Ridwan Kamil Tutup Gelaran Seni Bandung #1

oleh

BANDUNG – Gelaran satu bulan penuh acara Seni Bandung #1 yang telah dimulai sejak dari tanggal 25 September 2017 lalu, tadi malam berakhir sudah, dan ditutup oleh Walikota Bandung Ridwan Kamil dan dilanjutkan dengan pertunjukan wayang golek yang dibawakan oleh dalang Opick Sunandar Sunarya di Cikapundung River Spot, Kamis (25/10/2017). 

Pagelaran wayang golek pada rangkaian penutupan Seni Bandung #1 yang ditutup Ridwan Kamil

Dibawah cuaca malam yang adem khas Kota Bandung, Walikota Bandung yang didampingi Kepala Disbudpar Kenny Kaniasari, menyatakan rasa bangganya kepada jajaran penyelenggara dan pelaksana Seni Bandung #1, “Hari ini kita belajar, walaupun gelaran Seni Bandung #1 tergopoh-gopoh tapi hasilnya 97 persen terlaksana dari 688 acara yang direncanakan. Saya belum pernah dengar ada kegiatan selama 30 hari dan menampilkan 680-an gelaran. Dan kita punya awalnya punya keyakinan, seni jangan didominasi, acara Seni Bandung #1 disebar di 48 lokasi, dari gallery yang mewah, kolong jembatan, sisi jalan dan juga pasanggrahan. Seni yang ditampilkan pun beragam, dari seni yang ekspresif sampai seni yang tradisi,” urai Ridwan Kamil. 

“Kata siapa jaman kita tidak melahirkan tradisi? Nah, hari ini kita menciptakan tradisi, Insya Allah, maka siapapun senimannya, kepala dinasnya, walikotanya, Seni Bandung ini harus lestari,” ujar Ridwan Kamil dan disambut aplaus dari segenap hadirin. 

Menurut Ridwan Kamil, tujuan dari Seni Bandung ini adalah agar warga Bandung memiliki peradaban dan pemikiran yang luar biasa, “Saya tidak ingin warga Bandung hanya jadi binatang ekonomi, yang hidup hanya melulu untuk mencari uang, sehingga lupa bahagia, lupa berbagi, lupa berkarya dan lupa berapresiasi,” ucap Ridwan Kamil.

Dijelaskan oleh Ridwan Kamil lebih lanjut, “Di Bandung itu cari penghidupan dan ekonomi adalah penting, tapi harus ada jeda, jeda fisik dan jeda fikir, ada taman dan berkesenian. Kalau otak diperas terus kan capek, maka berhentilah sejenak dengan menonton kesenian secara visual dan mendengar kesenian musikal. Ruang ini (sambil menunjuk taman air macur Cikapundung River Spot) akan menjadi kosong bila tidak di isi. Ini adalah bagian tradisi menghidupkan ruang jeda ini supaya diisi oleh kita,” jelasnya.

Ridwan Kamil dikesempatan itu sekaligus berpamitan pada jajaran di Seni Bandung, “di Seni Bandung #2 saya bukan lagi Walikota Bandung, siapapun walikotanya ke depan, Seni Bandung tidak boleh berhenti,” pesan Ridwan Kamil. 

Pada seremoni penutupan acara Seni Bandung #1 yang dihadiri oleh Satria, Iman Soleh, Heru Hikayat, Syarif Maulana dan segenap jajaran Seni Bandung lainnya, diserahkan cinderamata kepada Ridwan Kamil termasuk gugunungan wayang sebagai pertanda Seni Bandung #1 di tutup dengan gelaran wayang. 

Ridwan Kamil saat menerima cinderamata dari jajaran Seni Bandung

Dikesempatan terpisah, dari rilisnya tim kurator musik Seni Bandung #1 Syarif Maulana, Ismet Ruchimat dan 
Budi Dalton, mengucapkan terima kasih pada pihak-pihak yang telah berpartisipasi di Seni Bandung, yaitu sebagai berikut, Lokasi Pertunjukan: Braga Permai, Butterfield Kitchen, Café Halaman, Cikapundung River Spot, Dalem Kaum, Ditto Ditty Stage, Garasi JJOK, Kantinasion, Kebun Seni Tamansari, Ruang Putih, TP Stage, Taman Cikapayang Dago, Teras Cihampelas.

Komunitas: Fals Mania Lintas Indonesia, Jazzuality, Kelompok Penyanyi Jalanan, KlabJazz, Rumah Musik Harry Roesli.

Institusi Pendidikan: Institut Seni Budaya Indonesia Bandung, Universitas Pasundan, Universitas Pendidikan Indonesia, Sekolah Tinggi Musik Bandung.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada penampil, diantaranya, 4Peniti, AFA Trio, Agis Kania, Akustikiller, Ammy Kurniawan Band, Animé String Orchestra, Animé String Quartet, Ari Renaldi, Ary Juliyant, Audiomotif, Balada Rahyang Dewata, Bayu Kristanto Trio, Bedug Biru, Billy de Kids, Blues Libre, Chad Lefkowitz-Brown, Cupumanik, Curly & Me, D’Kodels, Dhira Bongs, Dicky Setiawan, Ditto Ditty, Ethniprogressive
Garamerica, Hamigos VG, Idang Rasjidi, Infamy, Jasad, Jazzy Juice,
Jempol Jenthik Orkes Keroncong, Jon Pasisian, Juan / Jason Project, Karinding Attack, Keroncong 7 Putri,
Kloppass Band, Komunitas Penyanyi Calung (KOMPAC), Krishnan Mohamad Project, Log Sanskrit, Lungsuran Daur, Madame & Toean, Nayra Dharma Group, Nectura
New Blood, Nico Ajie Bandy, Nissan Fortz & The James Band, Orkes Keroncong Midaleudami, Orkes Keroncong Parahyangan, Orkes Keroncong Pasundan, Orkes Keroncong Purna Praja Mustika, Paberik Bambu, Paparazi, Parahyena, Pemuda Harapan Bangsa, Pemuda Pemudi Pecinta Koplo, Pianistic Plays, Thelonious Monk, Rita Tila, Romy & Friends, Rudy Zulkarnaen, Salamander Big Band, Sambasunda, Saratus Persen, Sasadana, She Revelation, Simak Riza Arshad, Stimband, Street Nikami, THE BFG, Tatangga Jendral, The Little Lizard, The Old Coffee, The Panas Dalam, Tiwi Shakuhachi, Vico & Friends, West Java Syndicate, Yayan Djatnika, Yayan Katho, Yopi Nafis Trio,
Yuri Mahatma, Zaki Peniti.

Pada gelaran penutupan Seni Bandung ini juga menghadirkan pameran foto-foto Seni Bandung #1, penampilan musik dari Jon Pasisian dan Juan / Jason Project, selain pertunjukan wayang golek “Somantri Ngéngér” dari Opick Sunandar Sunarya. (St)

Comments

comments