KPPU Siap Menjadi Sarana Untuk Mendorong Munculnya Pelaku Usaha Baru

oleh -

BANDUNG, Di ulang tahunnya yang ke-17, KPPU ( Komisi Pengawas Persaingan Usaha ) menggelar rangkaian acara yang diantaranya adalah kegiatan Dialog Persaingan bertemakan Mendorong Tumbuhnya Wirausaha Muda Melalui Persaingan Usaha Sehat yang dilaksanakan di Hotel Grand Panghegar kota Bandung, (2/6/2017).

Pada acara yang bekerjasama dengan HIPMI ini, hadir sebagai narasumber Komisioner KPPU M. Nawir Messi, HIPMI Cecep Darius, Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat dan Dinas Koperasi, UMKM, Perindag Kota Bandung Priana Wirasaputra.

Ketua KPPU, Syarkawi Rauf, pada pembukaan acara tersebut menyampaikan, KPPU sebagai institusi untuk mendorong tumbuhnya wirausaha muda melalui persaingan usaha. “Salah satu prinsip utama persaingan usaha yang sehat itu adalah mendorong atau memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk masuk berbisnis di suatu sektor dan di suatu kegiatan usaha,” ujar Syarkawi.

Ia menambahkan, “Persaingan yang selama ini kita dorong adalah tidak boleh ada hambatan bagi siapa saja yang ingin berusaha di suatu wilayah, di suatu daerah, baik itu di kota, kabupaten atau provinsi. Oleh sebab itu, jadikanlah KPPU ini sebagai instrumen untuk mendorong munculnya pelaku-pelaku usaha baru di Indonesia. Apalagi dari data informasi yang diterima, pelaku usaha di Jawa Barat atau nasional masih diangka 1,8 % dari jumlah penduduk kita,” urainya.

Mencontoh slogan Jepang, no competition no growth, KPPU menginginkan keunggulan kompetitif bisa muncul dari basis kompetisi. “Bagaimana di semua titik dan lini menerapkan persaingan yang sehat. Ekonomi nasional kita diharapkan tumbuh 6 – 8 % per tahun. Namun secara rata-rata kita masih tumbuh di angka 5%, butuh usaha extra untuk menumbuhkan ke angka 6%. Kata kuncinya, persaingan usaha yang sehat,” jelas Syarkawi.

Menurutnya, semakin banyak jumlah pelaku usaha baru, semakin produktif. Kompetisi akan mendorong inovasi serta research and development. Semakin banyak jumlah pelaku usaha maka potensi persaingan sehat semakin besar dan bisa mendorong lagi tumbuhnya wirausaha baru.

Sedangkan M Nawir Messi pada kesempatan itu membandingkan pertumbuhan pelaku usaha nasional kita dengan negara lain, “Pertumbuhan pelaku usaha baru di Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand,” terangnya. Menurut Messi, pebisnis baru itu perannya sangat penting, tapi bagaimana kita membangun bisnis baru lagi. “Yang bisa dilakukan oleh KPPU diantaranya adalah mendorong efisiensi, karena bisnis-bisnis yang tidak efisien akan keluar dan tergantikan oleh pelaku-pelaku yang inovatif,” kata Messi.

Ada 3 pendekatan yang dilakukan oleh KPPU untuk bisa memunculkan wirausaha baru dan persaingan usaha yang sehat, yakni pendekatan law enforcement, policy advocacy, dan supervisory bussiness partnership.

“Kami pernah punya cases dan membuka persaingan baru di bisnis airplane industry, telekomunikasi, importir bahan pokok dan daging,” ungkap Messi.

Ade Sudrajat pada paparannya lebih menekankan pada opportunity dan ancaman bagi tumbuhnya wirausaha baru di Indonesia.

“Dibidang ekonomi, kita mempunyai potensi 250 juta penduduk, dan setelah adanya MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) potensi ekonomi itu menjadi 600 juta orang,” ujarnya.

Dari potensi tersebut, ancaman diantaranya datang dari perusahaan dengan skala ekonomi besar yang akan mengancam perusahaan skala menengah dan kecil. Selain itu produktivitas belum mengalami perbaikan, sulitnya menciptakan produk consumer yang tepat serta masih minimnya bimbingan dan arahan dari institusi.

Namun demikian, opportunity untuk bisa memberdayakan ancaman tersebut adalah diantaranya dengan menciptakan nilai tambah produk, membuat local culture design, pasar yang cukup luas di wilayah Asean dan membangun new customer new brand selling only by internet dengan memperhatikan kelebihan produknya dan tidak bisa ditiru. Selain itu kreatifitas dan inovasi harus terus menerus di dorong.

Cecep Darius Darusman yang mewakili HIPMI pada kesempatan itu menerangkan bahwa ketika berbicara penciptaan wirausaha baru ini merupakan pekerjaan rumah kita bersama, karena jika didorong oleh komunitas saja belum tentu akan bisa meningkatkan. “Ketika berbicara persaingan, akan dihadapkan pada permodalan dan melebarkan sayap. Perlu ikatan kebersamaan antar HIPMI,” terang Cecep.

“Mari kita maju bersama, karena pangsa pasar kita semakin hari semakin luas. Bagaimana kita mengurangi impor dan bangga dengan produk dalam negeri,” ajaknya.

Ia mencontohkan, misal kita berbicara produk tekstil, bagaimana produk tekstil dalam negeri bisa bersaing dengan produk impor di dalam negeri. (Stanley)

Comments

comments