Mengagumkan, Pancasila Dan Kebhinekaan

oleh

SOROTINDONESIA.COM, Klaten – Manusia dalam sebuah wilayah memiliki hukum adat tersendiri. Nilai norma yang tak dapat digeneralisasikan dan diformalkan begitu saja. Nilai-nilai yang dikembangkan menghasilkan kepatuhan yang tidak dapat dengan mudah dirasionalkan.

Aspek etik-estetis dan religiusitas yang tak terbatas hanya pada penekanan dogmatik mampu melahirkan suasana harmonis yang mengedepankan asas humanis.

Nusantara dalam sejarahnya mengajarkan banyak hal yang menarik perhatian dunia hingga kini. Wisatawan tak hanya menikmati panorama alam, namun juga menikmati suguhan tradisi simbolik. Beda suku, lain bahasa, ragam budaya dengan sesuatu yang khas ala nusantara menjadi pustaka dunia. Pun demikian halnya dengan sisa-sisa perjuangan para pahlawan pendiri Negara. Menanamkan nilai-nilai yang telah ada dalam Pancasila sebagai naskah dasar Negara Indonesia.

Pancasila dilahirkan setelah melalui proses panjang di mana penerimaan semua tokoh agama pembentuk Negara menyepakati bentuk Negara demokrasi yang berketuhanan dan bukan Negara agama. Mengembalikan persoalan keagamaan pada metode berfikir mencari Tuhannya tanpa mempersoalkan siapa dengan hanya merujuk pada keEsaan. Nilai-nilai transendetal pada tiap silanya dijabarkan dengan butir-butir yang menegaskan keutuhan bangsa yang majemuk, bangsa yang plural. Bhineka tunggal ika.

Mempersatukan perbedaan yang ada di Negara yang plural ini tidaklah mudah. Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah Dr Drs Budiyanto SH H Hum dalam kegiatan Pemasyarakatan dan Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila bagi Kalangan PTN/PTS dan Pendidik di Hotel Cokro, Jalan Pemuda, Klaten, menyatakan Pancasila dan bhineka tunggal ika dikagumi oleh dunia, Senin (7/8).

“Biarlah perbedaan yang ada di masyarakat tetap berlangsung, yang penting dari perbedaan itu jangan muncul pertentangan,” ujar Budiyanto. Dia menilai penggerusan suasana harmonis yang terjadi di Indonesia banyak dipicu dari lemahnya sistem filter budaya yang mana hal tersebut mempermudah masuknya ideologi asing, ideologi yang bukan ciri khas bangsa Indonesia.

Budiyanto menegaskan bahwa hal ini tidak boleh dibiarkan dan harus segera diambil langkah penyadaran dan manuver-manuver. Membuat jarak dan terlebih lagi mempertentangkan perbedaan harus secepatnya diakhiri, intoleransi harus dilawan secara humanis sebagaimana para pendiri bangsa ini mempersatukan dan menjaga nilai-nilai luhur dalam satu bingkai ‘Bhineka tinggal Ika. (arh)

Comments

comments