Giliran Pabrik Cat Dan Krom Disidak Oleh Dansektor 21 Satgas Citarum

oleh -
Pengecekan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat ke ruang produksi PT Nickcrome Indojaya, Cimahi, Kamis (24/1/2019).
Pengecekan Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat ke ruang produksi PT Nickcrome Indojaya, Cimahi, Kamis (24/1/2019).

CIMAHI, sorotindonesia.com,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama jajaran Subsektor 21-13/Cimahi Tengah & Selatan, melaksanakan giat sidak ke pabrik non tekstil di kawasan Kota Cimahi, pabrik tersebut yakni perusahaan krom PT Nickcrome Indojaya, Jl. Cibaligo, dan PT Indowira Putra Paint Factory yang berlokasi di Jl. Industri II, Kota Cimahi, Kamis (24/1/2019).

Pada sidaknya ke PT Nickcrome Indojaya, Dansektor 21 diterima langsung oleh pemilik perusahaan, Eddy Wirawan beserta jajaran manajemen. Berbincang sejenak, Dansektor lalu mengecek ke proses produksi dan ruang laboratorium kimia, setelahnya mengecek ke IPAL yang berada di sebrang jalan. Mendapat penjelasan dari staf manajemen, Dansektor kemudian melihat ke outlet. Disini Dansektor terlihat cukup puas, karena ada kolam indikator berisi ikan koi hidup dan air olahan limbah yang dibuang ke sungai sudah berwarna jernih.

Hasil penelitian yang diterbitkan oleh beberapa lembaga, pencemaran di Sungai Citarum salasatunya adalah kandungan logam berat yang dibuang ke aliran sungai oleh pelaku industri tidak sadar lingkungan sehingga selama bertahun-tahun kualitas air menurun dan mengganggu ekosistem sungai karena kadar oksigen yang rendah.

Melihat kondisi air hasil olahan limbah pabrik yang sudah clear, tentunya menumbuhkan kembali sebuah harapan akan terwujudnya Citarum Harum, sungai bersih, asri oleh tanaman, dan tidak lagi tercemar zat berbahaya bagi lingkungan sungai.

“Kita saat ini melaksanakan pengecekan ke PT Nickcrome, perusahaan yang bergerak dibidang usaha pelapisan krom pada alat-alat sepeda motor, tadi kita sudah lihat. Perusahaan ini jika tidak melakukan pengolahan IPAL-nya dengan baik, tentunya juga membahayakan ekosistem DAS Citarum,” kata Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat dihadapan awak media.

Dilanjutkan oleh Dansektor, “Air olahan limbahnya yang dibuang perhari 40 hingga 50 meter kubik, sejauh ini kita fokus sejauh mana perusahaan mengolah limbahnya, termasuk juga semua perusahaan yang berpotensi membuang limbah ke aliran sungai yang ada di wilayah Sektor 21 ini. Untuk PT ini kita lihat, hasil olahan limbahnya sudah bening, dan kita lihat juga ada ikan yang hidup di bak kontrol outlet, sebelum limbah akhir itu dibuang ke DAS Citarum. Kita berharap, perusahaan ini terus mempertahankannya, bukan untuk Satgas, tetapi untuk kemaslahatan masyarakat Jawa Barat,” urai Kolonel Yusep.

Dansektor 21 SatgasCitarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menunjukkan air hasil pengohan limbah di outlet PT Nickcrome Indojaya, Kamis (24/1/2019).
Dansektor 21 SatgasCitarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menunjukkan air hasil pengohan limbah yang sudah bening di outlet PT Nickcrome Indojaya, Cimahi, Kamis (24/1/2019).

“Kita ucapkan terima kasih pada pemilik perusahaan PT Nickcrome, Pak Eddy. Harapannya seluruh perusahaan yang berpotensi membuang limbah, agar dikelola limbahnya dengan baik,” ujar Dansektor 21.

Kesempatan yang sama, pemilik PT Nickcrome Indojaya, Eddy Wirawan, menyatakan bahwa perusahaannya sudah beroperasi sejak 30 tahun lalu, “Kita semenjak membangun perusahaan ini, berikut sudah dengan pengolahan limbahnya, karena kita mengambil teknologinya dari Jepang,” ujarnya.

Namun, jelas Eddy, yang kami sayangkan adalah dari dulu saya lihat air sungai itu selalu warnanya hitam, biru, merah. Tapi saya terkejut juga, dengan kurun waktu sembilan bulan ini air pembuangan sudah pada bening. “Mudah-mudahan kualitas air sungai terus ada kemajuan. Terutama usaha di bidang yang model seperti kita ini supaya semuanya menggunakan proses limbah, tidak membuang begitu saja, karena membuang begitu saja juga bagi kami merugikan, karena persaingan bisnisnya jadi tidak karuan, meski kita konsisten dengan adanya pengolahan limbah,” jelas Eddy.

Dikatakan oleh Eddy, jika limbah tidak diolah dan dibuang langsung ke sungai, bahayanya adalah kandungan logam berat. “Maka dari itu kami menggunakan proses IPAL, ada pengendapan dan proses dahulu sebelum dibuang,” katanya.

