Intensitas Curah Hujan Tinggi, Flying Gank Disiagakan PT KAI Daop II Bandung

oleh
Joni Martinus, Manager Humas PT KAI Daop II Bandung, saat menjelaskan kepada wartawan tentang kesiagaan regu Flying Gank.
Joni Martinus, Manager Humas PT KAI Daop II Bandung.

BANDUNG,- Intensitas curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kota Bandung dan sekitarnya, membuat PT KAI Daop II Bandung bersiaga penuh untuk mengantisipasi gangguan terhadap perjalanan kereta api, termasuk mensiagakan regu Flying Gank. Hal itu diungkapkan oleh Manager Humas PT KAI Daop II Bandung, Joni Martinus, saat wawancaranya dengan wartawan di tengah kegiatan ekseskusi dilokasi SPBU Jl. Kebon Kawung, Kota Bandung, (6/3/2018).

“Kita saat ini menyiagakan regu flying gank di titik-titik stasiun strategis, seperti di Cimahi, Padalarang, Purwakarta, Tasikmalaya, dan Cipeundeuy. Itu kita cek. Flying gank ini adalah regu-regu kecil, regu terbang, yang beranggotakan tiap regunya sebanyak 10 orang. Mereka akan bergerak dengan cepat bila terjadi atau mendapatkan laporan ada gejala-gejala yang membahayakan perjalanan kereta api. Bila dianalogikan untuk kesehatan adalah seperti P3K, sebelum alat-alat berat meluncur ke lokasi,” terang Joni.

Disebutkan oleh Joni, lintasan kereta api yang ekstrim itu ada di Daop II Bandung. “Ekstrimnya yaitu rawan bencana karena kondisi alamnya yang berbukit-bukit, bergunung-gunung dan lembah serta tebing. Rawannya disini adalah longsor, pergerakan tanah, banjir, atau ambles. Amblesnya ini karena kontur tanah yang berada dibawah bantalan rel mengalami penurunan. Sehingga relnya ambles,” jelasnya.

Diidentifikasi, kata Joni, ada 47 titik rawan di lintasan Daop II Bandung, dari Banjar hingga Purwakarta dan Cianjur. “Nah, antisipasi kita supaya jalan kereta api tetap aman, kami mendirikan posko pemantauan daerah rawan di 47 titik tersebut,” ujarnya.

Posko-posko tersebut menurut Joni bersiaga selama 1×24 jam. “Masing-masing posko bekerja 1×24 jam bergantian. 1 titik dijaga oleh 4 orang dibagi menjadi 3 shif. Mereka dilengkapi alat-alat kerja seprti alat komunikasi ke stasiun kemudian alat-alat pengukur penurunan tanah. Jadi mereka bisa mendeteksi gejala longsor, seperti beberapa waktu lalu di Bumiwaluya-Cipeundeuy. Karena ada kesiagaan tersebut sehingga kejadian yang bisa menimbulkan jatuhnya korban bisa diredam,” jelasnya lagi.

Selain menyiagakan regu Flying Gank dan Posko Penjaga Pemantauan Titik Rawan, PT KAI juga menyiapkan material yang digunakan bila ada kejadian-kejadian rawan. “Kami menyebutnya AMUS, atau Alat Material Untuk Siaga,” jawab Joni. “AMUS ini kita siapkan di stasiun-stasiun strategis. AMUS ini diantaranya adalah bantalan rel cadangan, dongkrak, kemudian juga batu pasir. Sehingga ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Amus ini yang sudah ditempatkan di gerbong bisa langsung bergerak ke lokasi yang dibutuhkan,” kata Joni lebih jauh.

“Namun masyarakat tidak perlu kuatir, sampai saat ini kondisi jalan kereta api di lintasan Daop II Bandung masih terpantau aman,” Pungkasnya. [St]

Comments

comments