Kemerdekaan Indonesia Menurut Budayawan Emha Ainun Najib

Emha Ainun Najib
Kemerdekaan Indonesia Menurut Budayawan Emha Ainun Najib

Emha Ainun Najib Budayawan yang lebih akrab dipanggil “Cak Nun” Berbicara masalah kemerdekaan Republik Indonesia. Gayanya yang unik dan berusaha mengkolaborasikan antara budaya, sastra dan realitas agama dalam kehidupan sehari-hari.

Yogyakarta—  Emha Ainun Najib alias Cak Nun seniman kelompok Kyai Kanjeng ini sudah lama tidak terekspose di dunia panggung televisi.

Amatan Tim budaya SII saat ini Cak Nun disibukkan dengan aktifitas mengisi forum budaya di kampus-kampus universitas di Indonesia dan paguyuban WNI yang ada di luar negeri. Penampilannya meskipun bersahaja namun sangat memukau. Tidak jarang Cak Nun mendapat anugerah semacam “award”  baik di dalam maupun luar negeri. Budayawan yang mengaku berguru kepada Umbu Landu Paranggi, seorang sufi dan sastrawan misterius yang saat ini memilih menyepi di Denpasar Bali. Gebetan dan tempaan Cak Nun membuahkan kelompok-kelompok seniman budaya bernuansa islam seperti kenduri cinta, macopat safaat, sahabat, maiyah, dan  kyai kanjeng sangat dikenal di kalangan akar rumput dan budayawan khususnya di jawa tengah, yogyakarta, dan jawa timur.

Kali ini kita menyimak sebuah karya cak nun berbicara tentang Kemerdekaan RI. Sangat tepat di momen HUT RI ke 71 ini. Sebuah karya tentang manusia indonesia di tengah jaman kemerdekaan ini yang diberi judul “champion of life”. Balutan seni kata yang ala kadarnya, lugas  sesuai dengan realita mengungkapkan tentang kritikan terhadap fenomena bangsa indonesia kini dan masa depan. Karyanya ini pernah dimuat di situs pesantren politik.com mungkin dengan maksud memberikan pembelajaran pendidikan politik dalam dunia kesufian.

Champion Of Life

AKU jatuh hati pada Indonesia.
Tanah air alunan balada antagonis-protagonis yang harmonis.

(Emha Ainun Nadjib bersama Presiden PKS Anis Matta)

Bagian Pertama

Tak peduli apakah nenek moyang mereka adalah Ibu Peradaban Dunia ataukah raja dan rakyat dungu yang bisa dijajah ditipu diperdaya oleh sekumpulan satpam VOC.

Biarin apakah mereka berasal usul dari Negeri Atlantis, Sunda Land, atau turunan Nabi Sis ketika darah istrinya dirasuki Iblis.

Tidak urusan apakah sejarah manusia Nusantara lebih tua dibandingkan dengan Yunani kuno, Mesir kuno, Inka-Maya, Mesopotamia, sehingga juga jauh lebih tua daripada Ibrahim yang menurunkan Yahudi dan Arab yang kini sedang menguasai dunia.

EGP, apakah mereka sedang dilanda epidemi peracunan otak dua millenium, penipuan global yang berlangsung sejak lahirnya Isa Al-Masih, dilanjutkan 37 sesudah penyaliban beliau, serta disempurnakan tiga abad silam sesudah Revolusi Industri.

Pertengseng apakah benar “kasepuhan” nenek moyang Nusantara ini sengaja dikubur disembunyikan oleh pemenang sejarah dunia modern.

Nggak patheken juga apa mbah-mbah buyut mereka dahulu kala merupakan perintis “10 pilar peradaban”: biangnya peradaban pertanian bumi dan kemaritiman laut, bikin password pemindah hujan, penyusun awan, dan penolak rudal, impor logam dari Mars dan Neptunus untuk bikin keris, teknologi penerbangan frontal anti-gravitasi, penemu bahan adiksi-adiksi dari antara gunung berapi dengan laut selatan, 41 level santet, yang anak-cucunya rindu trap-trap sawah pegunungan hingga bikin piramid. Atau apapun saja.

Juga biarkan saja apakah Maha (Perdana) Menteri Gadjah Mada dengan ideologi ambeng-nya jauh lebih demokratis dibandingkan dengan “‘tumpeng” NKRI yang berlagak demokrasi tapi rakyatnya tak punya daya kontrol apa pun terhadap tipu daya nasional para pemimpinnya.

Pun tak usah disesali kenapa Majapahit bikin bangunan keraton dari kayu, sehingga hancur luluh tenggelam oleh luapan lumpur Canggu antara Sidoarjo dan Mojokerto.

Go to hell with simpang siur sejarah. Wali Songo pun sekarang semakin digugat-gugat eksistensi historisnya, karena “iman” metodologis-historis kita tidak kepada babad, legenda, folklore, atau dongeng.

