Inilah Hasil Survey Sementara Pilkada DKI Jakarta 2017, Putaran Ke-2

oleh -
Hasil Sementara Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017 (Info Grafis)
Hasil Sementara Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017 (Info Grafis)

Pilkada DKI Jakarta 2017 putaran ke-2 hanya menunggu hitungan hari. Hasil Survey sementara dua paslon saling bersaing hebat untuk memperebutkan suara penduduk DKI Jakarta pada tanggal 19 April 2017 demi bertahta di kursi yang bergengsi di ibu kota negara yang kita cintai ini.

Jakarta.sorotindonesia.com—  Hasil sementara 7 Lembaga Survey nasional terpercaya diantaranya Median, LSI,SDI,Polmark Indonesia,  Poltracking Indonesia,Indikator Politik Indonesia,dan Lembaga Survey Politik Indonesia mencoba merangkum tentang siapa yang kemungkinan bakal duduk di kursi 1 DKI Jakarta pada Pilkada DKI Jakarta 2017 Putaran Ke-2.

Berdasarkan hasil luring informasi yang dihimpun oleh sorotindonesia.com, Jumat 14/4/2017  dari  berbagai media online dan info grafis lembaga survey yang ada di Indonesia persaingan ketat kedua paslon Basuki-Djarot dan Anies-Sandi menjelang pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-2 Tanggal 19 April 2017 semakin seru.

Paslon Ahok-Djarot  mulai ketinggalan presentase elektabilitasnya dibandingkan dengan Anies-Sandi, hal itu dapat dibaca dari penelitian  ke-7 lembaga survey, diantaranya :

Info Grafis Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017-1
Info Grafis Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017-1

Median

Di survei Median, elektabilitas Anies-Sandi sebesar 46,3 persen sedangkan Ahok-Djarot mememperoleh 39,7 persen. Sementara itu jumlah responden yang belum menentukan pilihan sebesar 14 persen.

“Saat ini memang posisinya Anies-Sandi unggul sementara dengan 6 persen, tapi ada dua hal yang harus kita ingat. Jumlah undecided masih 14 persen, artinya orang yang pada putaran pertama kemarin memilih Agus-Sylvi tidak serta merta kemudian memilih Anies-Sandi. Kompetisi masih panjang, jadi masih membuka peluang untuk siapapun memenangkan kompetisi, termauk untuk Ahok, hal ini berkaca dari survei naik turun suara itu sangat dinamis,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun pada acara yang berlangsung di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Senin (6/3/2017).

Survei dilakukan terhadap 800 responden pada 21-27 Februari 2017 dengan menggunakan metode multistage random sampling dan proporsional atas populasi kotamadya dan gender. Margin of error survei sebesar 3,4 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Berdasarkan data survei yang disebutkan, tren suara menunjukkan ada kenaikan suara dari pasangan Anies-Sandi dan sedikit penurunan dari pasangan Ahok-Djarot. Rico mengatakan salah satu alasan suara untuk Anies-Sandin naik adalah 1/3 pemilih Agus-Sylvi di putaran pertama memilih Anies-Sandi pada putaran kedua.

“Dari 100 persen pemilih Agus-Sylvy di putaran pertama, ada 10 persen yang memilih Ahok-Djarot di putaran kedua, 35 persen memilih Anies-Sandi dan 55 undecided,” tuturnya.

Lebih lanjut disebutkan, pada putaran kedua, pemilih Ahok-Djarot dan Anies-Sandi di putaran pertama relatif tetap pada pilihan mereka. Selain itu, naiknya suara untuk Anies-Sandi juga dipengaruhi oleh adanya gelombang semangat untuk memilih asal bukan Ahok yang mulai muncul.

“Saat ditanya apa alasan anda memilih pasangan Anies-Sandi pada putaran kedua, ini kita tanyakan secara terbuka, kita kumpulkan. Yang kita lihat ternyata pemilih Anies-Sandi kental sekali dengan politik identitas atau politik agama 27 persen. Yang baru kita temukan alasannya adalah yang penting jangan Ahok, sebesar 25,9 persen, alasan yang kedua ini yang perlu kita amati karena belum pernah muncul pada survei sebelumnya,” ujar Rico.

