Giliran Saluran Pembuangan Limbah How Are You Indonesia Ditutup Satgas Citarum Harum Sektor 21

oleh
Saluran Pembuangan Limbah How Are You Indonesia Ditutup Satgas Citarum Harum Sektor 21

CIMAHI,- Saluran pembuangan limbah PT How Are You Indonesia (HAY) Jl. Raya Nanjung, Kota Cimahi, akhirnya ditutup oleh jajaran Sektor 21 Satgas Citarum Harum pada hari, Sabtu (9/6/2018), setelah beberapa kali ditemukan dan diperingatkan oleh Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat karena membuang limbahnya yang berwarna hitam pekat langsung ke aliran sungai.

Mirisnya, dialiran Sungai Cimahi yang terletak persis dibelakang pabrik HAY tersebut saat akan ditutup dengan cara dicor ditemukan puluhan ikan endemik yang mati. Diperkirakan ikan-ikan itu sudah mati lebih dari satu hari. Untuk menuju ke ujung pembuangan limbah perusahaan inipun tidaklah mudah, harus menyusuri kebun penduduk serta semak-semak di sepanjang aliran sungai kurang lebih 1 Km dari jalan raya.

“Ini bukti kekejaman limbah dari PT How Are You, ikan ini pada mati semua, bisa diartikan limbah tersebut masih berbahaya yang dibuang ke DAS Citarum,” kata Kolonel Inf Yusep Sudrajat, sambil memperhatikan dan meneliti bangkai ikan didekat pembuangan limbah.

Dansektor 21 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Yusep Sudrajat saat mengamati ikan endemik yang mati di aliran Sungai Cimahi, Sabtu (9/6/2018).
Dansektor 21 Satgas Citarum Harum Kolonel Inf Yusep Sudrajat saat mengamati ikan endemik yang mati di aliran Sungai Cimahi, Sabtu (9/6/2018).

Salasatu tokoh masyarakat setempat, Yankeu Nugraha, warga Cibodas Rt 04 Rw 15, Kelurahan Utama, Kecamatan Cimahi Selatan, menjelaskan bahwa sungai ini menjadi perbatasan antara Rw 15 dan Rw 10. “Aliran sungai ini sebenarnya jarang tercemar, hanya saja pada dua hari yang lalu ada industri, saya tidak tau perusahaan yang mana, membuang limbahnya ke saluran sungai ini. Kami yang jelas melihat bukti riil bahwa air yang selama ini jernih kemarin itu terlihat hitam pekat dari kejadian kira-kira mulai jam 14.30 Wib sampai jam 18.00 Wib,” jelasnya.

“Saya kira ini yang menyebabkan ikan-ikan pada mati. Mungkin akibat polusi limbah yang dibuang oleh industri,” keluh Yankeu. Ia mengakui bahwa Sungai Cimahi ini hidup beragam jenis ikan seperti nila bahkan mujair.

Ditambahkan oleh Yankeu, pihaknya merasa prihatin, karena untuk serapan air tanah untuk dikonsumsi masyarakat Rw 15 maupun Rw 10, takutnya jika berlangsung lama pembuangan limbah dari industri ini bisa mencemari sumur. Sedangkan kita membutuhkan air bersih. “Kita menilai positif penutupan pembuangan limbah oleh Satgas Citarum ini. Karena kita cinta alam, cinta juga air, mudah-mudahan dengan visi misi Citarum Harum ini bisa terwujud dan berkelanjutan,” harap Yankeu.

Warga masyarakat Cibodas Kecamatan Cimahi Selatan, Yankeu Nugraha.
Warga masyarakat Cibodas Kecamatan Cimahi Selatan, Yankeu Nugraha.

Pada kesempatan yang sama, saat diwawancarai oleh wartawan disela pengecoran saluran pembuangan limbah pabrik PT HAY ini, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat mengatakan, “Saya mendapat perintah untuk mengembalikan ekosistem DAS Citarum di Sektor 21 yang mencakup Kabupaten Bandung (tidak termasuk Majalaya), dan Kota Cimahi. Dibantu oleh 200 personel TNI Satgas Citarum dan lebih dari 100 relawan masyarakat,” ujarnya.