Toh, sekarang para EO menyibukkan masyarakat untuk menziarahi Wali Sepuluh: Wali Sembilan plus Gus Dur, sementara Hadlratus-Syaikh Hasyim Asy’ari kakek beliau dan Kiai Wahid Hasyim bapak beliau sedang dipertimbangkan apakah termasuk wali atau bukan.

Bahkan biro-biro travel sudah melantik Wali Songo Jawa Timur.
Jadi Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, tidak termasuk. Dicari wali-wali lain di lingkup Jawa Timur untuk disembilan-sembilankan.

Bagian Ke 2

Aku jatuh hati kepada Indonesia. Sebagian rakyatnya yang tidak bobrok berpendapat, Indonesia sedang bobrok-bobroknya.

Kenyataannya tidaklah bobrok, karena kebobrokan tidak mengerti kebobrokan, kegelapan tidak menyebut dirinya kegelapan.

Para penganut aliran kebobrokan berteriak cemas: “Bangsa Indonesia harus bangkit!”

Sementara itu, yang paling bobrok berpikir sebaliknya: “Kita sudah bangkit, bahkan sedang menikmati ninabobo dunia internasional yang menganugerahi kita ‘Award of Kebangkitan’.”

Di fajar hari, ibu-ibu sudah siap di pasar ketika presiden masih tidur.

Ada yang berfilsafat: rakyat yang baik adalah yang rajin salat subuh, yang produktivitasnya dimulai sejak sangat dini.

Tapi ada yang memelesetkan: subuh itu berwarna hijau, karena subuh adalah Islam.

Presiden dan pemerintah jangan rajin salat subuh, supaya wajahnya tak jadi hijau, seperti tahun-tahun terakhir Soeharto.

Dunia tidak suka Indonesia berwarna hijau dan pakai peci.

Untuk Indonesia, Islam mesti hijau lapuk, pemeluknya harus bodoh, kumuh, brutal, dan nutrisi rendah.

Meskipun demikian, tampil modern dan mewah boleh juga, asalkan hipokrit dan permisif.

Terserah. Yang pasti, jangan suruh rakyat Indonesia bangkit. Mereka tiap hari sudah bangkit, karena tiap hari jatuh.

Kejatuhan adalah parameter utama rakyat dalam mengukur setiap pemerintahan yang menimpakan kepada mereka musibah-musibah.

Seberapa kadar kejatuhan rakyat pada penguasa yang ini, yang itu, di zaman kerajaan maupun republik.

Rakyat Indonesia adalah pakar kejatuhan, maka juga Pendekar Kebangkitan, yang mampu bangkit meskipun tanpa kebangkitan.

Maka bernama bangsa garuda, meskipun ada yang mengejeknya sebagai bangsa emprit.

Tak apa.

Emprit jasadnya, garuda jiwanya. Garuda memperoleh kelahiran kedua pada usia sekitar 40 tahun dengan terlebih dulu melakukan penghancuran atas paruh dan kuku-kukunya, yang kemudian, bagi yang lulus: tumbuh paruh sejati dan kuku sejati.

Sebagaimana garuda terbang ke gunung-gunung batu untuk mematuki dan mencengkeram batu-batu itu sampai paruh dan kukunya tanggal –bangsa Indonesia hari ini juga sedang riang-riangnya menghancurkan paruh dan kukunya sendiri.

Garuda bangkit dan terbang, dengan 17 helai sayap dan 8 helai ekor, angka hari kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Andaikanpun Indonesia merdeka pada tanggal 1 bulan 1, ia tetap jagoan dan sanggup terbang dengan sayap sehelai.

Bangsa tertangguh di muka bumi ini, sanggup bergembira dalam derita, mampu melangkah pasti di jalan ketidakpastian, ringan tertawa di kurungan rasa bingung dan sengsara.

Aku tergila-gila pada Indonesia. Bangsa yang juara atas hidupnya sendiri. Warga negara miskin antre naik haji menunggu 10 tahun lebih, tanpa pernah menawar berapa pun biayanya.

Bahkan membayar di muka, tanpa peduli ke mana bunganya.

Di Tanah Suci, mereka sowan kepada Kanjeng Nabi dan mendengarkan petuah menantu beliau si penjaga pintu ilmu Sayyid Ali bin Abi Thalib: ”Wahai bangsa Indonesia, jangan katakan kepada Tuhan bahwa kalian punya masalah, tetapi nyatakan kepada masalah bahwa kamu punya Tuhan.”

Bangsa Indonesia punya banyak senjata untuk melawan kejatuhan dan siaga menyelenggarakan kebangkitan.

Mereka menantang kehidupan yang tidak rasional dan penuh kemustahilan dengan “bismillah”.

Atas nafkah tidak mencukupi mereka bilang “tawakal”. Didera keadaan serba-kekurangan terus-menerus mereka ladeni dengan “tirakat” dan keyakinan bahwa ”ayam saja dikasih rezeki oleh Allah”.

