Indonesia Di Mata Masyarakat Jepang 100 Tahun Lalu

oleh -
Indonesia
BANDUNG, sorotindonesia.com – Judul diatas adalah bagian dari judul buku karya profesor Jepang bernama Aoki Sumio (66), akademisi dari College of International Studies Chubu University. Seorang profesor yang pernah selama tiga tahun (1984-1987) sebagai staf JICA di Indonesia.

Buku yang berjudul lengkap “Indonesia di Mata Masyarakat Jepang di Hindia Belanda 100 Tahun Yang Lalu Dalam Kartu Pos Bergambar Foto” ini diterbitkan oleh The Daily Shimbun Jakarta PT Bina Komunika Asiatama bekerjasama dengan Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran.

Gagasan pembuatan buku ini oleh Aoki Sumio pada peluncurannya di Bale Motekar Unpad Jl Banda kota Bandung, (24/2), didasarkan temuannya yang membuktikan bahwa pada tahun 1900-an bahkan sebelum tahun tersebut sudah ada orang Jepang yang bermukim di Indonesia.

Indonesia

Pembuktiannya adalah kartu pos yang terpampang foto hasil jepretan karya orang Jepang beserta nama perusahaan percetakan kartu pos yang berbahasa Jepang, diantaranya Kawai & Co.

Menurut prof Aoki, proses pembuktiannya ini tidaklah mudah, digunakan berbagai metode dan penelitian selama lebih dari lima tahun di lintas benua, “Kartu pos yang berhasil dikumpulkan saya dapatkan di Eropa dan ada yang di Amerika, diantaranya dari hasil lelang”, ucap Aoki.

Sebagian data untuk menunjang penulisan buku ini juga diperoleh Aoki dari kementerian luar negeri. Menyusur sejarah awal dan latar belakang orang Jepang hijrah ke Asia Tenggara, terutama dampak sejak restorasi Meiji yang membuat kehidupan perekonomian masyarakat Jepang memburuk. Kondisi tersebut membuat banyak orang Jepang keluar merantau untuk mengadu nasib, kadang memang sengaja dijual oleh keluarganya, awalnya iming-iming dijanjikan ke Tokyo padahal sampai di Tiongkok, Singapura, dan di Indonesia.

“Pada hasil penelitian, akhir tahun 1913 orang Jepang yang bermukim di Bandung ada 24 orang, 16 pria dan 8 orang wanita, satu orang diantaranya berprofesi sebagai fotografer. Lainnya terbagi ada yang menjadi pengusaha kecil, pemilik toserba, pedagang obat, istri dari orang asing, dan bahkan 2 orang lainnya tidak mempunyai pekerjaan”, jelas Aoki. Ditambahkannya, “Nihonjinkai atau perhimpunan orang Jepang sudah ada di beberapa daerah di Indonesia, di Medan dibentuk tahun 1897, Dobo tahun 1905, Manado tahun 1907, Batavia tahun 1913, Bandung, Surabaya, dan di Semarang tahun 1914”.

Penelitian ini juga menjawab pandangan umum orang Indonesia yang mengenal Jepang hanya dari tentaranya pada saat pendudukan, tidak terkecuali mereka (orang Jepang) dianggap sebagai utusan pemerintah Jepang dengan tugas utamanya mengumpulkan informasi guna keperluan militer hingga menjelang Perang Dunia II, hampir diseluruh Asia Tenggara mereka di gosipkan dan dituding sebagai mata-mata pemerintah Jepang. Atas dasar itulah pemerintah Hindia Belanda saat itu melakukan pengawasan ketat terhadap orang Jepang, terutama yang paling dicurigai adalah tukang foto keliling yang mengambil foto setiap bepergian ke berbagai daerah. Padahal menurut data yang diteliti ternyata orang Jepang sudah lama bermukim dan hidup harmonis di Indonesia.

Indonesia

Masyarakat Jepang saat itu banyak yang berprofesi sebagai fotografer dan memiliki usaha toko studio foto dengan teknik fotografi dan kualitas gambar foto yang tidak kalah dari fotografer bangsa Eropa di Indonesia. Di Bandung sendiri diketahui terdapat toko Kawai yang memproduksi dan menjual kartu pos yang bergambar foto.

Pada launching buku karya profesor Aoki ini, Kepala Pusat Studi Bahasa Jepang Unpad Dr Puspa Mirani Kadir mengungkapkan bahwa pihaknya merasa termotivasi dengan apa yang telah dilakukan oleh profesor Aoki, disini usia bukan jadi hambatan untuk terus berkarya. Hal ini diamini oleh dosen Unpad Risma Rismelati, MA., yang selama kurang lebih enam bulan membantu penyelesaian buku tersebut.

Daiki Kusanagi, perwakilan The Daily Shimbun Jakarta pada kesempatan sambutannya berharap buku yang diterbitkan ini bisa dijadikan referensi bagi orang Jepang di Indonesia dan bagi orang Indonesia yang berminat mengetahui tentang Jepang. Tentunya atas kerjasama yang telah dilakukan ini pihaknya berjanji akan memberikan kontribusi yang lebih baik lagi.

Pada akhir acara, profesor Aoki menyatakan keinginannya untuk membuat karya lebih lanjut untuk mengkaji dan membuka sejarah kehidupan orang Jepang yang merantau hingga Afrika dan Asia Tenggara ini dalam sejarah modern Jepang.

“Semoga buku ini mampu membawa satu halaman baru hubungan persahabatan Jepang dan Indonesia”, pungkas Aoki.

Acara ini dihadiri oleh Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unpad Yuyu Yuhana Risagarniwa, Kepala Pusat Studi Bahasa Jepang Unpad Puspa Mirani Kadir, Diro dan Utami dari Komunitas Haiku, Komunitas Aleut, staf dosen dan mahasiswa Unpad dan tamu undangan. (stanly)

Comments

comments