Kemajemukan, Warisan Kekuatan Bangsa Indonesia Untuk Hadapi Terorisme

oleh

SOROTINDONESIA.COM, Salatiga – Kemajemukan merupakan potensi besar bangsa Indonesia dalam menghadapi berbagai permasalahan kebangsaan, termasuk dalam menghadapi terorisme. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Jawa Tengah (FKPT Jateng), Syamsul Huda, S.Sos, M.Si, saat menyampaikan paparan tentang Multikulturisme dan Deradikalisasi dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Salatiga tahun akademik 2018/2019 di kampus III Jalan Lingkar Selatan Salatiga, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga, Rabu (8/8/2018).

Dihadapan 3.050 mahasiswa baru, Syamsul mengaskan konsep bhineka tunggal ika sebagai sebuah kekuatan kebangsaan, “Gerakan pencegahan terhadap radikalisme dan terorisme yang selama ini berlangsung massif di masyarakat berhasil mempersempit ruang gerak pelaku aksi teror , kondisi ini tercipta berkat adanya semangat kebersamaan di tengah perbedaan, “ ujarnya.

Menurutnya, spirit itu harus terus berhasil diwariskan secara estafet dari generasi ke generasi, dari pemangku kebijakan atau tokoh masyarakat pada seluruh warganya. Dalam kesempatan tersebut, dia menghimbau pada para mahasiswa dari berbagai latar belakang keluarga, suku, dan etnis dengan berbagai tradisinya untuk memperjuangkan nilai luhur bhineka tunggal ika dalam melawan terorisme di perguruan tinggi maupun masyarakat sekitarnya.

Diterangkan, perbedaan yang ada merupakan potensi yang empuk bagi gerakan redikal teror. Yakni, dengan menciptakan alienasi antar mahasiswa, antar aktifitas maupun perbedaan lain yang menjadi pemicu konflik dan kerenggangan. Di situlah mulanya doktrin radikal teror itu dimasukkan dan perekrutan bermula. Terlebih dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 12 ribu orang. Dia berharap agar upaya memecah-belah itu perlu diwaspadai dengan seksama.

Dia menambahkan, biasanya para pelaku aksi teror dalam melakukan rekrutmen kader selalu menghembus-hembuskan isu dan informasi yang mengandung nada kebencian dengan harapan terjadi pertentangan dan konflik awal di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat yang majemuk dan tidak memiliki ketahanan akan menjadi ladang subur untuk pengembangan ideologi teror. Beruntung sekali masyarakat Salatiga memiliki ketahanan yang luar biasa sehingga suasana dan semangat toleransi tetap terjaga hingga sekarang.

Namun demikian, Syamsul mengingatkan, masyarakat Salatiga tidak boleh lengah dalam menjaga kondusifitas yang ada, karena paham radikal teror dapat menyusup secara halus dan menjadikan salatiga yang selama ini dikenal sebagai daerah yang toleransinya tinggi berubah menjadi kota intoleransi, “Ini tidak boleh terjadi, karena situasi introleransi di masyarakat akan menjadi pemicu dan pintu masuk gerakan teror, baik secara sembunyi atau terang-terangan di masyarakat,” pungkasnya (arh)

Comments

comments