Mayjen TNI Doni Monardo Serahkan Penghargaan Kepada Insan Pers Dan Pegiat Lingkungan

oleh
Mayjen TNI Doni Monardo dan Mayjen TNI Besar Harto Karyawan di Acara Silaturahmi serta pemberian penghargaan kepada Insan Pers dan Pegiat Lingkungan

BANDUNG,- Mayjen TNI Doni Monardo tinggal hitungan jam lagi akan meninggalkan pos tugasnya sebagai Pangdam Siliwangi yang baru diembannya selama 4 (empat) bulan. Untuk selanjutnya jenderal bintang dua tersebut akan beranjak mengisi pos barunya sebagai Sesjen Wantannas, Dewan Ketahanan Nasional RI.

Sebelum meninggalkan jabatannya sebagai Pangdam Siliwangi, Mayjen TNI Doni Monardo berkesempatan menggelar kegiatan silaturahmi sekaligus memberikan piagam penghargaan kepada insan media dan pegiat lingkungan yang selama ini berdedikasi kepada program Citarum Harum yang dicanangkannya. Acara tersebut dilaksanakan di Aula Silih Wangi Makodam III/Siliwangi, Jl Aceh, Kota Bandung, Selasa (20/3/2018).

Ikut hadir pada kegiatan silaturahmi tersebut Mayjen TNI Besar Harto Karyawan, yang akan menggantikan posisi Mayjen TNI Doni Monardo sebagai Pangdam Siliwangi, para pegiat dan organisasi lingkungan, akademisi, tokoh masyarakat, insan pers dari media cetak, elektronik dan online, tamu undangan, serta para pejabat utama Kodam Siliwangi.

Mewakili tokoh dan pegiat lingkungan, Iwan Abdurachman, pada kesempatan penyampaian kesannya menyebutkan, hadirnya Pak Doni tiba-tiba bisa menyatukan kita dalam satu koridor, tempat kita berjalan sama-sama dan mencurahkan energi kita untuk Citarum. “Kami akan garap lahir batin Sungai Citarum,” ucap Iwan diakhiri dengan pesan yang dinyanyikannya.

Senada dengan Iwan, dari Asosiasi Profesor Doktor Hukum Indonesia, Dr Dini Dewi Heniarti, SH, MH., “Kehadiran Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo telah membangun semua frekwensi menjadi satu untuk Citarum, bukan hanya akademisi, tetapi juga seluruh elemen. Ini awal dari kami, kami baru kenal beberapa bulan. Pencemaran di Sungai Citarum kami katakan sebagai teroris lingkungan, karena sungai yang tercemar dapat merusak generasi bangsa,” ujar Dini. Dini menyebutkan jika semangat memperbaiki Sungai Citarum kini bagaikan air, “Air itu mengembara dari hulu ke hilir dan tidak bisa dipecah. Sekarang kita hidupkan kembali yang mati suri,” tegasnya.

Pada giliran sambutannya, Pangdam Siliwangi menyampaikan rasa terimakasihnya kepada seluruh elemen masyarakat dan insan media yang telah berdedikasi menyampaikan informasi program Citarum Harum.

“Sudah ada perintah bagi saya untuk pindah posisi, tentunya sebagai prajurit, saya tidak mungkin menolak. Sebenarnya hati saya juga masih ingin bersama-sama dengan para sahabat sekalian,” ucap Mayjen TNI Doni Monardo terkait dengan kepindahan tugasnya.

Ia menjelaskan ikhwal dicanangkannya program Citarum Harum yang menjadi prioritas utamanya yang bersinggungan langsung dengan masyarakat selama bertugas sebagai Pangdam. Dikatakannya bahwa program Citarum Harum sebagai hubungan kerja bersama sipil militer yang pertama, karena semuanya sejajar, tidak ada yang lebih penting satu sama lain, semua bersatu padu untuk me-revitalisasi Sungai Citarum. Suasana sempat hening saat Pangdam beberapa kali menghentikan sambutannya, seperti sedang berusaha menahan air matanya agar tidak keluar.

“Masih ada yang bertanya kepada saya, kenapa tentara ngurusi sungai, ngurusi sampah, ngurusi kebersihan,” ucapnya.

“Jadi sebelum ini sudah dua tahun kita bekerjasama dengan pemerintah provinsi untuk Citarum, tapi hasilnya sampah selalu datang kembali ketika sungai baru dibersihkan. Sehingga saya berpikir, ini harus ada data awal. Tepat 4 bulan lalu pada tanggal 20 November 2017, persis di tempat ini saya kumpulkan lebih kurang 250 orang aktifis  untuk diskusi, dari Bogor, Cianjur, Sukabumi, Cirebon, sebagian besar dari Bandung raya. Hampir 7,5 jam berdiskusi. Akhirnya saya mendapatkan sebuah data yang luar biasa, ternyata masalah Citarum bukan hanya masalah membersihkan sungai. Citarum itu tinggal 9,8 persen dari 30 persen lahan konservasi,” urai Pangdam.