Dansektor 21 Satgas Citarum Sidak Pabrik Cat PT Indowira Putra Paint Factory
Sidak Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat ke ruang produksi PT Indowira Putra Paint Factory, Cimahi, Kamis (24/1/2019).
Sidak Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat ke ruang produksi PT Indowira Putra Paint Factory, Cimahi, Kamis (24/1/2019).

Selanjutnya, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat beserta jajaran melaksanakan sidak ke PT Indowira Putra, Jl. Industri II, Cimahi, pabrik yang memproduksi cat dan bahan-bahan bangunan lainnya.

Diterima oleh direktur operasional perusahaan tersebut, Raymond Wikono, Dansektor lalu diantar untuk melihat proses produksi hingga pengepakan.

Kemudian mengecek IPAL, tampak dari inlet hasil produksi warna air limbahnya keruh, tetapi setelah melalui proses pengolahan dan dipisahkan dari lumpur, limbah akhir berwarna bening. Selain itu di bak kontrol outlet ada ikan koi hidup.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama jajaran melaksanakan pengecekan IPAL PT Indowira Putra, Cimahi, Kamis (24/1/2019).
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat bersama jajaran melaksanakan pengecekan IPAL PT Indowira Putra, Cimahi, Kamis (24/1/2019).

“Kita lihat tadi, mulai dari proses produksi hingga ke IPAL, pada dasarnya Satgas Citarum ini adalah melihat hasil akhir dari pengolahan limbahnya. Pembuangan limbahnya kita sudah lihat sendiri, hasilnya sudah cukup bening, tadi juga ada ikan koi semua hidup di bak kontrol outlet. Itu harapan kita Satgas Citarum, karena memang amanat dari Perpres No. 15 tahun 2018, Satgas kepada Dansektor salasatunya adalah mengembalikan ekosistem DAS Citarum,” jelas Kolonel Yusep dihadapan para awak media seusai pengecekan.

“Kita tau sendiri bahwa di Sungai Citarum dan anak sungainya biota tidak berkembang, karena sudah tercemar. Mulai bulan Maret 2018 sesuai turunnya Perpres, perusahaan apapun yang ada di aliran DAS Citarum yang membuang limbahnya disana harus sudah dalam kondisi clear. Clear disini artinya disamping airnya sudah bening juga tidak membahayakan pada biota yang ada di sepanjang sungai itu. Kita berharap kedepan ekosistem sudah mulai hidup lagi di DAS Citarum, mulai dari belut, ikan mujair, ikan apapun yang dulunya ada di sungai itu,” terang Dansektor 21.

Hasil limbah akhir PT Indowira Putra, Cimahi, tampak sudah cukup bening yang diambil langsung oleh Kolonel Yusep di outlet pembuangan, Kamis (24/1/2019).
Hasil limbah akhir PT Indowira Putra, Cimahi, tampak sudah cukup bening yang diambil langsung oleh Kolonel Yusep di outlet pembuangan, Kamis (24/1/2019).

Nah, ini kita ucapkan terimakasih kepada Pak Raymond dan pemilik perusahaan ini, telah mengolah limbahnya dengan baik. Kita berharap ini konsisten. Sebanyak 30 juta warga Jabar dan DKI Jakarta memanfaatkan air Sungai Citarum ini. Baik sebagai air minum, mandi, pertanian, dan sebagainya. Oleh karena itu kita sama-sama jaga untuk kemaslahatan masyarakat banyak,” ajak Dansektor 21.

Dikesempatan yang sama, Raymond menjelaskan, “Kita, PT Indowira Putra adalah pabrik yang memproduksi cat dari tahun 1974. Pemasaran kita sudah ke seluruh Indonesia,” terangnya.

Untuk proses pengolahan limbahnya sendiri, diterangkan bahwa metode yang digunakan kimia dan fisika. “Ada pengendapan secara biologi, secara kimianya kita menggunakan PAC, tawas dan primer serta tambahan fasilitas lainnya sebagai upaya pengendapan dari proses,” tambahnya.

“Sebelum ada program Citarum Harum, kita juga sudah peduli terhadap lingkungan, dari LH juga kita sudah mendapatkan predikat biru, untuk ikan di outlet kita sudah lakukan sudah sekitar delapan bulan lalu, sebagai bukti ikan bisa hidup di lingkungan itu,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Raymond, “Perusahaan sudah memiliki komitmen, kita bekerja bukan untuk kepentingan pribadi saja tetapi juga untuk masyarakat sekitar terutama lingkungan hidup, karena kita hidup dari lingkungan sekitar juga. Jadi, kita komitmen kedepan adalah terus melanjutkan apa yang sekarang kita lakukan, kemudian lebih baik lagi dalam mengolah limbah maupun dalam giat lingkungan sekitar,” pungkas Raymond yang perusahaannya memproduksi lebih dari 100 ribu ton per bulan.[St]

Comments

comments