Saluran Pembuangan Limbah Tri Gunawan Dan Sariyunika Jaya Ditutup Satgas Citarum Sektor 21

oleh
Penutupan Saluran Pembuangan Limbah PT Tri Gunawan dan PT Sariyunika Jaya, Kota Cimahi.

CIMAHI,- Perusahaan tekstil PT Tri Gunawan dan PT Sariyunika Jaya yang keduanya terletak di kawasan Jalan Leuwigajah, Kota Cimahi, lubang pembuangan limbahnya ditutup oleh Satgas Citarum Sektor 21 yang dipimpin langsung oleh Dansektor Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama jajaran yang didukung oleh elemen masyarakat relawan bela alam dan LSM PMPRI, Selasa (3/7/2018).

Dua perusahaan tersebut diketahui oleh jajaran Satgas Citarum telah membuang limbah kotornya ke aliran sungai.

Menariknya, perwakilan PT Tri Gunawan, Jaenal dan Herman, saat Dansektor 21 serta jajaran berkunjung ke perusahaan tersebut awalnya sempat berkilah bahwa perusahaannya telah membuang limbah kotor sambil menunjuk ke saluran pembuangan limbah pabrik yang aliran airnya jernih. Bahkan mereka berdalih temuan Satgas Citarum yang melihat limbah kotor beberapa hari sebelumnya, disebabkan perusahaan sedang membersihkan saluran air.

Namun, ditunggu sekitar satu jam dilokasi, warna air limbah yang mengalir keluar dari PT Trigunawan mulai berubah warna dan mengeluarkan bau. Akhirnya Satgas Citarum Sektor 21 memutuskan untuk menutup saluran pembuangan limbah PT Tri Gunawan. Pertama kali, ada dua titik saluran yang ditutup dengan cara dicor. Tidak lama setelah itu, jajaran Sektor 21 menutup kembali saluran air utama perusahaan tersebut, pasalnya ditemukan oleh jajaran Sektor 21 Satgas Citarum saluran lain yang yang ditengarai sebagai saluran “siluman” yang mengarah langsung ke saluran utama yang menyatu dengan pembuangan air hujan.

“Beberapa pabrik sudah kedapatan oleh kita Satgas Citarum Harum, membuang limbah masih dalam keadaan kotor. Hari ini kita datangi pabriknya, dengan harapan komitmen dari pemiliknya. Saat ini terpaksa dengan berat hati saluran pembuangan limbahnya kita tutup dulu supaya tidak mencemari lingkungan sekitarnya,” kata Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat dihadapan pemilik pabrik, Andrew, dan elemen masyarakat serta awak media.

Menyinggung alasan-alasan yang disampaikan oleh perwakilan perusahaan sebelumnya, Yusep menjelaskan, “Sekitar jam 10.00 Wib tadi kita sempat berdiskusi atau berdebat dengan staf bapak (sambil melirik kepada Andrew), Jaenal dan Herman, bahwa air berwarna hitam yang ditemukan oleh Satgas Citarum adalah air dari hasil pembersihan parit, maka keluarnya hitam. Kita cek, benar, parit baru dibersihkan. Maka saya ingin bertemu dengan pemilik pabrik untuk meminta komitmennya bekerjasama dengan Satgas Citarum, agar air limbahnya sama dengan yang dibuang seperti tadi pagi. Tapi ternyata baru sekitar satu jam menunggu, sudah berwarna. Jadi kita tutup dulu saluran pembuangan limbahnya, silahkan pihak pabrik memperbaiki IPAL-nya. Jika sudah baik, silahkan hubungi saya, dan saya akan hubungi rekan-rekan wartawan dan elemen masyarakat, untuk menghindari kecurigaan, sehingga saat penutupan dan pembukaan kita akan tau semua,” urai Yusep.

“Kami menutup saluran pembuangan limbah ini, sesuai amanat dari Perpres No. 15 tahun 2018 yakni untuk melokalisir sumber pencemaran lingkungan. Tugas kami, TNI AD, adalah untuk segera memulihkan kondisi ekosistem di DAS Citarum,” terang Yusep.