Berdasarkan temuan survei, Rico menyatakan pemilih Anies-Sandi didominasi oleh sentimen suasana non kandidat atau situasi di luar kandidat. Rico menyebut pemilih Anies-Sandi dibagi dalam empat kategori yaitu identitas dan anti Ahok sebesar 55,9 persen, kinerja mesin 5,7 persen, framing kompetensi 13,3 persen dan framing personal 8,6 persen.

Sedangkan karakter pemilih Ahok-Djarot lebih memfokuskan pada tema kompetensi. Ada 33,2 persen yang memilih Ahok karena menganggap Ahok berpengalaman dan kinerjanya terbukti.

“Ada tiga variabel utama, framing kompetensi, artinya memilih Ahok-Djarot karena kompetensinya sebesae 41,2 persen, karakter personalnya atau bersih dari korupsi sebesar 34,5 persen, sedangkan kinerja mesinnya lumayan kecil ya hanya sekitar 8,8 persen,” kata Rico. (detik.com 6/3/2017).

Lembaga Survey Indonesia (LSI)

Peneliti LSI pimpinan Denny JA, Ardian Sopa, mengatakan bahwa pasangan Anies Baswedan- Sandiaga Uno berada pada urutan pertama.

“Hasilnya Anies-Sandi memimpin di angka 51,4 persen. Kemudian Basuki atau Ahok dan Djarot berada pada angka 42,7 persen,” ujar Ardian di Graha Dua Rajawali, Rawamangun, Kamis (13/4/2017).

Sementara itu, responden yang menjawab rahasia atau tidak tahu ada 5,9 persen. Ardian mengatakan, dukungan untuk Anies-Sandi sudah berada di atas 50 persen.

“Itu artinya jika pilkada dilaksanakan ketika survei ini dilakukan, masyarakat Jakarta punya gubernur baru bernama Anies-Sandi,” ujar Ardian.

LSI Denny JA melakukan pengumpulan data survei pada 7-9 April 2017. Survei ini menggunakan metode multistage random sampling dengan 440 responden.

Margin of error survei ini adalah 4,8 persen. Sebelum memaparkan hasil survei tersebut, Ardian sempat memaparkan track record survei mereka.

Mereka menampilkan hasil survei mereka pada pemilihan legislatif 2014. Ardian mengatakan, kebanyakan hasil survei mereka terhadap perolehan suara partai saat itu tepat.

“Mayoritas tepat, ada yang selisih tapi tidak jauh,” ujar dia. Mereka juga menampilkan hasil survei saat Pilpres 2009.

Kata Ardian, hasil survei LSI Denny JA menunjukkan pasangan SBY-Boediono saat itu di atas 50 persen. Ardian mengatakan, hal tersebut terbukti.

“Jadi alangkah bijaknya menilai lembaga dilihat dari track record. Kalau ada satu atau dua kurang sesuai bukan berarti segala yang dilalui tidak berarti apa-apa,” ujar Ardian.

Pada putaran pertama, LSI pimpinan Denny JA juga kerap melakukan survei untuk mengukur elektabilitas para calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta.

LSI Denny JA juga mengumumkan hasil survei pada 5 hari sebelum hari pencoblosan putaran pertama, Jumat (10/2/2017).

Berdasarkan survei itu, cagub-cawagub DKI Jakarta nomor satu, Agus Harimurti Yudhoyono- Sylviana Murni, memiliki elektabilitas 30,9 persen.

Kemudian, cagub-cawagub nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok)- DjarotSaiful Hidayat memiliki elektabilitas 30,7 persen, dan pasangan nomor tiga, Anies Baswedan- Sandiaga Uno, memiliki elektabilitas 29,9 persen.

Sementara itu, responden yang belum menentukan pilihannya (undecided voters) sebanyak 8,5 persen.

Hasil survei ini berbeda dengan hasil rekapitulasi penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU DKI.

Berdasarkan penghitungan KPU DKI, pasangan Agus-Sylvi memperoleh suara 937,955 atau 17,07 persen.

Kemudian, perolehan suara untuk pasangan calon nomor urut 2, yakni Ahok- Djarot sebanyak 2.364.577 atau 42,99 persen.

