IPAL Terpadu PT MCAB Kembali Dioperasikan Pasca Terhenti Akibat Tergenang Luapan Sungai Cisuminta

oleh -
IPAL Terpadu PT MCAB Kembali Dioperasikan Pasca Terhenti Akibat Tergenang Luapan Sungai Cisuminta
Kondisi IPAL Terpadu PT MCAB, Cisirung, Kabupaten Bandung, tanggal 14 September 2019 lalu. Pembenahan terus dilakukan pasca lokalisir di Cisuminta dibongkar satu hari sebelumnya, (13/9/2019). Lokalisir tersebut dianggap sebagai salasatu penyebab kawasan PT MCAB tergenang.

sorotindonesia.com, KAB. BANDUNG,- IPAL Terpadu PT MCAB (Mitra Citarum Air Biru), Jl. Cisirung, Dayehkolot, mulai kembali berioperasi, Senin (16/9/2019), setelah operasionalnya sempat dihentikan pada tanggal 10 September 2019 lalu karena tergenang banjir akibat luapan anak Sungai Cisuminta yang merupakan aliran anak sungai yang bermuara langsung ke Sungai Citarum.

Anak Sungai Cisuminta itu meluap disebabkan jajaran Satgas Citarum Sektor 7 melokalisir aliran sungai tersebut¬† di ujung bawah Jalan Cisirung dengan cara ditimbun dengan puluhan karung berisi pasir dan dicor pada tanggal 5 September 2019. Pengecoran itu sendiri dilakukan lantaran hampir satu bulan ini anak sungai yang ditemukan di dalamnya oleh satgas terdapat 11 saluran pipa “tak bertuan”, dijadikan media bagi pabrik-pabrik tidak bertanggungjawab untuk membuang langsung limbahnya tanpa diolah dengan kondisi hitam pekat, berbau, panas dan pH rata-rata diatas 10. Mirisnya, hingga kini tidak ada pabrik yang mau mengakui, kemudian dari hasil patroli serta investigasi yang dilaksanakan oleh Satgas Citarum bersama DLH Kabupaten Bandung, baru satu pabrik yang terindikasi memiliki saluran pembuangan limbah “siluman” (tak berizin-red.).

Lokalisir itu sendiri akhirnya dibongkar pada tanggal 13 September 2019, disebabkan terhentinya operasional IPAL Terpadu PT MCAB turut berdampak pada produksi pabrik pelanggannya (mitra) dan masyarakat.

“Hari ini kami mulai mengoperasikan kembali mesin-mesin pengolahan limbah setelah melakukan pembenahan dari dampak genangan banjir, tapi saat ini baru satu mesin DAF (Dissolved Air Floatation) yang coba difungsikan,” kata Direktur PT MCAB, Lucky Tjandradinata, kepada sorotindonesia.com melalui sambungan telepon, Senin (16/9/2019) sore.

“Namun kita belum menyampaikan pemberitahuan kepada mitra kapan operasional IPAL kembali efektif dijalankan, menunggu pengecekan dan pembenahan secara keseluruhan selesai dikerjakan,” tambahnya. PT MCAB melayani pengolahan limbah dari kurang lebih 24 pabrik yang berada di sekitaran Dayeuhkolot.

Pada kesempatan tersebut, Lucky Tjandradinata yang akrab disapa dengan panggilan Aan, menjawab tudingan yang kerap dialamatkan kepada PT MCAB sebagai salasatu penyumbang limbah ke anak Sungai Cisuminta.

“Limbah yang dibuang saat ini ke Cisuminta bukan berasal dari kami, tapi berasal dari oknum pabrik. Satu tahun terakhir ini kami sudah banyak melakukan pembenahan sistem pengolahan, termasuk pemasangan sistem flow meter dan saluran di pabrik mitra yang menuju ke MCAB, kami juga sampai saat ini terus melakukan improve agar hasilnya semakin baik,” jelas Aan.

“Semua limbah dari mitra masuk ke bak equalisasi untuk diolah,” ujar Aan.

“Saya juga lihat, pentingnya bagi pabrik komitmen untuk membuat pre-treatment limbah sebelum masuk ke kami,” tambahnya.

Selanjutnya, dikatakan oleh Aan untuk menjawab pertanyaan apakah pihaknya mengetahui oknum perusahaan atau pipa liar yang kerap membuang limbah langsung tanpa diolah ke Cisuminta, “Suspect ada, tapi kita tidak mau nuduh. Pipa existing yang lama mungkin sudah tertutup lumpur sedalam 3 meter,” jawabnya.

“Aliran Cisuminta dari Bandung, ada sekitar 8 pabrik yang dilintasi Cisuminta sebelum masuk equalisasi MCAB,” ungkapnya, selain Cipalasari dan juga Citepus.[St]

Comments

comments