IPAL Komunal PT MCAB Cisirung Terendam Limbah

oleh
IPAL Komunal PT MCAB Cisirung Terendam Limbah

SOROTINDONESIA.COM, Dayeuhkolot,- IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) Komunal yang dikelola oleh PT MCAB (Mitra Citarum Air Biru) kondisinya saat ini terendam air bercampur limbah, setelah salasatu saluran pembuangan limbahnnya di anak Sungai Cisuminta dari siang hingga sore tadi dilakukan proses penutupan oleh jajaran Sektor 7 Satgas Citarum Harum, Senin (23/7/2018).

Penutupan bagian Sungai Cisuminta yang dilaksanakan oleh Dansektor 7 Satgas Citarum Kolonel Kav Purwadi beserta jajaran ini, setelah dilakukan pemeriksaan dan pengecekan selama beberapa hari mengeluarkan limbah yang berwarna pekat, berbau dan hangat. “Kami periksa limbah ini berasal dari pabrik mana saja, namun tidak ada yang bertanggungjawab,” kata Dansektor saat memberikan keterangannya kepada wartawan, kemarin. Sehingga diputuskan bahwa saluran anak Sungai Cisuminta yang jaraknya kurang dari 30 meter dari IPAL komunal yang dikelola oleh PT MCAB ditutup agar tidak mencemari Sungai Citarum.

“Saya putuskan dengan berbagai macam pertimbangan, karena saya sudah melakukan pengamatan limbah ini sebelum Sektor-sektor lain melakukan pengamatan limbah, yaitu pada tanggal 27 Maret 2018 pada pukul 10.00 Wib kami temukan limbah ini dibuang oleh beberapa pabrik. Sehingga kami laporkan kepada komando atas termasuk tim Gakkum. Tetapi sampai tanggal 28 Maret tidak turun. Selanjutnya kami laporkan ke KPK. Esoknya, tim dari Gakkum dalam hal ini DLH Kabupaten Bandung dan Polres turun untuk memeriksa. Setelah dilakukan pemeriksaan, pada tanggal 29 Maret 2018, itu ada dua pabrik yang di police line.” urai Dansektor saat wawancaranya dengan wartawan.

Dilanjutkan oleh Dansektor, “Pada tanggal 3 sampai 14 April 2018 dilakukan pemeriksaan oleh tim dari Menko Maritim mengenai kadar limbah, di mana pemeriksaan meliputi standar mutu. Dan hasilnya semua diluar standar. Lalu pada tanggal 24 April 2018 terjadi kebocoran di pipa mainhole di Jalan Raya Dayeuhkolot yang mengalir ke IPAL. Saya perintahkan dicor. Kemudian pada tanggal 27 April 2018 juga, kita lakukan pemeriksaan, kondisi limbahnya masih sama, bau dan berwarna pekat,” terang Dansektor 7 lagi.

Menurutnya, berdasarkan laporan ini, Deputi IV Menko Maritim mendatangi pihaknya pada tanggal 14 Juli 2018, dan melaksanakan pemeriksaan IPAL komunal, dan kondisi IPAL dinilai sangat parah.

“Sehingga dengan berbagai pertimbangan yang kami laporkan juga pada hari Sabtu kemarin, kami sudah periksa dari ujung sampai ke hilir, ternyata air dibelakang IPAL komunal itu cukup bersih, tetapi setelah lewat IPAL warnanya menjadi gelap. Kami memiliki indikasi, setelah pengecekan hari Sabtu itu, ada kebocoran di pipa atau saluran utama di bak penampungan IPAL komunal, yang warnanya pekat dan bau. Hari Minggu kemarin kami melakukan pengecekan kembali, ternyata kondisinya sama. Sehingga kami laporkan kepada Panglima bahwa hari Senin akan melakukan penutupan saluran ini. Dan kami sudah laporkan kepada tim Gakkum untuk tindakan ini,” urai Kolonel Kav Purwadi.

Dansektor 7 itu juga sempat menyebutkan pada wawancara itu, bahwa dalam pengakuan pihak IPAL komunal MCAB kepada Dansektor, limbah yang masuk kesitu sudah melalui proses treatment. “Tapi itu saya perhatikan dilakukan hanya dibagian depan, itu baru beberapa bulan, mungkin baru satu bulan, di treatment akhirnya bisa jernih. Tetapi dibagian belakang yang di bak penampungan utama, itu tidak diolah. Jadi, dari inlet cukup bau menyengat, berwarna hitam, dan itu terjadi kebocoran,” jelasnya.