Sementara itu, pasangan calon nomor urut 3, Anies-Sandiaga, memperoleh suara 2.197.333 atau 39,95 persen. (kompas.com 13/4/2017)

Sinergi Data Indonesia (SDI)

Berdasakan survei yang digelar Sinergi Data Indonesia (SDI) pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno tetap unggul dalam Pilkada DKI putaran dua.

Survei dilakukan 10 hingga 17 Maret 2017 terhadap 600 warga Jakarta.

Direktur SDI, Muhammad Barkah Pattimahu, mengatakan diketahui dari 600 responden, 49,20 persennya mendukung pasangan Anies-Sandi.
Sementara, pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat hanya mendapat 42.20 persen.

“Sisanya sebesar 8,60 persen menjawab rahasia, tidak tahu dan tidak menjawab,” kata Pattimahu di kantor SDI, Tebet, Jakarta Selatan, Minggu (3/4/2017).

Dari 600 responden yang disurvei, 50 persennya atau sebanyak 300 orang adalah laki-laki.

Dari respoonden laki-laki tersebut, 50,84 persennya mendukung Anies-Sandi dan 39,55 persennya mendukung Ahok-Djarot.

Sementara 9,62 persennya belum menentukan pilihan.

Dari 300 responden perempuan, 47,57 persennya mendukung Anies-Sandi dan 44,84 persennya mendukung Ahok-Djarot.

Sementara itu yang belum menentukan pilihan sebanyak 7,59 persen.

Responden yang disurvei SDI 87,40 persennya adalah muslim, 6,00 persen Protestan, 4,80 persen Katolik, dan 1,80 persen adalah pemeluk agama selain Islam, Protestan dan Katolik.

Berdasarkan latar belakang agama, diketahui 56,22 persen muslim memilih Anies-Sandi, 34,10 persen memilih Ahok-Djarot, dan 9,67 persen belum menentukan pilihan.

Sementara itu, pemilih dengan latar belakang Protestan dan Katolik, semuanya memilih Ahok – Djarot.

Responden yang berlatar belakang agama selain Islam, Protestan dan Katolik, 68,31 persennya memilih Ahok – Djarot.

20,84 persennya memilih Anies-Sandi dan sebanyak 10,84 persennya belum menetukan pilihan.

“Tapi dari kedua pasangan calon ini, tingkat loyalitasnya masih di bawah lima puluh persen,” ujarnya.

Dari 49,20 persen pemilih Anies-Sandi, 4,03 persennya mengaku masih mungkin untuk merubah pilihannya pada 19 April nanti.

Kemudian, 0,63 persen pendukung pasangan tersebut mengaku tidak tahu dan tidak menjawab.

Sedangkan dari 42,20 persen pemilih Ahok-Djarot, 2,94 persennya mengaku masih mungkin merubah pilihanya.

Serta, 1,73 persennya mengaku tidak tahu dan tidak menjawab.(tribunnews.com  3/4/2017).

Polmark Indonesia
Info Grafis Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017-2
Info Grafis Lembaga Survey Pilkada DKI Jakarta 2017-2

Trend Elektabilitas Basuki Vs Sandi dan Basuki-Djarot Vs Anies-Sandi, tergambar dalam grafik di atas dimanaa pertanyaan elektabilitas pada survei Februari dan Juli 2016 ditujukan untuk bakal caon secara perseorangan, bukan pasangan.

Sementara data survei oktober 2016, Januari – Maret 2017 ditujukan unntuk pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur.

Menuurut grafik Polmark elektabilitas pasangan Anies-Sandi mengalami kenaikan sejak Februari hingga Maret 2017 mencapai 49,1 % sedangkan Basuki-Djarot tertinggal 0,08 % yakni 41,1 %.

Polmark sendiri telah membuat survei jauh hari sebelum Pilkada DKI putaran pertama, dimana survei Polmark pada bulan Januari  2017, elektabilitas Anies-Sandi berada di angka 25,3 persen, disusul Agus-Sylvi 23,9 persen dan Ahook-Djarot yang mendapat 20,4 persen.