Menanggapi ini, pemilik PT Tri Gunawan, Andrew, mengatakan, “Secepatnya kami akan memperbaiki, kami saat ini menggunakan jasa konsultan, hasil konsultasi awal kami akan memperbaiki filter,” kata Andrew.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Investigasi LSM PMPRI, Arif, mengungkapkan bahwa pihaknya menemukan drainase di PT Tri Gunawan masih tercampur dengan pembuangan limbah. Selain itu batubara masih disimpan di tempat yang terbuka, yang berpotensi pasir dari batubara ini bisa terbawa oleh air hujan, dan tentunya akan mengalir ke sungai. “Kita tadi sudah memberikan masukan kepada pengelola limbah disini, agar saluran dipisahkan antara air hujan dan air limbah. Selanjutnya adalah penempatan batubara, supaya pasirnya tidak terbawa air hujan. Disampaikan bahwa pihak pabrik akan menambah sekitar dua unit filter. Namun filter ini tidak bisa dibangun dalam jangka waktu 2 hari, maka akan mengoptimalkan saluran filtrasi. Saya memberi masukan agar dibuatkan saluran baru dari backwash menuju ke inlet. Sambil menunggu filter yang baru, saluran yang ada baiknya di renovasi kembali,” terang Arif.

Direktur Utama PT Sariyunika Jaya Janjikan Perbaikan IPAL Dalam Dua Hari

PT Sariyunika Jaya, Kota Cimahi.

Setelah menutup saluran pembuangan limbah PT Tri Gunawan, jajaran Sektor 21 Satgas Citarum berpindah tempat ke PT Sariyunika Jaya.

“Kita melakukan pengecekan pembuangan limbah PT Sariyunika Jaya pada hari sabtu, kondisinya berwarna. Hasil dari penelusuran anggota Satgas Citarum,” ungkap Dansektor 21 Kolonel Yusep Sudrajat dihadapan Direktur Utama PT Sariyunika Jaya, Rudi Usman, dan elemen masyarakat dan awak media.

“Sekarang kita tutup lubang pembuangan limbahnya, terserah berapa lama pabrik akan memperbaiki kualitas IPAL-nya. Tergantung komitmen dari pemilik perusahaan,” kata Yusep setelah menjelaskan tugas dan fungsinya serta kewenangannya sebagai Dansektor Satgas Citarum Harum. “Saya ingatkan pengelola limbah jangan kucing-kucingan membuang limbah, jika saya temukan itu, saya pastikan saya akan ajukan untuk proses hukum,” tegas Yusep.

Pantauan sorotindonesia.com di lokasi, saluran pembuangan limbah pabrik ini ada dua titik. Mirisnya, menurut informasi yang didapat, satu titik dibuat oleh pihak pabrik dengan melubangi bak limbah yang bersebelahan dengan aliran sungai. Namun lubang yang pada tanggal 1 Juli 2018 kemarin ditemukan oleh jajaran Satgas Citarum sedang membuang limbah, pada hari ini sudah ditutup sendiri oleh pihak pabrik dengan cara disumpal.

Titik lubang pembuangan limbah lainnya akhirnya ditutup oleh jajaran Sektor 21 dengan cara dicor.

Menanggapi penutupan saluran pembuangan limbah ini, Rudi Usman yang baru seminggu menjabat Direktur Utama PT Sariyunika Jaya mengungkapkan, “Ya ini kami terima sebagai langkah perbaikan, dan akan menjadi bagianĀ main program dari perusahaan ini juga. Terutama hal ini kan sensitif dan merupakan concern pemerintah untuk memperbaiki DAS Citarum. Kita tentu akan ikuti, dan kita mungkin butuh satu atau dua hari untuk perbaikannya. Sambil perbaikan, sementara kita akan menghentikan dulu aktivitas produksi,” kata Rudi Usman. [St]

Comments

comments