kuwu, Sailing Home, Campur Sare, Bulan di Priangan, Tara Murag, Tara Karoris, Tongtolang, dan terakhir Magic Skin. Ikut meramaikan penampilan pada malam itu, penyanyi Samba Sunda Ella Nurlaela dan Rita Tila, serta penyanyi dari Samba Sunda Junior yakni Mayang dan Dilla serta lima orang penari.

“Jendela paling luas di dunia ini adalah pak Gugum Gumbira”, kata Ismet diakhir penampilannya.

Beberapa album rekaman yang sudah diluncurkan oleh SambaSunda diantaranya Sundanesse Healing, Reggae and Reggoe, Takbiran SambaSunda, Takbiran dan Sholawat, Bali Jaipong, Seventh Sense, Sabilulungan Millenium, dan Salsa and Salse. (Stanly)

Comments

comments