Lagi, Satgas Citarum Sektor 21 Tutup Pembuangan Limbah Dua Pabrik Di Pameungpeuk Kabupaten Bandung

oleh

BANDUNG,- Satgas Citarum Sektor 21 kembali menutup lubang pembuangan limbah dua pabrik di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Pabrik tersebut yakni PT Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo. Kedua pabrik ini diketahui telah membuang limbahnya ke aliran Sungai Cibabakan, anak Sungai Cisangkuy, dengan kondisi berwarna dan tanpa melalui proses IPAL yang memadai. Sebelumnya, pada tanggal 31 Mei 2018 lalu di Pameungpeuk ini Sektor 21 Satgas Citarum menutup lubang limbah milik PT Adetex.

“Sebelum penutupan ini, saya sudah pernah ingatkan pihak perusahaan agar membenahi kualitas limbahnya yang keluar ke aliran sungai. Tugas kami adalah mengembalikan ekosistem DAS Citarum. Salasatunya adalah mencegah limbah-limbah kotor yang dikeluarkan oleh pabrik. Cara kami adalah menutup lubang-lubang pembuangan limbahnya, agar para pengusaha segera membenahi IPAL yang ada,” ujar Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat didampingi Dansubsektor 21-7 Serma Rahmat Juang kepada wartawan dibantaran Sungai Cibabakan, Sabtu (2/6/2018).

Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat didampingi Dansubsektor 21-7 saat wawancaranya dengan wartawan pada giat penutupan pembuangan limbah milik PT Pranata Jaya Abadi dan PT Safindo Permata di Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Sabtu (2/6/2018).
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat didampingi Dansubsektor 21-7 Serma Rahmat Juang saat wawancaranya dengan wartawan pada giat penutupan pembuangan limbah milik PT Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo Permata di aliran Sungai Cibabakan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung, Sabtu (2/6/2018).

Pantauan awak media dan aparat pemerintah setempat serta jajaran Sektor 21-7, di sepanjang bibir Sungai Cibabakan sekitar belakang pabrik PT Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo ditemukan banyak saluran pembuangan ke arah aliran sungai yang diduga sebagai saluran pembuangan ilegal. “Dipinggir Pranata Jaya Abadi dan Safilindo ini ada sekitar 6 lubang saluran, ada yang disimpannya dibawah air, kita anggap itu lubang siluman,” ungkap Yusep.

Untuk itu Yusep berharap partisipasi masyarakat agar ikut berperan mengawasi lingkungannya, “Masyarakat yang melihat, termasuk yang salurannya di cor dan di buka lagi silahkan melaporkan ke Satgas, selain itu patroli yang akan rutin dilaksanakan oleh Satgas,” harapnya. “Artinya setelah ini kita akan berkomunikasi dengan pemilik pabrik, kita dan para awak media semua, untuk mendengar komitmen pemilik pabrik kapan mereka bisa mengeluarkan limbah yang baik (bersih) ke sungai ini. Sehingga batas waktu itulah yang kita pegang, dan saluran limbah tersebut kita buka lagi jika limbahnya sudah bersih,” tambah Yusep menerangkan.

Dijelaskan oleh Yusep, tindakan penutupan saluran limbah pabrik-pabrik yang dilakukannya sudah berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak kepolisian. Jika melalui jalur hukum, rentang prosesnya sangat panjang. Sehingga dilakukan langkah seperti ini. “Pabrik-pabrik ini kan sudah berjalan lama, artinya mereka sudah punya IPAL dan SOP sendiri untuk menangani limbahnya. Harusnya kan sudah clear. Satgas ini mendorong agar proses pembenahan limbah ini dipercepat,” jelasnya.