Dijelaskan oleh Yusep, semenjak bulan Februari lalu, Satgas Citarum Harum Sektor 21 telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi permasalahan di wilayahnya. Permasalahan diantaranya adalah adanya sampah permukaan, yang berasal dari sampah rumah tangga, kotoran hewan dan manusia. Kita tau bahwa pada Desember 2017 Sungai Citarum masuk sebagai sungai terkotor di dunia. Dasar itulah, TNI dengan Perpres No. 15 tahun 2018 yang turun pada bulan Februari, masuk untuk mengatasi permasalahan tersebut.

“Bulan Maret sampai April kami pantau, karena pabrik yang ada di wilayah tanggung jawab saya kurang lebih 400 pabrik di Kabupaten Bandung maupun Kota Cimahi, Satgas telah melaporkan pabrik-pabrik yang membuang limbah kotor ke sungai-sungai kepada pihak kepolisian dan Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi maupun Kabupaten Bandung,” ungkap Yusep.

Diterangkan lebih jauh, “Memang kami melihat ada langkah-langkah yang dilakukan pihak kepolisisan dan Lingkungan Hidup, tapi proses itu berjalan, kami selalu mendapatkan laporan bahwa hasil lab-nya selalu di bawah baku mutu. Karena dengan alasan bahwa meski warnanya hitam pekat, biru, merah, dan lain sebagainya, itu tidak masuk dalam regulasi. Padahal menurut PP No. 101, warna masuk kategori B3, harus dimasukan ke drum dan dibawa ke lokasi yang telah diiinkan oleh pemerintah. Dengan demikian, karena kami bertugas sesuai Perpres No. 15 tahun 2018, pada pasal 9 disebutkan bahwa Dansektor berhak melokalisir kerusakan ekositem. Sehingga kami mulai bulan April yang lalu mengambil langkah menutup lubang pembuangan limbah pabrik-pabrik yang masih membuang limbahnya yang tidak diolah melalui IPAL dengan baik. Di Kabupaten Bandung sudah sekitar 6 pabrik, Kota Cimahi ada sekitar 10 sampai 12 pabrik,” urai Yusep.

“Kami bukan mau menutup pabrik, kami paham pabrik perlu menghidupi pekerja-pekerjanya, tapi juga Satgas berkewajiban memperbaiki ekosistem ini yang sudah rusak belasan atau puluhan tahun yang lalu. Karena kita lihat, sungai yang dulunya banyak populasi ikan, sekarang sudah jarang ditemukan. Kami tidak membatasi waktu penutupan lubang limbah pabrik, kami memberikan kebebasan pada pemilik pabrik silahkan kelola dengan baik IPAL-nya. Setelah merasa bisa memproduksi limbah yang ramah lingkungan yang akan dibuang ke aliran sungai yang bersentuhan dengan masyarakat, silahkan manajemen menghubungi Satgas, membuat perjanjian atau pernyataan tidak akan membuang limbah kotor lagi. Baru setelah itu kita buka bersama-sama.

Pemilik PT How Are You Mengakui Kesalahannya Dihadapan Dansektor 21 Satgas Citarum Harum

Setelah menutup saluran pembuangan limbah, jajaran Sektor 21 Satgas Citarum menuju ke kantor PT How Are You (HAY) untuk mengabari penutupan pembuangan limbahnya. Awalnya petugas keamanan pabrik mencoba berkilah bahwa manajemen tidak ada ditempat karena pabrik sudah libur. Namun setelah Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat tiba, petugas keamanan pun akhirnya mempersilahkan jajaran Satgas Sektor 21, awak media serta elemen masyarakat untuk masuk.

Menunggu beberapa saat, pemilik pabrik PT How Are You Indonesia, Mr. Liu, menemui Dansektor 21 di ruang tamu.

