Sistem IPAL Komunal PT MCAB Cisirung Dinilai Kurang Optimal

oleh -

SOROTINDONESIA.COM, BANDUNG,- Deputi Bidang IV Kemenko Maritim, Safri Burhanudin, laksanakan kunjungan kerjanya ke wilayah Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, dalam rangka pengecekan IPAL komunal yang dikelola oleh PT Mitra Citarum Air Biru (MCAB). Kunjungannya ini didampingi oleh Mayjen TNI Zaedun, Komandan Sektor Satgas Citarum Harum Kolonel Kav Purwadi dan Kolonel Inf Yusep Sudrajat. Sabtu (14/7/2018).

Beberapa langkah memasuki area bersama dengan rombongan dan staf MCAB, Safri tampak terkesima melihat kondisi IPAL komunal tersebut. “IPAL itu pengolahan limbah hingga keluarnya bukan limbah,” ujar Safri. Namun yang ditemukannya saat masuk ke area IPAL, selain pengolahannya yang masih dinilai belum memadai, juga tercium bau limbah yang cukup menyengat. “Ini sepertinya untuk show saja untuk menunjukkan bahwa punya alat, tidak tahu apakah berfungsi atau tidak, buktinya bau dimana-mana,” ucap Safri.

“Ini suasananya tidak terawat, terlihat pengusahanya kurang serius. Kesannya IPAL ini seperti boneka etalase,” kritik Safri. Ia juga terlihat kesal saat menanggapi alasan seorang staf wanita PT MCAB yang coba menjelaskan bahwa IPAL ini adalah warisan yang masih dalam proses diperjuangkan untuk dibenahi. “Setiap proses, setiap kubik itu ada cost-nya. Kalian perusahaan tidak mungkin rugi dong, Kalau buat pengolahan pasti telah dihitung, pengolahan satu meter kubik limbah cair menjadi limbah yang bisa digunakan itu ada cost-nya. Nah jika cost-nya kurang pasti kamu sudah menolak,” ujar Safri. “Ada kemauan atau ngga¬†sih pengelolanya,” tanya Safri. “Ini kayak bangunan tua terabaikan, ini rumah hantu atau bukan. Kalau dikelola dengan baik dan bersih serta tidak ada bau, berarti sistem disini berjalan,” timpal Safri.

Perwakilan BPLHD Jabar, Hera, mencoba menengahi bahwa IPAL komunal ini sering terimbas oleh banjir. Namun dijawab oleh Safri, “Bila akibat terimbas banjir, saya kira itu hanya excuse. Tapi yang terlihat adalah banyak limbah yang langsung dibuang kesana (Citarum). Makanya pertanyaan saya, ibu bisa bantu kami menunjukkan pipa-pipa itu dimana sih?” tanya Deputi kepada Hera. “Ya, jika ada kebocoran dikarenakan pipanya itu tidak sesuai dengan desain awal. Maka dari itu saya juga minta ke MCAB, tolong, hentikan meminta langganan, dan membenahi dahulu IPAL,” jawab Hera.

Setelah perbincangan tersebut yang turut disaksikan oleh rombongan dan staf MCAB serta awak media, Deputi IV melanjutkan peninjauannya ke seluruh bagian IPAL komunal.

Diakhir peninjauan, Safri Burhanudin memberikan keterangannya kepada awak media, “Kita sudah cek IPAL komunal ini, kalau kita lihat kapasitasnya sangat rendah. Akibatnya, limbah yang masuk kesini, mungkin diolah sebanyak 10 hingga 20 persen lalu dibuang lagi. Tampaknya ini bukan tempat pengolahan limbah tetapi tempat transit. Jadi jika kita lihat disitu (aliran sungai) ada limbah, itu ada kemungkinan kebocoran dari sini lalu keluar kesana dan masuk ke Sungai Citarum,” jelas Safri.

“Keuntungan yang diterima oleh perusahaan ini tidak sebanding dengan biaya kesehatan BPJS yang dikeluarkan kepada masyarakat di DAS Citarum,” ucap Safri.

Diterangkan lebih lanjut oleh Safri, “Setiap bahan produksi pasti ada biaya pengolahan. Makanya kita minta kembalikan biaya pengolahan itu, silahkan dikembalikan dan dikontrol kembali, makanya Pak Menko Maritim memberikan waktu Agustus ini persoalan pengolahan limbah harus selesai, harus ada yang kelihatan. Minggu depan akan ada pertemuan sampai dimana perkembangannya,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut dihadapan wartawan, Safri juga mengucapkan terimakasihnya kepada jajaran sektor Satgas Citarum yang selama ini telah bekerja opimal. “Kita berterimakasih kepada aparat TNI yang sudah bekerja siang malam untuk kontrol aliran sungai. Kita perhatikan, limbah itu bukan pagi, dikeluarkannya malam. Untung teman-teman TNI kondisi siang atau malam sama saja. Itu yang kita lihat. Jadi, marilah teman-teman industri bantulah masyarakat, jangan sampai ada yang buang limbah lagi untuk generasi kita kedepan,” urainya.

Saat ditanya oleh wartawan tindakan apa yang akan diambil jika masih ditemukan pabrik yang membuang limbahnya selewat bulan Agustus, “Yang pertama kita minta ditutup,” ujar Safri.

“Tapi sebelum ditutup, kita harus ada bukti-bukti semua. Nah, makanya selama tiga bulan ini ada rangkaian. Teman-teman TNI juga mencatat, dia masih buang sampah atau limbah tanggal sekian berikut data dan contoh limbahnya. Selama tiga bulan kita pantau, jika tidak ada yang melakukan perubahan sama sekali, kita minta ditutup. Kalau ada perubahan kan dalam 3 bulan, untuk¬† IPAL itu juga butuh waktu, tapi kalau tidak ada usaha sama sekali kan perlu kita pertanyakan. Dia serius atau ngga sih? Perusahaan seperti ini yang kita anggap tidak punya keinginan untuk berbuat baik,” tegasnya.

Rangkaian untuk merevitalisasi Sungai Citarum ini menurut Safri adalah stop limbah yang masuk ke Citarum. Setelah itu baru menetralisir kimia. Termasuk pemilihan tanaman yang cocok untuk membantu proses tersebut. [St]

Deputi IV Kemenko Maritim, Dr Safri Burhanudin, saat wawancaranya dengan wartawan seusai meninjau IPAL komunal PT MCAB Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung.
Deputi IV Kemenko Maritim, Dr Safri Burhanudin, saat wawancaranya dengan wartawan seusai meninjau IPAL komunal PT MCAB Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung. Sabtu (14/7/2018).

Comments

comments