Pemerintah Dituntut Serius Memperhatikan Situs Budaya Dan Mata Air

oleh -

BANJAR, ( SI ) – Situs Budaya dan Mata air yang ada di Kota Banjar perlu perhatian serius dari Pemerintah dan Perhutani untuk melestarikannya. Aliansi Peduli Kota Banjar ( APKB ), dalam hal ini memprotes Perhutani dengan adanya hutan produksi yang ada di kawasan Gunung Sangkur dan Gunung Babakan.

Menurut Ketua Aliansi Peduli Kota Banjar ( APKB ), Asep, sekaligus anggota Dewan Walhi Jawa Barat pada hari, Senin ( 28/08/2017 ), mengatakan, ini adalah bagian advokasi terhadap Gunung Sangkur dan Gunung Babakan, yaitu pemetaan wilayah mata air dan situs karuhun, ungkapnya.

Mata air produktif walau hutannya di tebang tapi airnya di gunakan warga, bisa di bayangkan apabila selokan tidak ada air, sungai jadi lapangan, mata air kering, tidak berguna bendungan, waduk, jembatan, dan pembangunan infrastruktur lainnya yang bersifat kontruksi, oleh karena itu dapat APKB pastikan Banjar akan mengalami kelangkaan air bersih, terutama wilayah yang berbatasan dengan kawasan hutan, jelasnya.

Lanjut Asep, karena pohon penyuplai air di tebang, padahal pengguna air sangat besar di masyarakat baik itu untuk MCK, kolam ikan dan pesawahan, jelas Asep.

Asep juga menambahkan, sementara itu situs karuhun banyak yang tidak terawat dan tidak memiliki Juru Kunci, sangat kontras dengan anggaran atau APBD maupun APBDES yang sangat fantastis, DPRD dan Walikota harus memikirkan solusinya, tambahnya.

Menurut APKB, menyuplai air itu bukan solusi, menurut APKB solusi terbaik itu mengutuhkan pepohonan disekitar mata air, jika status Gunung Sangkur dan Gunung Babakan masih sebagai hutan produksi, maka pihak Perhutani bisa menebang, jelasnya.

Maka alih status Gunung Sangkur dan Gunung Babakan itu sebuah kewajiban, agar mata air pulih seperti dulu, sementara ada pihak yang membisniskan air untuk meraih keuntungan besar, kontras dengan kepentingan masyarakat yang hanya butuh air untuk kehidupan, masyarakat tidak membisniskan air demi keuntungan, imbuh Asep.

Lebih lanjut Asep menjelaskan, Cagar Budaya atau Situs Karuhun, hanya pinggir gunung yang mendapat perhatian Pemerintah, sedangkan yang ada di kawasan hutan itu tidak ada perhatian, Perhutani sebagai penguasa kawasan hutan tidak memperhatikan Cagar Budaya, tidak heran jika Cagar Budaya itu kotor dan dipenuhi rumput hutan, tidak bernama, tidak memiliki akses, dan tidak memiliki Juru Kunci, jelasnya.

Berbagai kekurangan Cagar Budaya dikawasan tersebut, APKB melihat kalau tidak segera ditangani oleh Pemerintah Kota, Cagar Budaya tersebut akan segera punah, Perhutani dilarang melakukan penebangan dikawasan hutan lindung, dan APKB meminta Perhutani untuk membuka data luas kawasan hutan lindung di Gunung Sangkur, banyak mata air yang sudah tidak berair, karena dampak penebangan, ada rawa beralih jadi hutan, terang Asep.

Salah seorang warga dikawasan Gunung Sangkur mengiyakan, dulu masih jadi hutan lindung daerah Lakbok saja suplai airnya dari mata air yang ada di Gunung Sangkur, kalau sekarang untuk wilayah Kota Banjar saja gampang dilanda kekeringan, ungkap Yayat. 

APKB saat meninjau situs budaya, hutan dan mata air di gunung sangkur dan gunung babakan

( Herman )

Comments

comments