“Sekarang tentara perang dengan sampah. Sampah itu karena perilaku, kita bertempur dengan hati dan pikiran kita. Dulu tentara mungkin membebani warga disaat operasi, tapi kini kehadiran tentara di program ini harus membawa benefit untuk ikut menggerakan ekonomi. Perlu waktu yang panjang untuk mengembalikan menghargai alam,” tegasnya.

Kemudian diceritakan oleh Pangdam, Sungai Citarum dengan panjang hampir 300 Km ini juga sudah tercemari limbah industri dengan luar biasa, dan ikan yang hidup hanya ikan sapu sapu.

“Tanggal 21 November saya bertemu dengan Pak Ahmad Heryawan, Gubernur, saya sampaikan rencana ke depan bahwa Sungai Citarum itu bukan sekedar membersihkan, tapi lebih kepada membersihkan sumber dari yang ada di masyarakat. Saya jelaskan waktu itu akan membagi Sungai Citarum menjadi 20 sektor untuk penataannya. Pak Aher sempat berkata kenapa rencana ini tidak dilakukan 10 tahun yang lalu, saya katakan lebih bagus adalah 20 tahun yang lalu. Tetapi tidak ada kata-kata terlambat untuk kita memperbaiki apa yang sudah terjadi,” terang Pangdam.

Lanjut Pangdam menjelaskan, “Tanggal 22 saya di undang menjadi pembicara lokakarya yang diselenggarakan Kemenko Mariritim, yang dihadiri oleh Menko Maritim Jend TNI (Purn) Luhut Panjaitan. Disitu saya menyampaikan bahwa saya sudah merangkum dari banyak komponen, semua sudah dikerjakan untuk penanganan Sungai Citarum, dana yang sudah dikeluarkan sudah lebih dari 22 trilyun, dan waktu yang digunakan sudah sangat banyak. Hanya satu yang kurang menurut saya, yaitu satu kesatuan komando. Semua sudah bekerja tetapi tidak ada satu kesatuan komando. Kemudian saya sampaikan bahwa program Citarum ini harus memberikan benefit kepada rakyat dan selanjutnya adalah menyiapkan payung hukum supaya tidak ada nantinya yang merasa diambil alih porsinya oleh TNI,” urainya lagi.

Kita sudah tidak perlu lagi melihat lagi ke belakang, Kata Pangdam, Saya sudah katakan juga kepada kawan-kawan semuanya, jangan mencari siapa yang salah dalam hal ini, tidak ada gunanya, karena masalah Sungai Citarum ini ternyata begitu banyak lembaga dan instansi yang bertanggungjawab, ada belasan, di hulu ada Perhutani dan PTPN VIII yang lahannya sebagian besar sudah dijarah oleh masyarakat dan ditanami dengan tanaman sayur-sayuran yang penggunaan pestisidanyapun sangat tinggi sekali, puluhan ribu hektar lahan yang harusnya hutan telah berubah fungsi menjadi perkebunan. Ketika hujan akan menimbulkan longsor dan sedimen yang menumpuk di sepanjang Sungai Citarum.

Mau berapapun uang disiapkan tidak akan pernah cukup untuk mengeruk sungai, ucap Pangdam. Jadi prioritas utama adalah mengembalikan fungsi konservasi yaitu dengan menanam pohon di hulu. Jika dihitung-hitung, dari sekitar 88 ribu hektar lahan dan setiap hektar kita harus tanami kurang lebih 1500 pohon, maka dibutuhkan 125 juta pohon lagi. Kalau kita harus selesaikan selama 7 tahun, berarti tiap tahun kita harus menanam 15 juta pohon. Berapa biaya yang kita butuhkan, luar biasa besarnya. Padahal untuk menebang pohon hanya diperlukan waktu sekian menit.

“Siapapun Pangdam-nya, program Citarum harum ini akan terus berlanjut, meski tiap hari Pangdam-nya diganti,” pungkas Mayjen TNI Doni Monardo untuk meyakinkan seluruh rekan insan media, masyarakat dan pegiat lingkungan.

Acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan oleh Pangdam Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo, didampingi Mayjen TNI Besar Harto Karyawan dan Kasdam Siliwangi Brigjen TNI YP Sembiring kepada insan pers dan pegiat lingkungan, diakhiri dengan kegiatan ramah tamah. [St]

Pemberian Penghargaan dari Mayjen TNI Doni Monardo kepada Insan pers dan Pegiat Lingkungan

 

Comments

comments