Saluran Pembuangan Limbah Ditutup Satgas Citarum, PT Pranata Jaya Abadi Komitmen Benahi IPAL

oleh
Komitmen PT Pranata Jaya Abadi (PJA) terkait dengan pembenahan IPAL yang dilakukan pihaknya untuk mendukung Citarum Harum dihadapan Dansektor 21 Satgas Citarum Harum, perwakilan elemen masyarakat, dan awak media, Senin (11/6/2018).
Komitmen PT Pranata Jaya Abadi (PJA) terkait dengan pembenahan IPAL yang dilakukan pihaknya untuk mendukung Citarum Harum dihadapan Dansektor 21 Satgas Citarum Harum, perwakilan elemen masyarakat, dan awak media, Senin (11/6/2018).

BANDUNG,- Setelah saluran pembuangan limbah PT Pranata Jaya Abadi (PJA) ditutup oleh jajaran Satgas Citarum Harum Sektor 21 pada tanggal 2 Juni 2018 lalu dikarenakan beberapa kali dipergoki membuang limbahnya tanpa melalui pengelolaan IPAL yang memadai ke aliran sungai, akhirnya pemilik perusahaan, Lukman, didampingi jajaran stafnya menemui Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat untuk melaporkan pembenahan IPAL yang telah dilakukan pihak perusahaan.

Pertemuan yang dilaksanakan dalam suasana buka puasa bersama di Santika Hotel, Kota Bandung, pada hari, Senin (11/6/2018), dihadiri langsung oleh pemilik pabrik, Lukman, didampingi jajaran stafnya, Dansektor 21 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, elemen masyarakat dari LSM PMPR Indonesia, dan sejumlah awak media.

Dijelaskan oleh Dansektor pada kesempatan tersebut, tindakan menutup lubang pembuangan limbah PT PJA oleh jajarannya, semata untuk melindungi dan menjaga ekosistem disekitarnya dan Sungai Citarum. “Kita menjalankan tugas berdasarkan Perpres No. 15 tahun 2018 tentang percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum,” kata Yusep diawal penjelasannya.

“Kami mendapat tugas mengembalikan ekosistem seperti dulu lagi, bisa digunakan oleh masyarakat untuk aktifitas sehari-hari,” imbuhnya.

Lebih lanjut Kolonel Inf Yusep Sudrajat menerangkan bahwa pihaknya dengan tindakan menutup lubang pembuangan limbah itu bukan dimaksudkan untuk mempersulit pabrik, “Kepentingan kami adalah limbah yang keluar dari pabrik, itu yang harus kami jaga. Satgas hanya menjaga agar limbah kotor tidak mencemari wilayah masyarakat. Itu saja,” ujar Yusep. “Jika pihak perusahaan beroperasi dan limbahnya tetap kotor, limbahnya tidak dikeluarkan ke aliran sungai, dan hanya dilingkungan perusahaan, silahkan. Saya hanya melokalisir limbah kotor tidak merusak lingkungan sungai masyarakat,” tegas Yusep.

“Ini sudah saya sampaikan ke beberapa pemilik pabrik, agar kita bisa klop untuk bekerjasama mengembalikan kebersihan aliran anak sungai dan aliran induk Sungai Citarum,” tambah Yusep.

“Saya bekerja tidak melihat kebelakang, kita lakukan yang saat ini untuk masa depan. Ayo, sama-sama kita perbaiki kualitas limbahnya, kita sama-sama perbaiki ekosistem diluar wilayah pabrik,” ajak Yusep kepada jajaran perusahaan PT PJA.

Terkait dengan pihak PT PJA yang berkeinginan cor yang dipasang di lubang pembuangan limbahnya, Kolonel Yusep menjelaskan, “Meski saya perhatikan kualitas limbahnya sekarang terlihat bagus, tapi saya tidak bisa putuskan sendiri, kita perlu lihat pembuktiannya di lapangan oleh rekan-rekan dari elemen masyarakat, LSM dan wartawan. Jika pembenahan itu sudah sesuai dan tidak mencemari sungai, kita sepakati dibuka. Saya tidak mau putuskan sendiri, karena saya tidak mau dituding ada apa-apa dengan pihak pabrik. Itu yang saya hindari,” kata Yusep.

