FKPT Jabar Ajak Masyarakat Tolak Hoax Dan Radikalisme

oleh
Ketua FKPT Provinsi Jawa Barat (FKPT Jabar), Yaya Sunarya.
Ketua FKPT Jabar, Yaya Sunarya.

BANDUNG,- Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme Provinsi Jawa Barat (FKPT Jabar), Yaya Sunarya, yang baru dilantik beberapa waktu lalu menggantikan Dani Setiawan oleh Ketua BNPT Komjen Pol Suhardi Alius, menerangkan bahwa Jawa Barat pada hakikatnya merupakan daerah yang damai dan kondusif. Hal ini dikatakannya saat ditemui oleh wartawan pada acara peresmian papan nama identitas Bawaslu Jabar dan Pojok Pengawasan Partisipatif di Jl Turangga No. 25, Kota Bandung, (6/3/2018).

“Ini dilihat dari beberapa aspek, diantaranya aspek sosiologis, Jawa Barat memiliki falsafah Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh dan Silih Wangikeun,” ujarnya.

Selain itu, kata Yaya, dari aspek fisiologis orang Jawa Barat itu santun, ramah, dan agamis, meski jumlah penduduknya terbanyak di Indonesia.

Tapi diakui oleh Yaya bahwa munculnya tindakan-tindakan radikalisme, terorisme bahkan yang mengarah ke separatisme, itu membutuhkan penanganan yang khusus. “Tugas kami adalah mencegah, lebih baik mencegah daripada mengobati,” tambahnya.

Dijelaskan olehnya, untuk mengantisipasi dan langkah pencegahan agar Jawa Barat tetap kondusif, pihaknya sudah langsung melaksanakan road show ke beberapa titik di Jawa Barat, “Diantaranya kami kemarin baru selesai melaksanakan kegiatan di Kabupaten Karawang dan Purwakarta, itu juga disisipkan tentang masalah-masalah Ipoleksosbudhankam (Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial, Kebudayaan, Pertahanan dan Keamanan),” terangnya lagi.

Namun diingatkan oleh ketua FKPT Jabar yang enerjik ini, kita harus waspada dengan yang namanya Proxy War, “Saat ini kita sedang sibuk-sibuknya dihadapkan dengan proxy war, ataupun yang namanya asimetris, ini juga sebetulnya perlu diteliti, apakah ini dari dalam atau dari luar (negeri), karena yang namanya asimetris ini adalah yang tidak seharusnya terjadi,” kata Yaya.

Terkait dengan gelaran Pilkada yang rawan terjadi penyusupan, “Kami juga di FKPT Jabar membuat kajian yang sama, tugas kami adalah undercover dibawah dan tidak muncul ke permukaan, sama-sama ikut bertanggungjawab terhadap negara ini. Yang namanya hoax, kami sudah sosialisasikan ini pada penyelenggaraan Pilkada maupun penyelenggaraan lainnya, ini kita harus tolak yang namanya politik uang, hoax, apapun yang tidak baik. Kami menjelaskan kepada masyarakat, jadilah masyarakat yang cerdas, paham situasi dan kondisi karena sekarang masyarakat juga sudah hampir tidak percaya dengan berita hoax ini,” ujarnya. “Ini kan tanggungjawab bersama,” ajaknya yang disampaikan melalui media.

Yaya menerangkan lebih jauh, “Memang ini bisa saja dikait-kaitkan dengan situasi menjelang penyelenggaraan Pilkada 2018, ataupun pilpres, pileg dan DPD di tahun 2019. Karena tahun ini tahun politik, tetapi kita tetap menjaga agar tidak terjadi situasi yang tidak kondusif. Tadi sudah dijelaskan oleh pihak Bawaslu, Insya Allah, yang namanya hoax dan politisasi SARA itu sudah kita antisipasi dengan berbagai kajian-kajian,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar senantiasa menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dan lebih peka terhadap berbagai ancaman memecah belah bangsa yang datang dengan berbagai rupa, seperti dari persoalan Finance (fluktuasi mata uang), Food (pangan), Fashion (tatacara budaya berbusana), Fight (adu domba), Film (informasi), Fantasy (contoh: Narkoba), dan Friction (Antar lembaga dibuat pergesekan). [St]

Comments

comments