Konser Simfoni EMPEROR Bandung Philharmonic Season 4 Hadirkan Lagu Karya Aksan Sjuman

oleh -
Konferensi pers konser simfoni EMPEROR Bandung Philharmonic di Hotel Hilton Bandung

BANDUNG,- sorotindonesia.com,- Konser Simfoni Season 4 Bandung Philharmonic bertajuk EMPEROR menghadirkan karya dari komponis sekaligus musisi tanah air Aksan Sjuman, atau yang dikenal dengan sebutan Wong Aksan.

Aksan yang kini juga bergelut di bidang usaha produksi alat musik piano ini, meluncurkan lagunya yang dimainkan dalam konsep musik orkestra dan perdana ditampilkan yang berjudul Dance of Water Lily.

“Lagu ini tentang seseorang yang tidak pernah kita kenal, tapi kita kangenin,” ujar Aksan, ringan, menerangkan makna lagu tersebut saat konferensi pers jelang konser, yang juga menghadirkan bintang tamu, solois piano Sally Pinkas, Direktur Eksekutif Bandung Philharmonic, Airin Efferin, dan Robert Nordling selaku Direktur Artistik.

Inspirasi lagu Dance of Water Lily, lanjut Aksan, diperolehnya dari nada-nada yang terlintas dan selalu teringat berulang-ulang pada satu pattern yang sama.

“Ini lagu komposisi instrumen kedua saya, sebelumnya pernah tampil karya perdana di pertengahan tahun 2017, berjudul Under Umbrella,” ungkap Wong Aksan.

“Tentunya saya sudah tidak sabar ingin mendengarnya, harapannya adalah kesan yang oh my God,” kata Aksan Sjuman sambil menunjukkan ekspresi yang membuat para awak media ikut tersenyum.

Konser simfoni yang digelar Sabtu malam, 2 Februari 2019, di Hilton Hotel, Jl. HOS Tjokroaminoto, Kota Bandung ini, untuk juga menyambut bulan Februari, bulan yang dirayakan oleh komunitas Cina di seluruh dunia.

Judul “Emperor” dipilih, karena latar belakang sejarah satu dari karya Beethoven yang terkenal, yang akan ditampilkan oleh bintang tamu Sally Pinkas, pianis.

“Emperor” diartikan sebagai kerajaan, raja-raja, dan status kebangsaan yang sangat umum menjadi bagian dari orang-orang Cina di masa lalu.

Dijelaskan oleh Robert Nordling, judul ini memilik arti yang lebih mendalam di dunia musik. “Emperor” telah diketahui secara luas di perindustrian musik klasikal sebagai panggilan untuk Beethoven’s Fifth Piano Concerto, konserto terakhir yang ingin diselesaikan oleh Beethoven sebelum dia beristirahat dari pekerjaannya, dan dikomposisi di tahun 1809, tahun yang sulit karena penuh dengan peperangan, pengepungan, dan bom. Pasukan Prancis mulai menembaki kota pada malam 11 Mei – langsung mengenai daerah apartemen Beethoven. Komposer itu berlindung di ruang bawah tanah rumah saudaranya di Rauhensteingasse, dan
menghabiskan malam yang menyedihkan melindungi telinga sensitifnya dengan memegang bantal untuk menutup telinganya. Para keluarga imperial, termasuk saudara bungsu kaisar, Archduke Rudolph, yang telah menjadi siswa komposisi tunggal Beethoven dan salah satu pendukung terkuat dan kawan karib terdekatnya, pergi meninggalkan kota.

Nama julukan, the Emperor, mengambil keadaan yang ironis, karena kaisar yang dirujuk dalam kasus ini adalah Napoleon, orang yang bertanggung jawab atas malam yang menyedihkan di ruang bawah tanah dan kesengsaraan berturut-turut dari rumah-rumah yang terbakar dan warga sipil yang terluka.

“Tetapi, Beethoven sendiri tidak pernah tahu mengenai julukan tersebut, dan Negara-negara berbahasa German hampir tidak pernah lagi menggunakan kata tersebut karena sejarah masa lalu yang kelam,” kata Robert Nordling.