“Kita harus fair, semua harus ikut kontrol dan mengawasi,” ujarnya. “Setelah dibuka dan diketahui ada limbah kotor yang keluar, tentu kami juga tidak akan segan untuk menutupnya kembali,” tegas Yusep yang pernah dikatakannya saat bertemu dengan pihak PT Sinar Pangjaya Mulia beberapa waktu lalu.

Menanggapi yang dijelaskan oleh Kolonel Inf Yusep Sudrajat, pemilik PT PJA, Lukman, mengatakan, “Kami akan melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada, untuk kedepannya mudah-mudahan akan lebih baik lagi,” kata Lukman, singkat.

Dilanjutkan oleh konsultan PT PJA, Yusman, “Saya kebetulan diminta oleh Pak Lukman untuk membantu optimalisasi IPAL yang ada di PJA. Sebetulnya selama ini tidak ada masalah, jadi saat saya dengar PT PJA lubang pembuangan limbahnya ditutup, saya kaget, dan saya sampaikan ke Pak Mulfi (penanggungjawab limbah PT PJA), apa benar? karena yang saya tau tidak ada masalah,” tutur Yusman.

“Perlu diketahui bahwa IPAL di PJA sudah berjalan, proses yang digunakan adalah kimia dan fisika, dan ada beberapa peralatan pengolahan limbah termasuk qualifier. Terjadinya peristiwa waktu lalu, ada kemungkinan operator yang salah membubuhkan obatnya, seperti zat kimianya kurang. Untuk perbaikannya kemarin saya sudah coba jalankan, kita menambahkan alat, yang tadinya satu sekarang menjadi dua agar hasilnya lebih optimal. Dan kami periksa kemarin sudah baik,” jelas Yusman.

Diungkapkan lagi oleh Yusman, untuk meminimalisir human error, terutama di shift-shift malam, misalkan kimia lupa dicampurkan sehingga kehabisan karena operator ketiduran. “Kita sudah diskusi dengan Pak Lukman agar hal tersebut tidak terjadi lagi. Sehingga mau tidak mau harus pasang mesin baru. Kita pasang dosing pump, untuk menghindari terjadinya human error,” ungkapnya. “Untuk hasil yang lebih optimal lagi, secara bertahap akan menambah sistem biologi,” imbuhnya.

Dikesempatan terpisah, Direktur Investigasi LSM PMPR Indonesia, Arif Nurcahyo, ST., saat melakukan pengecekan ke lokasi IPAL PT PJA sebelum dibukanya cor penutup pembuangan limbah menjelaskan, “Pihak PT Pranata Jaya Abadi kini sudah membenahi sistem IPAL, mereka telah memodifikasi jalur lintasan IPAL dan memasang dosing pump yang merupakan alat pengatur kadar kimia yang seragam selama 24 jam untuk mengurangi terjadinya resiko human error pada pencampuran katalis, yang dimaksudkan untuk mendapatkan hasil seragam dibawah standar baku mutu,” jelas Arif kepada sorotindonesia.com.

Lebih lanjut diceritakan oleh Arif, “Selain modifikasi jalur IPAL dan penambahan alat baru, pihak perusahaan juga mengganti dan menambah toren (tong air) yang lama dengan yang baru dan kapasitas yang lebih besar. Dari bak kontrol yang berisi ikan hidup yang menggunakan air hasil trial sistem IPAL, terbukti ikan masih bisa bertahan selama 5 hari, ini membuktikan bahwa air tersebut layak untuk dibuang ke sungai. Secara teori dan check lapangan, air pengolahan IPAL ini layak untuk dibuang ke sungai atau bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain seperti perikanan dan pertanian,” kata Arif menerangkan.

Arif juga memberikan catatan kepada pihak PT PJA, salasatunya meminta agar dibuatkan saluran pembuangan limbah yang baru untuk mengganti saluran pembuangan yang lama. “LSM PMPRI merekomendasikan pabrik untuk membuat saluran baru mengganti saluran lama yang di cor Satgas Citarum Harum Sektor 21. Alasannya, penempatan saluran tersebut harus berada diatas permukaan air, dan ketika kondisi sungai meluap (banjir). Ini memungkinkan petugas mudah melakukan inspeksi pembuangan air hasil pengolahan limbah,” pungkas Arif. [St]

Rencana jalur baru outlet limbah PT Pranata Jaya Abadi
Rencana jalur baru outlet limbah PT Pranata Jaya Abadi (PJA)

Comments

comments