Satgas Citarum Tutup Saluran Limbah Siluman Yang Keluar Dari Dasar Sungai

oleh
Jajaran Sektor 7 Satgas Citarum menemukan aliran limbah yang keluar dari dasar Sungai Cisuminta
Jajaran Sektor 7 Satgas Citarum menemukan aliran limbah yang keluar dari dasar Sungai Cisuminta, Kamis (27/9/2018). [Foto: Dok. Istimewa]

Bandung, sorotindonesia.com,- Dansektor 7 Satgas Citarum Kolonel Kav Purwadi kesal. Pasalnya, berdasarkan temuannya dilapangan, masih ada pihak yang tidak bertanggungjawab telah membuang limbah cairnya ke aliran Sungai Cisuminta dengan kondisi berwarna, hangat dan berbau, Kamis (27/9/2018).

“Kami menemukan limbah siluman (tak diketahui asalnya) yang dibuang ke aliran sungai belakang area pabrik PT Famatex, PT Papandayan Cocoa Industries dan PT Panasia. Namun saat dicek, tidak ada yang mengakui. Oleh karena itu, hari ini saluran limbah tersebut kami tutup dengan cara dicor,” tegas Kolonel Kav Purwadi, Jumat (28/9/2018).

Proses penutupan itu sendiri berjalan lebih dari satu jam, karena agar mudah dicor, aliran air terlebih dahulu di lokalisir dengan bantuan mesin pompa.

Proses pengecoran saluran limbah siluman yang dipimpin langsung oleh Dansektor 7 Satgas Kol Kav Purwadi
Proses pengecoran saluran limbah siluman yang dipimpin langsung oleh Dansektor 7 Satgas Citarum Kol. Kav Purwadi, di saluran air Cisuminta, Jumat (28/9/2018).

“Sekarang kita tunggu saja, pabrik mana yang limbahnya meluap didalam pabrik,” ujar Dansektor, yang saat pengecoran disaksikan perwakilan DLH Kab. Bandung, Robi.

Kawasan Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, yang banyak berdiri industri produk tekstil maupun non tekstil, ditengarai kerap ditemukan limbah yang dibuang dengan sembarangan. Salasatu langkah besar yang diambil jajaran Sektor 7 Satgas Citarum adalah dengan menutup saluran Sungai Cisuminta yang langsung menuju Sungai Citarum, 27 Juli 2018 lalu. Luar biasanya, kala itu usai saluran Cisuminta dilokalisir, IPAL komunal yang dikelola oleh PT MCAB yang melayani sekitar 24 pabrik tergenang oleh limbah.

Akibatnya lagi, beberapa pabrik terpaksa menghentikan sementara produksinya karena tidak bisa membuang limbahnya ke IPAL komunal PT MCAB yang harus membenahi terlebih dahulu fasilitas proses pengolahan limbahnya agar tidak mencemari Sungai Citarum.

“Sekarang pabrik diminta untuk dilengkapi dengan minimal fasilitas pre-treatment sebelum disalurkan ke IPAL komunal PT MCAB,” ujar Dansektor.

Dansektor 7 Satgas Citarum Sidak PT Karya Hidup Jayantara

Seusai melaksanakan penutupan lubang limbah siluman di saluran air Cisuminta yang berada di belakang Panasia Indoresources, samping PT MCAB, Dansektor 7 Kolonel Kav Purwadi melanjutkan kegiatan sidak (inspeksi mendadak) ke perusahaan produk tekstil PT Karya Hidup Jayantara.

Perusahaan yang berlokasi di Jl. Moch. Toha No. 27, Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung ini adalah pabrik mitra PT MCAB ke sebelas yang dikunjungi oleh Dansektor.

Sidak Dansektor 7 Satgas Citarum Kolonel Kav Purwadi ke PT Karyahidup Jayantara
Sidak Dansektor 7 Satgas Citarum Kolonel Kav Purwadi ke PT Karyahidup Jayantara, Jumat (28/9/2018).

“Pasca kunjungan Menko Maritim tanggal 1 Agustus 2018 di Hotel Hilton, Bandung, kita kumpulkan 24 owner pabrik mitra PT MCAB. Karena ada peraturan menteri yang terbit tanggal 8 Agustus 2018 yang berisi 5 klasifikasi pengolahan limbah, dari situ saya melakukan sidak terutama yang menjadi rekanan IPAL komunal PT MCAB,” kata Kolonel Kav Purwadi disela kegiatannya di PT Karya Hidup Jayantara.

Dilanjutkan oleh Kolonel Purwadi, “Saya kunjungi pabrik tujuannya karena saya ingin tau bagaimana pengolahan limbah milik pabrik, termasuk juga produksinya. Dari produksinya itu akan diketahui jenis limbahnya,” lanjutnya.

“Untuk PT Karyahidup Jayantara ini, tadi kita sudah sama-sama lihat, perusahaan sudah memiliki fasilitas pre-treatment meski belum sempurna. Salasatunya tadi mereka membuat bak pengolahan kimia, mamasang dosing pump. Lalu untuk mengatasi sludge-nya mereka sudah memasang screw. Namun untuk penempatan sludge mereka belum memiliki izin, nah saya sarankan langkah berikutnya agar mereka mengurus izin TPS B3-nya,” jelasnya.

Saat ditanya hasil kunjungannya ke mitra PT MCAB sejauh ini, dikatakan oleh Kolonel Purwadi, “Sebagian besar sudah memiliki fasilitas pre-treatment,” ujarnya. “Tapi untuk beberapa pabrik sudah memiliki PO untuk itu,” tambahnya.

Dansektor juga memberikan apresiasi kepada pihak pabrik yang telah berupaya membangun fasilitas IPAL untuk suksesnya Citarum Harum, meski untuk itu pabrik harus melakukan alih fungsi ruang disebabkan ketersediaan lahan yang terbatas, “Ada pabrik yang akhirnya membongkar salasatu ruangan untuk membuat pre-treatment, ada juga yang menggunakan lahan parkir,” terang Dansektor.

Menanggapi sidak yang dilaksanakan oleh jajaran Sektor 7 Satgas Citarum ke perusahaannya, Direktur PT Karya Hidup Jayantara, Arton, yang diwakili oleh Factory Manager, Benyamin, menjelaskan, “Kami terbantu dengan dorongan dari Pak Pur (Kolonel Kav Purwadi), kami baru menyadari pentingnya membangun IPAL,” katanya, yang selama ini pihaknya menyalurkan limbah ke PT MCAB.

Dijelaskan oleh Benyamin, semenjak IPAL komunal PT MCAB dibenahi, pihaknya terpaksa mengurangi produksinya, “Kita mengurangi produksi rata-rata 50 persen. Untuk sekarang meski kontrak menyalurkan limbah cairnya 2,5 liter per detik, namun saat ini ada pembatasan menjadi 1,5 liter per detik di gate valve,” terangnya.

Kini, PT Karya Hidup Jayantara sedang membangun fasilitas IPAL 400 meter kubik terpasang, dari target 300 meter kubik limbah produksi. Full treatment rencananya 6 bulan kedepan sudah selesai. “Mudah-mudahan bisa selesai pada bulan Maret atau April 2019,” harapnya.

Akhir kunjungan dari Dansektor, pihak PT Karyahidup Jayantara membuat surat pernyataan komitmennya untuk tidak membuang limbah yang mencemari lingkungan dan mendukung program Citarum Harum. [St]

Comments

comments