Kuatkan Kapasitas Relawan, PMI Jateng Kembangkan Jitupasna

oleh

Semarang, [ Sorot Indonesia ] – Palang Merah Indonesia (PMI) gelar Pelatihan Manajemen Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna). PMI sebagai salah satu komponen aktif dalam penanggulangan bencana selalu meningkatkan kapasitas staf dan relawannya dengan berbagai pelatihan. Hal ini disebabkan kegiatan pasca bencana sering kali kurang mendapatkan perhatian secara khusus, satu diantaranya karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang manajemen bencana.

Ketua PMI Jawa Tengah, H. Imam Triyanto mengungkapkan bahwa pelatihan sebagai wujud pengembangan kapasitas pelayanan PMI, khususnya di Jawa Tengah. “Jitupasna menjadi bagian penting untuk meningkatkan pelayanan PMI, bersama pemerintah, kepada masyarakat yang terkena dampak bencana,” kata Imam saat membuka pelatihan, Selasa (3/7/2018).

Imam Triyanto saat memberikan sambutan pembukaan pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) Selasa (3/7/2018) di Pusdiklat PMI Jawa Tengah, jalan Arumsari RT 11 RW 2, Sambiroto Tembalang, Kota Semarang
Imam Triyanto saat memberikan sambutan pembukaan pelatihan Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna), Selasa (3/7/2018), di Pusdiklat PMI Jawa Tengah, jalan Arumsari RT 11 RW 2, Sambiroto Tembalang, Kota Semarang.

Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana Indonesia (iPDNA) telah ditetapkan melalui Peraturan Kepala BNPB 15/2010. Pelatihan ini diharapkan “Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan dapat memahami kebijakan dan pengkajian pasca bencana. Juga memahami perencanaan rahabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana, di wilayah yang memiliki potensi bencana erupsi gunung dan gempa-tsunami,” terang Imam didampingi Totok Ari, fasilitator dari BPBD Kebumen dan Dwi Handoko Kasi Pelayanan Masyarakat PMI Jateng.

Imam juga mengingatkan, agar setiap pelayanan PMI di Jawa Tengah, dapat diketahui oleh masyarakat maupun lembaga yang memberi donator. “Akuntabilitas harus diutamkan, sehingg setiap bantuan maupun aktifitas pemberian bantuan atau pelayanan, harus jelas, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu Jitupasna harus dilakukan dengan cermat,” pesannya.

Usai pelatihan (6/7/2018), Yuli Haryono, relawan PMI Kabupaten Purworejo menyatakan bahwa pelatihan tersebut sangat menetukan pada penetuan rencana aksi pada rehab rekon pasca bencana. Karena itu, menurutnya, ketelitian dalam detail assesmen (proses pengumpulan data kebencanaan) sangat dibutuhkan. Data yang diambil harus se-real mungkin, kata dia.

Ditambahkan, Pelatihan Manajemen Pengkajian Kebutuhan Pasca Bencana (Jitupasna) dilaksanakan Selasa hingga Jum’at (3-6/7/2018) di Pusdiklat PMI Jawa Tengah, jalan Arumsari RT 11 RW 2, Sambiroto Tembalang, Kota Semarang dengan peserta berjumlah 35 orang relawan dari PMI di wilayah Gunung Merapi, yaitu Kabupaten Klaten, Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali. Kemudian PMI diwilayah Gunung Slamet yaitu Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Purbalingga. Serta di wilayah berpotensi gempa-tsunami yaitu Kabupaten Cilacap, Kebumen dan Purworejo. (sorotindonesia.com/arh)

Comments

comments