“Maka dari itu kami pada hari ini menutup saluran keluaran limbah IPAL komunal Cisirung. Ini dilakukan karena sejak Maret 2018 hingga sekarang tidak ada perubahan yang signifikan. Tetap hitam dan berbau. Ada yang diolah dan ada yang tidak. Juga ada kemungkinan pabrik-pabrik yang membuang limbah langsung ke saluran ini. Kita lihat beberapa hari kedepan, setelah penutupan ini, mana pabrik yang terlihat limbahnya memenuhi pabriknya tersebut. Untuk itu kita akan patroli ke setiap pabrik setelah penutupan ini,” urai Dansektor Kolonel Kav Purwadi.

Jajaran Sektor 7 Satgas Citarum menutup saluran Cisuminta yang merupakan salasatu titik pembuangan limbah PT MCAB

Ditempat terpisah, Manager Operasional PT MCAB, Nur Setiawan, ketika diwawancara oleh wartawan pada hari Minggu 22 Juli 2018 kemarin menjelaskan, “Sebelum kita masuk, ada PT Damba Intra. Kita selama 2 tahun mengerjakan sendiri. Satu tahun pertama kita pakai konsultan, konsultan itu punya proyek dan program pengerjaan beberapa tahapan, yang itu harus dijalankan. Jadi, selama satu tahun itu kami hanya mengawasi pekerjaan konsultan,” katanya.

Dijelaskan lebih lanjut, “Diakhir pekerjaan konsultan selesai, ternyata volume mereka hanya bisa memproses 5.000 meter kubik, maksimal 8.000 meter kubik perhari,” lanjutnya.

Itu kita akui, kata Nur Setiawan, limbah hanya terproses sebagian, belum total, belum selesai hingga tuntas, itu ada keluaran. “Setelah konsultan lewat, kita usahakan semuanya masuk ke tempat kita. Akhirnya kapasitas kita maksimalkan, tapi akibatnya kualitas belum bisa baik,” terangnya.

Diterangkan lebih lanjut olehnya, “Kita saat ini sambil jalankan proses untuk DAF (Dissolved Air Flotation), dan proyek DAF ini diperkirakan selesai bulan September. Tapi sebelum itu selesai, kita kerjakan sendiri yang namanya post treatment, proses ini mengolah dari biology treatment kita lanjutkan ke proses kimia. Cuma alatnya di post treatment ini masih kurang, belum semua kita bisa cover.” terang Nur Setiawan.

Sebetulnya, ungkap Nur Setiawan, kapasitas pengolahan IPAL komunal ini hanya 10.000 meter kubik. “Tapi kapasitasnya kita bisa genjot, kalau misalkan secara kualitas DAF bisa bagus, bisa sampai 13.000 meter kubik perhari. Nah, tapi ini kan programnya baru beres bulan September, dari konsultannya menekankan jalan dulu 3.500 meter kubik, ini janjinya, hingga akhir bulan Juli ini dari DAF akan mengolah 3.500 meter kubik,” ungkapnya.

Terkait penutupan saluran di Cisuminta oleh jajaran Sektor 7 Satgas Citarum. Nur Setiawan menjelaskan, “Dari dulu memang kita buangnya ke Cisuminta, tapi itu kan berasal dari Cikapundung, yang lainnya ke Citarum melewati ke kita. Sebelum ke kita pun sungai ini melewati belakang beberapa industri. Jadi, bila tidak diawasi mereka akan seenaknya buang kesitu,” ucap Nur Setiawan.  “Jika Cisuminta ditutup, sebenarnya kita masih bisa pakai pipa yang langsung ke Citarum, hanya belum maksimal karena ukuran pipanya 12 inch,” tambahnya.

“Yang jelas, jika Cisuminta airnya naik, dampaknya ke MCAB. Pembenahan tembok bendungan kami belum selesai dikerjakan. Jadi IPAL masalahnya di banjir, baknya kuatir ambruk,” pungkas Nur Setiawan.

Ditemui oleh awak media dilokasi tempat pengecoran, Lurah Pasawahan Kecamatan Dayeuhkolot, Mamet Slamet, mengungkapkan dukungannya terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh jajaran Satgas Citarum Harum. “Saya atas nama warga, menyambut baik dengan adanya tindakan dari Satgas Citarum Harum ini. Memang saat ini kami selalu dilibatkan dalam rangka penutupan saluran-saluran limbah perusahaan yang membuang langsung ke aliran sungai. Termasuk yang ini juga, kita bisa lihat langsung ke Citarum ini, Disaat dari arah atas sudah bening, tapi dari saluran Cisuminta ini warnanya hitam dan berbau, dari jarak 5 meter saja sudah tercium bau menyengat,” kata Mamet.

“Kita dari wilayah dan masyarakat menyambut baik dengan tindakan dari tim Satgas Citarum Harum,” ulangnya. [St]

Comments

comments