Ditipu habis oleh penguasa, cukup mereka tepis dengan ”Tuhan tidak tidur”.

Usaha gagal, dagang bangkrut, mereka layani dengan “istiqamah” dan “jihad fisabilillah”.

Besok belum tentu makan, apalagi bayar kontrakan rumah dan terlebih-lebih lagi membiayai anak sekolah tidak membuat mereka putus asa, karena di dalam dada mereka ada “nekat”.

Mereka adalah champion of life.

Jagoan dalam mengalahkan segala jenis kesusahan hidup.

Juara penderitaan. Sanggup membangun kegembiraan dalam kesengsaraan.

Petarung kesulitan. Pendobrak kemustahilan. Tertawa dalam kehancuran.

Pandai dalam kebodohan. Tidak mengenal lelah untuk terus-menerus ditipu, dibohongi, diperdaya, dan ditindas.

Di negara Pancasila, mereka sangat percaya kepada Tuhan, tetapi sangat toleran kepada berhala-berhala.

Di berbagai kegiatan hidup, dari keagamaan, politik, dan budaya, mereka bahkan cenderung eksploitatif terhadap berhala-berhala.

Sangat gemar bermain berhala, mengambil apa dan siapa saja sekenanya untuk diberhalakan, dipresidenkan, digubernurkan, di-Gus-kan.

Esok paginya berhala itu dibuang, ganti berhala baru. Parachampion of life sangat percaya diri, sehingga semau-mau mereka ambil berhala, pura-pura menyembahnya, mengaturnya, mempergilirkannya.

Emha Ainun Najib

Rasa sayangku pontang-panting kepada Indonesia.

Bangsa yang tidak menuntut kepemimpinan kepada para pemimpin.
Tidak menuntut komitmen kerakyatan kepada petugas pemerintahan yang mereka upah.

Tidak menagih kesejahteraan kepada pengelola tanah airnya, bahkan menyedekahkan kekayaan kepada kepala negara kepala pemerintahan dan seluruh jajarannya.

Tidak mempersyaratkan keterwakilan kepada para wakilnya. Lahap mengunyah disinformasi yang dipasok oleh para petugas informasi.

Bangsa yang tidak mengenal kehancuran. Sebab memang tidak berjarak dari kehancuran.

Juga karena dalam stuktur kejiwaan mereka: antara kehancuran dan kejayaan, antara riang dengan sedih, antara maju dengan mundur, hebat dengan konyol, mulia dengan hina, pandai dengan bodoh, surga dan neraka, pada alam mental rakyat Indonesia –itu semua sama sekali bukan polarisasi, tidak bersifat dikotomis, tak berhulu-hilir, hulunya adalah juga hilirnya, hilirnya adalah juga hulunya.

Tak ada garis lurus interval. Kedua dimensi nilai-nilai itu berada dalam bulatan yang bersambung, yang kalau dipandang dari jarak tertentu: ia adalah sebuah titik.

Rakyat Indonesia tidak tertindas oleh ketidakmenentuan dalam kehidupan bernegara.

Republik ayo, kerajaan monggo. Presidensial silakan, parlementer tak apa.

Kalau pengurus negerinya mengabdi kepada mereka, ya, tidak dipuji. Kalau mengabdinya kepada diri penguasa sendiri, ya, dibiarkan. Kalau tidak mengabdi malah menganiaya, ya, dikutuk beberapa saat saja.

Mereka tidak terikat untuk mengingat apa yang harus diingat atau melupakan sesuatu yang harus dilupakan.

Juga tidak tertekan untuk harus tahu dan mengerti sesuatu. Mau ingat apa, mau lupa apa, mau ngerti apa, terserah-serah kepentingan mereka saat itu.

Sebab akurasi energi psikologis mereka mengarah ke kebahagiaan diri: ingat, lupa, dan mengerti bisa menjadi tembok penghalang utama yang membuat mereka tidak mencapai kebahagiaan secara pragmatis dan permisif.

Bahkan antara ingat dan lupa, antara ngerti dengan tidak ngerti, bisa diracik oleh jiwa manusia Indonesia menjadi sebuah kesatuan yang dibikin relatif.

Kapan butuh ingat, dia ingat. Kalau yang menguntungkan adalah lupa, mereka pun lupa.

Jangankan tentang isi dunia, sejarah, negara, pemerintah, penggadaian kekayaan tanah air, korupsi, dan perampokan oleh luar maupun dalam negeri: sedangkan terhadap surga sesungguhnya mereka tidak rindu-rindu amat, dan terhadap neraka mereka tidak benar-benar ngeri.

Cintaku kepadamu sekonyong-koder, Indonesia

(Pengembara)

 

Baca:   Kilas Balik Jejak Merah Putih 3000 Meter Di Perbatasan RI - Malaysia

Comments

comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.