“Yang menarik adalah, 23 persen merahasiakan jawabannya. Tidak tahu atau tidak menjawab 7,4 persen,” kata CEO dan Founder PolMark Indonesia Eep Saefulloh Fatah, di Jakarta Pusat, Kamis (19/1).

Info Grafis Polmark
Info Grafis Polmark

Eep menjelaskan, dari jumlah 23 persen yang masih merahasiakan jawabannya tersebut, PolMark Indonesia kemudian memperdalam kembali untuk mengetahui referensi pilihannya.

Hasilnya, kata Eep, ketika ditanya lebih halus preferensi pilihannya menjawab Anies-Sandi 6,4 persen, Ahok-Djarot 4,2 persen dan Agus-Sylvi 6 persen dan tidak menjawab 6,4 persen.

“Artinya, ketika ditambahkan, potensi elektabilitas calon gubernur dan wakil gubernur per awal Januari 2017 menjadi Anies-Sandi 31,7 persen, Agus-Sylvi 29,9 persen dan Ahok-Djarot 24,6 persen. Tidak menjawab 13,8 persen,” kata Eep.

Sementara itu, jika disimulasikan Pilkada terjadi dua putaran, maka Eep menyebutkan Anies-Sandi akan unggul dari dua pasangan calon lainnya.

Jika melawan Agus-Sylvi, pasangan nomor urut tiga ini unggul 33,1 persen dibandingkan 29,4 persen. Sisanya, sebanyak 37,5 persen belum menentukan pilihannya sebesar 37,5 persen.

Sedangkan Anies-Sandi mendapat 44,2 persen jika melawan Ahok-Djarot yang hanya mendapat 21,3 persen dengan pemilih yang belum menentukan pilihannya sebesar 34,5 persen.

Sementara itu, jika putaran kedua mempertemukan Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot, maka pasangan nomor urut satu unggul 44,2 persen melawan 24,3 persen dengan pemilih yang belum menentukan pilihannya sebesar 31,5 persen.

Salah satu faktor terbesar merosotnya elektabilitas Ahok-Djarot, kata Eep adalah kasus dugaan penistaan agama. Dari survei ini, sebanyak 94,2 persen responden mengetahui kasus penistaan agama yang menjerat Ahok.

Di sisi lain, 72,1 persen percaya Ahok menistakan agama, 26,6 persen percaya tidak menistakan dan 1,3 persen tidak menjawab.

Survei PolMark Indonesia dilakukan dengan melibatkan 1.200 responden yang tersebar secara proporsional berdasarkan jumlah penduduk setiap kota. Wawancara dilakukan secara tatap muka pada 6-12 Januari 2017.

Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

PolMark Indonesia, kata Eep juga melakukan quality control sebanyak 20 persen dari total sampel secara acak dengan cara mendatangi kembali atau rekonfirmasi terhadap responden terpilih.

Eep tidak menampik PolMark Indonesia bekerjasama dengan salah satu pasangan calon. Meski dia tidak menyebutkan secara eksplisit pasangan calon yang dimaksud.

“PolMark juga konsultan salah satu paslon. Ketika kami menyelenggarakan survei, survei itu memandu tim pemenangan,” ujar Eep.

Meski demikian, Eep menegaskan bahwa survei dilakukan secara profesional. “Kami selalu menjaga agar proses survei terjaga. Karena tanggungjawab kami berlipat-lipat. Karena lembaga survei yang tidak punya kredibilitas, akan menghancurkan lembaga,” ujarnya. (cnn.indonesia.com 19/1/2017)

Poltracking Indonesia

Survei ini dilaksanakan selama tanggal 24-29 Januari 2017 dengan menggunakan metode stratified-multi stage random sampling yang melibatkan 800 responden.

Survei ini memiliki margin of error sebesar 3,46 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan dengan tujuan ingin melihat persepsi dan perilaku masyarakat dalam Pilgub DKI 2017.

Hasil survei dari Poltracking, tingkat elektabilitas pasangan nomor dua, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat semakin meningkat tajam. Sehingga mengakibatkan tingkat elektabilitas tidak terpaut jauh dengan pasangan nomor tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno yang berada di posisi pertama.

Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda AR mengatakan elektabilitas tiga pasangan dengan simulai pencoblosan, terlihat dalam hasil survei, pasangan Anies-Sandi mendapatkan dukungan sebanyak 31,5 persen, disusul Ahok-Djarot sebanyak 30,13 persen dan pasangan nomor satu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni pada peringkat ketiga dengan elektabilitas sebesar 25,75 persen.

Sementara yang belum belum menentukan pilihan ada sebanyak 12,62 persen. Elektabilitas ketiga pasangan calon ini masih berada dalam rentang margin of error.

Melihat hasil survei tersebut, tingkat elektabilitas Anies-Sandi hanya terpaut 1,37 persen dengan Ahok-Djarot.

“Jadi dari hasil survei ini terlihat, pasangan Anies-Sandi mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Begitu juga dengan Ahok-Djarot mengalami kenaikan yang cukut tajam. Sementara, Agus-Sylvi mengalami penurunan yang sangat tajam,” kata Hanta dalam acara Rilis Survei Poltracking Indonesia di Hotel Oria, Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (1/2).

Terbukti dari trend elektabilitas Anies-Sandi mengalami kenaikan sebesar 2,87 persen dari 28,63 persen (9-13 Januari) menjadi 31,5 persen (24-29 Januari). Lalu, Ahok-Djarot naik 1,25 persen dari 28,88 persen menjadi 30,13 persen. Sedangkan Agus-Sylvi mengalami penurunan cukup tajam sebesar 4,5 persen dari 30,25 persen menjadi 25,75 persen.

“Jika dilihat dari tren elektabilitas, maka kemungkinan besar Pilgub DKI Jakarta akan berlangsung dua putaran. Mengingat belum ada satupun pasangan calon yang berpotensi meraih dukungan 50 persen plus satu,” ujarnya.

Mengenai dua pasangan calon yang akan masuk putaran kedua, Hanta menegaskan hal itu tergantung dari tren elektabilitas selama dua pekan menjelang pelaksanaan Pilgub DKI pada 15 Februari 2017. (beritasatu.com 1/2/12017)

Indikator Politik Indonesia

Indikator melakukan survei soal seberapa mungkin Ahok kembali dipilih pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Hasilnya, ada tren peningkatan bila melihat survei pada Mei 2016 hingga Januari 2017.  Exit Poll dilakukan pada Februari 2017 didapat 43,3 % untuk Ahok-Djarot dan 52,4 % untuk  untuk Anies-Sandi.

Pada Mei-Juni 2016, 58 persen responden menginginkan Ahok, 30 persen ragu-ragu dan 12 persen responden tidak menginginkan Ahok.

Kemudian berdasarkan survei pada November 2016 suara pemilih Ahok anjlok, yakni 32 persen responden menginginkan Ahok, 54 persen ragu-ragu dan 14 persen tidak menginginkan kembali.

Lalu pada Desember 2016, 38 persen responden menginginkan Ahok kembali, 47 persen ragu-ragu dan 15 persen tidak ingin.

Adapun pada Januari 2016, 44 persen responden menginginkan Ahok kembali, 45 persen ragu-ragu dan 13 persen menyatakan tidak.

“Ini artinya di putaran kedua, kalau Ahok masuk lawan Anies atau Agus, penantang Ahok masih punya peluang melawan Ahok,” ucap Burhanuddin. Sebab, kata Burhanuddin, jumlah responden yang tidak menginginkan dan ragu-ragu dengan Ahok masih tinggi.

Menurut Burhanuddin, pertarungan jelang 15 Februari 2017 adalah terkait opini. Burhanuddin mencontohkan alasan dukungan untuk Ahok anjlok dari Mei-Juni hingga November 2016 adalah karena opini sosial politik, di antaranya berkaitan dengan kasus dugaan penodaan agama. Opini itu kemudian kembali naik setelah Ahok meminta maaf.

Burhanuddin menuturkan, jelang 15 Februari 2017, pemilih akan dinamis. Dia tak menampik bila suara yang menginginkan Ahok bisa berbalik, begitu juga sebaliknya. (kompas.com 26/1/2017 dan info grafis lembaga survey). (Berbagai sumber).

(ed by Bhq)

Comments

comments