“Perusahaan yang mem-publish yang menjuluki emperor, bukan dari penulisnya,” terang pendiri dan direktur musik dari Bay Chamber Symphony Orchestra (San Francisco) tersebut.

Memulai konser dengan Overture Oberon (oleh Weber), sebuah karya Fairy King (raja peri dari pertunjukkan
Shakespeare’s Midsummer Night Dream), Robert Nordling akan mengubah aula menjadi pengalaman agung Emperor Concerto. Terakhir, sebagai penutup pertunjukkan, Symphony No 8 yang dikomposisi oleh salah satu raja simfoni, F. Schubert, diperdengarkan di akhir acara.

ser Simfoni EMPEROR Bandung Philharmonic Season 4 Hadirkan Lagu Karya Aksan Sjuman
Foto (ki-ka) : Aksan Sjuman, Sally Pinkas dan Robert Nordling.
Tentang Sally Pinkas, Bintang Tamu Konser Simfoni Emperor – Bandung Philharmonic

Sally Pinkas (http://www.sallypinkas.org/) memegang gelar sarjana dari Indiana University dan the New England Conservatory of Music, dan gelar Ph.D. dalam komposisi dari Brandeis University.

Bertugas sebagai pianist-in-residence di the Hopkins Center at Dartmouth College, beliau adalah professor musik di Dartmouth’s Music Department. Semenjak debutnya di Wigmore Hall, London, pianis yang lahir di Israel ini selalu tampil sebagai solois dan musisi chamber di seluruh dunia.

Highlight dari karirnya adalah penampilan dengan Boston Pops, the Aspen Philharmonic dan New York’s Jupiter Symphony, dan pertunjukan kelas dunia lainnya. Berkomitmen untuk bekerja sama dengan seniman-seniman muda, Pinkas telah mengajar di beberapa kelas Masterclass di Oxford and Harvard Universities, juga di Roma, Cina, Vietnam, beberapa dari sekian banyak Negara yang terlibat dalam misinya.

Dipuji karena semangat dan energinya, Pinkas mampu mempertunjukkan berbagai macam repertoar.

Pada tahun 2015, Pinkas debut di Filipina, mengadakan pertunjukan dan rekording dari Filipino Salon Music, sebuah jalur musik yang jarang didengar, untuk the University of the Philippines’ Centennial.

Bersama dengan suaminya, Evan Hirsch (The Hirsch-Pinkas Piano Duo), mereka telah mengadakan tur ke berbagai tempat, dan telah memperdanakan dan merekam karya -karya dari Rochberg, Pinkham, Peter Child, Kui Dong dan Thomas Oboe Lee.

Pinkas adalah anggota dari Ensemble Schumann, Oboe-Viola-Piano Trio, dan sering berkolaborasi dengan trio dan
kuartet. Diskografi Pinkas yang luas mencakup karya solo oleh Schumann, Debussy, Rochberg, dan karya pianis
ternama lainnya. Lama tertarik dengan musik dari Gabriel Fauré, ia menghasilkan gelar “A Fauré Master Returns” dengan ulasan antusias dari ClassicsToday. The Wall Street Journal mencatatnya sebagai “permainan yang luar biasa” dari rekording Harold Shapero’s Piano Music, yang dirilisnya melalui label Toccata Classics UK.

“Karya the Emperor sangat penting karena memiliki keagungan dan makna yang dalam,” ucap Sally Pinkas.

Kesan untuk memainkan lagu itu dalam konser simfoni season 4 Bandung Philharmonic, dijelaskan oleh Pinkas, “Saya memainkannya saat masih muda dulu, di festival musik klasik dunia. Dan kami memenangkan kompetisi itu di Aspen. Beberapa tahun kemudian saya mainkan di Harvard. Bagi saya, menjadi sebuah pengalaman melatihnya lagi di Bandung Philharmonic, dan menjadi sebuah penghargaan dan penghormatan,” kata Sally Pinkas.

“Wonderful of Indonesia,” pungkas Sally sambil mengangkat tangannya untuk menunjukkan rasa bangganya bisa berada di Indonesia bersama dengan Bandung philharmonic. [St]

Comments

comments