Harlah PMII Ke-58, Diperlukan Pembaharuan Metodologi Pengkaderan

oleh -
PMII
[sumber foto: nu.or.id]

Banjar, (SI) – Momentum Harlah PMII ke-58, sebagai organisasi mahasiswa Islam yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) telah menghasilkan ratusan ribu kader yang tersebar di penjuru Indonesia. Mayoritas kadernya tinggal di pedesaan dengan berbagai mata pencaharian. Minoritas kader memasuki ruang politik praktis yang tersebar di berbagai partai terutama PKB dan PPP dan partai Nasionalis lainnya.

“Sampai hari ini saya merasa bangga menjadi kader PMII, saya merasakan sekali terjadi perubahan arah gerakan PMII, pada dekade 90-an sampe awal 2000-an tampak begitu kuat isu advokasi kerakyatan. Dalam 10 tahun terakhir ini, sepanjang yang saya amati, lebih pada isu-isu popularitas alias terkesan reaksioner, mungkin hal ini lebih disebabkan era medsos yang serba cepat dan instan yang menyebabkan menurunnya kualitas refleksi pergerakan”, tutur Asep Nurdin kader PMII melalui telepon gengamnya kepada awak media, Rabu (18/04/2018).

Lebih lanjut Asep menerangkan, PMII zaman now sedang berada pada tahap yang tidak mudah, pada satu sisi harus menjaga idealisme pergerakan, dimana harus menjaga jarak dengan kekuasaan yang notabene banyak seniornya masuk di kekuasaan, disisi lain, karakter mahasiswa zaman now menghendaki sebuah pendekatan yang kreatif dan dinamis dimana tuntutan ekonomi masih menjadi bayang-bayang, terangnya.

“Diperlukan pembaruan metodologi pengkaderan untuk memenuhi tuntutan perubahan zaman, era digital telah merubah banyak hal termasuk pola komunikasi masyarakat, saya berharap di tahun politik 2018 ini, PMII mampu meletakkan nilai dasar pergerakan sebagai landasan dalam menyikapi berbagai problem kemasyarakatan dan kenegaraan, jangan sekali-kali tergoda untuk kepentingan sesaat. Ingat, masih panjang perjalanan hidup PMII. Tetaplah mengawal Islam Nusantara, selalu manut kyai dan jadilah kader muda yang sabar dan tabah di tengah-tengah masyarakat mustadh’afien”, pungkas Asep Nurdin. (Herman)

Comments

comments