Dansektor Kolonel Inf Yusep Sudrajat segera menjelaskan bahwa PT HAY saluran pembuangan limbahnya sudah ditutup, sambil menunjukkan ikan-ikan mati yang diambil dari sungai.

“Itu ikan mati yang berasal dari dalam pabrik yang dibuang ke sungai,” kilah Mr Liu.

Setelah dijelaskan oleh Dansektor bahwa ikan-ikan yang mati tersebut ditemukan di sepanjang aliran sungai setelah lubang pembuangan limbah PT HAY, akhirnya diakui oleh Mr Liu seraya meminta maaf.

“Saya sudah ingatkan kepada manajemen PT HAY beberapa kali sebelum penutupan lubang pembuangan limbah hari ini melalui Ibu Yetti, Pak Liu menerima laporannya?” tanya Yusep, dan dijawab,”sudah”, kata Mr Liu.

Dijelaskan oleh Mr Liu bahwa ia sudah mengecek langsung ke lapangan terkait pengolahan limbah perusahaannya, “Saya sudah cek, ternyata mereka prosesnya kurang lengkap,” jelasnya. Jawaban ini cukup mengejutkan, karena perusahaan sebelum PT HAY ini saat di konfirmasi oleh jajaran Sektor dan awak media selalu mempunyai alasan.

“Sampai tadi malam kami periksa, PT HAY ini masih buang limbah. Hari ini kami tutup pembuangan limbahnya yang mengarah ke sungai, silahkan perbaiki, jika sudah optimal, silahkan hubungi saya,” ucap Yusep.

“Kami berharap pihak perusahaan mendukung program Citarum Harum, karena kerugian negara dan masyarakat juga sudah banyak, salasatu penyebabnya adalah limbah pabrik ini. Oleh karena itu, mari kita perbaiki, jangan ada lagi perusahaan yang membuang limbahnya sembarangan diluar,” kata Yusep dihadapan pemilik perusahaan PT HAY.

“Untuk mengembalikan ekosistem DAS Citarum ini tidak ada pilihan lain lagi, harus berhasil,” tegas Yusep.

Pada giliran berbicara, Mr Liu mengungkapkan bahwa pihaknya sedang dalam proses membenahi fasilitas pengelolaan limbah,”kami gama-nya sudah ada, tinggal dilengkapi, tapi kata konsultan perlu waktu lagi beberapa bulan hingga optimal. Mungkin setelah libur Lebaran ini mereka akan mulai kerja. Kami saat ini prosesnya setengah kimia dan setengah kimia serta biologi. Nanti kedepannya katanya harus setengah kimia dan setengah biologi. Kami treatment-nya biologi,” terang Mr Liu.

“Produksi kami 3 sampai 4 ton sehari, kapasitas limbahnya 900 kubik, sehingga agar optimal treatment-nya dalam pengelolaan limbah kami inisiatif membangun fasilitas baru,” ungkapnya. “Untuk recycle kami sekarang baru 300 sampai 400 kubik,” imbuhnya lagi.

Diakui lagi oleh Mr Liu bahwa hasil pengolahan limbah kimianya yang dibuang ke sungai kadang-kadang kurang optimal,”Kimia hasilnya bagus, tapi kadang-kadang bila kita kurang maksimum hasilnya juga kurang bagus. Makanya sekarang kita fasilitasnya akan ditambah, yang untuk biologi. Setelah proses kimia, lalu biologi yang selanjutnya diharapkan hasilnya bisa bagus,” harapnya.

“Proses penyempurnaan itu 3 bulan kata konsultannya. Tapi sebelum itu kami akan optimalkan prosesnya agar tidak seperti kemarin. Jadi, pas lagi hitam dan bener-bener sudah maksimal tidak bisa bening, kami akan cut. Produksinya akan kami stop dulu,” tegas Mr Liu.

“Tanggal 25 Juni kami sudah beroperasi lagi, silahkan bisa kita check, tanggal 26 Juni sudah mulai kelihatan hasil limbahnya,” pungkasnya. [St]

Comments

comments