Ketua MATAKIN Bangga Miliki Gus Dur

oleh

SEMARANG – Seorang tokoh akan menjadi abadi jika memiliki ideologi dan pergerakan yang sepadan, konsisten dan totalitas. Hal demikian ini tercermin dari acara khaul Gus Dur yang diselenggarakan oleh para kader muda Nadhlatul Ulama Kota Semarang di Gedung Balai Kota Semarang, (23/12/2017).

Ketua MATAKIN (Majlis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia) Jateng, Harjanto Halim turut berpartisipasi dengan membaca puisi karya Alissa Wahid. Sebuah puisi yang selalu membuka wacana dan inspiratif baginya. Saat ditemui, Harjanto memberikan pendapatnya tentang Gus Dur. Harjanto menyatakan Gus Dur sebagai tokoh panutan yang berjuang secara total, tanpa pamrih.
“Jelas, sosok Gus Dur tidak bisa dilepaskan secara emosional dari etnis Tionghoa dan saya secara pribadi sangat mengagumi sosok beliau yang betul-betul memperjuangkan keberagaman di Indonesia tanpa pamrih dan totalitas. Kata Harjanto.

“Beliau betul-betul menyadari keberagaman dan beliau pun tidak meninggalkan keislamannya. Malah justru sangat menunjukkan keislamannya dengan membawa kesejukan,” imbuhnya.

“Menurut saya, sosok pemuka dan pemimpin agama harusnya yang demikian. Jadi, agama yang dibawanya harus membawa adem bagi seluruh umat, umat lain utamanya, dan itu luar biasa. Artinya beliau telah melampaui sekat-sekat yang ada, entah itu mungkin sekat agama, sekat etnis dan yang lainnya, biasanya kan masih ada spasi. Itu ditunjukkan oleh Gus Dur, dan saya sebagai anak bangsa merasa bangga,” tegas Harjanto.

“Kalau diluar mungkin ada Ibu Tereshia, ada Gandhi, di Indonesia ada Gus Dur. Semangat Gus Dur ini harus dihidupkan, artinya dipertajam sehingga muncul nanti Gus Dur-Gus Dur baru di hati semua anak bangsa.” ungkapnya.

Testimoni H Ismail menyatakan hal serupa, Gus Mail (demikian ia biasa disapa) dengan gamblang menerangkan betapa Gus Dur adalah tokoh yang luar biasa. Di hadapan para tokoh muda, senior Banser, dan tamu undangan, Pembina Banser Semarang tersebut juga menunjukkan bahwa cara pandang Gus Dur terhadap manusia sangat manusiawi dan berdasarkan kedalaman ilmunya.
“Pada zaman pertengahan, era Imam Ghazali ada istilah zindiq. Ini berbeda dengan kafir zindiq, katanya. “Manusia di mata Gus Dur itu tidak dibatasi oleh hal-hal duniawi. Gus Dur dalam melihat manusia itu telanjang, dalam artian tidak pernah memandang berdasarkan atribut. Entah itu jabatan, seragam dan sebagainya.” Demikian Gus Mail menuturkan.

“Beliau selalu menyandarkan segala sesuatu karena Allah, dengan tujuan menghilangkan cerca yang ada pada orang lain” pungkasnya. [Rifqi]

Comments

comments