Petani Adalah Penolong Negeri

oleh
Kongkow Bareng Barisan Muda Nahdlatul Ulama (Barada NU) di Ponpes Miftahul Huda

Grobogan, [ Sorot Indonesia ] – KH. Hasyim Asy’ari pernah menyatakan bahwa Petani adalah penolong negeri. Bukan hanya dalam perannya sebagai produsen bahan baku makanan (padi), namun juga dalam sejarah perjuangan. Dari fakta sejarah perlawanan pada era Diponegoro hingga Kiai Rifa’i Kendal, kesemuanya berprofesi sebagai petani. Fakta lain, dalam sejarah Bung Karno, Marhaen berasal dari kaum petani. Dalam kepemimpinannya, semua program Soekarno pada umumnya bermuara dengan konsep pertanian. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Bidang Pertanian dan Pengembangan Desa PW GP Ansor Jawa Tengah, M Fadhlil Kirom dalam Kongkow Bareng Barisan Muda Nahdlatul Ulama (Barada NU) di Ponpes Miftahul Huda, Desa Ngroto, Gubug, Kabupaten Grobogan, Sabtu, (7/7/2018).

Dalam kesempatan tersebut, Fadhli juga menerangkan bahwa Syaikh Hasyim Asy’ari tak hanya berdakwah, namun juga turut mengembangkan desa melalui pertanian. Hal ini tertera juga dalam KTP Mbah Hasyim dinyatakan bekerja sebagai petani/guru agama, kata dia. Dia mengungkapkan kondisi dan pola yang ada pada saat itu berbeda dengan pemerintahan di masa orde baru.

“Berbeda dengan Soeharto yang mulai program top down, mengenalkan GBHN, Repelita, desa-desa diseragamkan, pembangunan yang meminggirkan desa, dan desa hanya menjadi objek” kata Fadhli. “Setelah reformasi, NU mereformulasikan pembangunan dari bawah, ini di era Gusdur,” tandasnya “Gus Dur mengenalkan dengan otonomi yang diadopsi juga saat ini lewat UU Desa. Namun, dana desa yang sudah ada dalam APBDes belum mampu menciptakan sumber daya, menghasilkan konsep tenaga kerja di desa, memandirikan desa,” terangnya. “Saat ini, hampir semua dana desa digunakan untuk infrastruktur,” ujarnya.

Selain itu, Fadhli juga mengingatkan, santri perlu kembali ke desa dan membangun perekonomian di desa, “Kalau kita tidak kembali ke kampung, maka kampung akan diisi kelompok yang lainnya,” tukasnya, “Kalau dulu, orang-orang Wahabi hanya ada di kampus-kampus, tapi saat ini hampir setiap desa sudah ada orang Wahabi, yang bercadar ataupun orang yang beraliran kanan,” kata dia menandaskan. Lebih dari itu, ia mengingatkan tentang pentingnya wirausaha santri, “Santri harus ikut dalam perputaran ekonomi pasar. Jiwa kewirausahaan santri harus tumbuh,” tegasnya, “Ada dua profesi yang memberikan berkah, pertama Ulama dan kedua Petani,” pungkasnya.

Sekretaris RMI NU Jawa Tengah, Dr Abu Choir menyatakan hal senada, program top down seperti BUMDes pada akhirnya tidak sesuai dengan target karena diterimanya berbeda dan tidak maksimal. Berbeda dengan program yang diciptakan oleh rakyat sendiri, kata Abu. Dia berharap pada golongan santri agar bisa kembali ke masyarakat, mengembangkan masyarakat dan menjadi duta. Dia menyoroti adanya missed link dalam hal tersebut, sehingga pada akhirnya santri kembali menjadi orang kota.

Menjawab pertanyaan Ketua PC IPNU Kota Semarang, Shibahul Khoir, Abu Choir menyatakan bahwa diskusi tentang pesantren di masa sekarang ini tidak cukup hanya dengan pesantrean tradisional dan pesantren modern ataupun pesantren campuran. Kata Abu, RMI sedang memikirkan bagaimana merumahkan kebutuhan pesantren-pesantren baru. Misalnya, dalam bentuk pesantren maritim, atau pesantren farming. Bahkan, kata dia, BNN menyatakan bahwa konsep terbaik rehabilitasi adalah model pesantren. Namun demikian, regulasi yang mesti dimunculkan tidak semudah itu.

Diterangkan, kegiatan yang digelar untuk turut memeriahkan Konferwil NU Jawa Tengah ini menghadirkan Dr. Abu Choir, Sekretaris PW RMI NU Jawa Tengah, M. Fadlil Kirom, Ketua Bidang Pertanian dan Pengembangan Desa PW GP Ansor Jawa Tengah, dan Sumardi, Tenaga Ahli Pendamping Desa Provinsi Jawa Tengah sebagai narasumber, dan dipandu oleh Ketua Umum PKC PMII Jawa Tengah, Arif Hidayat. (sorotindonesia.com/arh)

KH. Hasyim Ay’ari pernah menyatakan bahwa Petani adalah penolong negeri

Comments

comments