Pemuda Garda Terdepan Jaga Keutuhan Negara Dan Kedaulatan NKRI

oleh
Ketua FKPT Jateng, Dr. Drs. Budiyanto, SH. M.Hum., dalam Dialog Keagamaan dan Doa Kebangsaan yang digelar oleh DPD KNPI Kota Semarang di Krisna Room Hotel Siliwangi, Jalan MGR Soegijoprarono No. 61 Pendrikan Kidul Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (31/05/2018)
Ketua FKPT Jateng, Dr. Drs. Budiyanto, SH. M.Hum., dalam Dialog Keagamaan dan Doa Kebangsaan yang digelar oleh DPD KNPI Kota Semarang di Krisna Room Hotel Siliwangi, Jalan MGR Soegijoprarono No. 61 Pendrikan Kidul Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (31/05/2018)

Semarang, [ Sorot Indonesia ] – Kata Jihad dalam perpsektif damai memiliki makna bersungguh-sungguh dalam usaha membuat dunia ini menjadi baik, bukan bersungguh dalam berperang mengangkat senjata. Dalam lingkup kehidupan bernegara, jihad dimaknai dengan Cinta tanah air dan bangsa dengan upaya yang sungguh-sungguh memperjuangkan bangsa dan Negara. Itu diungkapkan oleh Ketua FKPT Jateng, Dr. Drs. Budiyanto, SH, M.Hum., dalam Dialog Keagamaan dan Doa Kebangsaan yang digelar oleh DPD KNPI Kota Semarang di Krisna Room Hotel Siliwangi, Jalan MGR Soegijoprarono No. 61 Pendrikan Kidul Semarang Tengah, Kota Semarang, Kamis (31/05/2018).

“Jadilah garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara, dan kedaulatan NKRI,” kata Budiyanto. “Karena Cinta tanah air adalah sebagian dari iman,” imbuhnya, “Kalimat ini memang sengaja ditanamkan para Ulama yang mendirikan Negara ini, jadi gejolak yang ada saat ini seolah sudah terbaca jauh sebelum Indonesia merdeka,” tegasnya di hadapan ratusan peserta yang hadir.

Mengusung tema Pemuda Sebagai Garda Terdepan Dalam Melawan Radikalisme, Dialog menghadirkan pula Ketua NBB (Nusantara Bangkit Bersatu), Prof. Dr. Pdt. Tjahjadi Nugroho. Dalam kesempatan tersebut, dia menegaskan bahwa teroris ini sejatinya perilaku kolaps, atau bangkrut. Karena itulah tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menciptakan rasa takut dan aksi teror. Untuk itu, dia berharap para pemuda meneguhkan Iman, menguatkan karakter bangsa, dan memiliki bekal ilmu yang bermanfaat bagi bangsa. Organisasi teror ini bukan Organisasi agama dan bukan berlandaskan agama, kata Tjahjadi, hanya mengatasnamakan Agama.

Tjahjadi berpendapat, IKI (Iman, Karakter, dan Ilmu) adalah bekal bagi pemuda saat ini dalam melawan radikalisme-terorisme. Pendidikan agama mesti dengan pemaknaan yang betul. Menurutnya, pendidikan dari tingkat keluarga sampai pemerintah harus terselenggara pendidikan agama yang sesuai dengan bingkai dan karakter bangsa. Dengan ilmu yang benar tentunya akan terhindar dari penipuan, dan tidak tersesat dalam mengarungi kehidupan.

Menjawab pertanyaan peserta, Budiyanto mengungkapkan secara de facto, nilai-nilai Pancasila telah ada sejak ratusan dan bahkan ribuan tahun sebelum Negara ini terbentuk. Para pendiri bangsa ini berusaha menggali nilai-nilai tersebut sebagai rumusan dasar Negara, dan secara de jure Pancasila disepakati sebagai ideologi, dasar bangsa Indonesia. Bangsa ini sudah menyadari, dan menghayati tentang ketuhanan sebelum Agama-agama muncul di Indonesia. Hal ini, menurutnya, menunjukkan pada hakikatnya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang religius, bangsa bijaksana yang mengerti nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, permusyawaratan, dan keadilan sosial.

Menutup dialog, Ketua Umum DPP IKA UNNES ini menegaskan, Saat ini memang sudah tak ada Penataran P4, tapi bukan berarti Pancasila kita lupakan dan tinggalkan. Pancasila ini ideologi bangsa yang harus dihayati, dijiwai, dan menjadi pedoman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di mana pun. Selama bangsa Indonesia mengamalkan Pancasila secara konsisten, maka bangsa Indonesia akan menjadi negara yang besar dan yang kuat. (sorotindonesia.com/arh)

Comments

comments