Terpisah, warga Rt 04 Rw 05 juga mengeluh dengan kondisi kotornya air sungai akibat limbah dan baunya yang menyengat ke pemukiman, “Saya tinggal disini sejak tahun 1991, sudah sering mengadukan perihal bau dan warna limbah ini, tapi ya sebagai warga kami tidak bisa berbuat apa-apa. Limbah itu umumnya di buang malam dan sampai pagi baunya tidak hilang, tidak nyaman bila keluar-keluar rumah,” kata seorang ibu warga Rt 04 yang namanya enggan untuk ditulis saat ditanya oleh wartawan.

Ditambahkan olehnya, sebelum ada pabrik, Sungai Cibabakan ini sering menjadi tempat bermain anak-anak, namun sekarang tidak berani karena kuatir terkena penyakit.

Kepala Desa Sukasari Kecamatan Pameungpeuk, Erwan Setiawan, yang ikut menyaksikan pengecoran pembuangan limbah tersebut saat diwawancara oleh wartawan menyebutkan, “Warga memang sudah sejak lama mengeluhkan limbah yang dibuang oleh PT PJA dan Safilindo ke aliran Sungai Cibabakan ini, dengan harapan ada tindakan dari dinas terkait. Tapi lama ditunggu tidak ada tindakan dari LH (Lingkungan Hidup) atau institusi terkait. Jadi, saya selaku warga dan atas nama warga setuju dengan tindakan yang dilakukan oleh tim Kodam Siliwangi ini (penutupan pembuangan limbah), mudah-mudahan dengan tindakan tegas ini perusahaan yang ada di wilayah kami bisa memperbaiki limbahnya,” urai Erwan.

Sedangkan pihak perusahaan PT Pranata Jaya Abadi yang diwakili oleh Toni selaku penanggungjawab perusahaan, Mulfi sebagai koordinator limbah dan Vina bidang personalia, saat di konfirmasi awak media dan jajaran Sektor 21 serta elemen masyarakat dari LSM PMPRI, yang juga dihadiri Kepala Desa Sukasari, tokoh masyarakat dan Satpol PP Kecamatan Pameungpeuk, menyebutkan untuk meminta waktu membenahi IPAL-nya. “Kami sedang menambah fasilitas IPAL,” kata Mulfi. Mulfi sendiri saat dilakukan sidak oleh Dansektor di tempat IPAL PT PJA sempat kebingungan menjawab pertanyaan dari Dansektor. Dan sempat membantah bahwa perusahaannya membuang limbah kotor, namun setelah ditunjukan bukti yang disodorkan oleh Dansektor, terlihat Mulfi sulit untuk berkilah.

Suasana konferensi pers di PT Pranata Jaya Abadi terkait penutupan pembuangan limbahnya.
Suasana konferensi pers di PT Pranata Jaya Abadi terkait penutupan pembuangan limbahnya.

Ironisnya, PT PJA adalah perusahaan yang pernah mendapatkan sertifikat proper biru dari Dinas Lingkungan Hidup. “Kami mendapatkan proper biru sekitar tahun lalu dari LH,” ujar Mulfi.

Diakui oleh Mulfi, penambahan IPAL yang sudah dioperasikannya belum mendapatkan izin dari instansi terkait. “Minggu lalu dari DLH Kabupaten Bandung sudah berkunjung kesini,” ungkapnya sambil menyebutkan nama petugas LH yang dimaksud.

Menariknya, saat dilaksanakan penutupan pembuangan limbah PT Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo, di sepanjang Sungai Cibabakan terdapat ratusan bangkai ikan sapu sapu beragam ukuran yang dikerubungi lalat. Diduga ratusan ikan yang dikenal tahan terhadap limbah ini sudah mati lebih dari satu hari.

Disayangkan, pihak dari PT Safilindo sampai dengan beresnya kegiatan, tidak dapat dikonfirmasi. [St]

Ratusan ikan sapu sapu yang mati di sepanjang Sungai Cibabakan disekitar pabrik Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo Permata, Sabtu (2/6/2018).
Ratusan ikan sapu sapu yang mati di sepanjang Sungai Cibabakan disekitar pabrik Pranata Jaya Abadi dan PT Safilindo Permata, Sabtu (2/6/2018).

Comments

comments