FORDEP Gelar Diskusi Publik Peran Pemuda Dalam Lingkar Kekuasaan

oleh -
FORDEP Gelar Diskusi Publik Peran Pemuda Dalam Lingkar Kekuasaan
Para narasumber dalam gelaran Diskusi Publik bertemakan Peran Pemuda Dalam Lingkar Kekuasaan yang diselenggarakan oleh FORDEP, Senin (10/12/2018). [Foto: Dok. Istimewa]

BANDUNG,- Berbicara politik tidaklah lepas dari kepentingan, yang tidak lain semuanya akan tertuju pada ruang kekuasaan. Hal tersebut, pasti akan selalu menyelimuti ruang-ruang politik. Itu terletak pada bagaimana para pelaku politik mengarahkan kepentingannya dan bagaimana mereka menjalankan kekuasaannya.

Salah satu penyalahgunaan kekuasaan ialah ketika terbentuk ruang kekuasaan yang non-egaliter, diantaranya dengan tidak banyak menyisakan ruang bagi para generasi muda agar mampu berkontribusi dalam mendistribusikan kekuasaan tersebut menjadi sebuah outcome yang lebih populis.

Untuk menjelaskan narasi wacana tersebut, Forum Demokrasi Mahasiswa Padjadjaran (FORDEP) menggelar Diskusi Publik dengan tema “Peran Pemuda Dalam Lingkar Kekuasaan” di Lo.Ka.Si Coffee & Space, Dago, Bandung. Senin (10/12/2018).

Mengemas tema tersebut, FORDEP menghadirkan Ketua KNPI Kota Bandung, Hendra Guntara, S.Hum, M.Ud., Ketua Divisi Data & Informasi KPU Jabar Titik Nurhayati, S.Pd, M.Hum., dan Koordinator Divisi SDM & Organisasi Bawaslu Kota Bandung, Fereddy, S.E.

Diskusi tersebut dihadiri oleh para aktivis muda dari beragam organisasi kemahasiswaan, dan para perwakilan BEM/ HIMA sosial politik se-Kota Bandung.

“Diskusi ini digelar guna menjawab tantangan para generasi milenial dalam menghadapi ruang-ruang politik,” terang Gema Yasa selaku ketua pelaksana.

Kesempatan yang sama, Ikratul Akbar selaku SC kegiatan tersebut menambahkan, “Diskusi ini diharapkan memberi pemahaman mengenai hubungan antara politik dengan kekuasaan”.

Sementara itu, Bayu Mochamad selaku salasatu pengurus FORDEP berkomentar terkait gelaran diskusi yang digelar bahwa kekuasaan terdapat dalam setiap interaksi sosial, khususnya dalam ruang politik. Maka sangat penting untuk membahas hal tersebut.

“Kekuasaan tidaklah melulu bersifat negatif, dalam hubungan kekeluargaan sekalipun pasti terselip kekuasaan. Yang paling mendasar ialah bagaimana cara kita mengatur kekuasaan tersebut agar kembali pada kepentingan sosial dan publik secara menyeluruh tanpa terkecuali,” tandas Bayu Mochamad. [*]

Comments

comments