Ridwan Kamil Kaji Pembentukan Wilayah Administrasi Citarum

oleh -
Ridwan Kamil Kaji Pembentukan Wilayah Administrasi Citarum
Gubernur Jabar, Ridwan Kamil, selaku Dansatgas Citarum Harum saat penyampaian paparan di acara evaluasi satu tahun program Citarum Harum di Graha Manggala Siliwangi, Jl. Aceh, Kota Bandung, Selasa (15/1/2019).

BANDUNG, sorotindonesia.com,- Satuan Tugas Citarum menggelar rapat evaluasi satu tahun program Citarum Harum yang dilaksanakan di Graha Manggala Siliwangi, Jl. Aceh, Kota Bandung, Selasa (15/1/2019).

Hadir sebagai narasumber pada acara tersebut, Dini Heniarti dari Citarum Institute yang juga selaku Ketua APDHI, Gubernur Jabar Ridwan Kamil selaku Dansatgas Citarum Harum, Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Tri Soewandono selaku Wadan Satgas I dan Kapolda Jabar Irjen Pol Drs Agung Budi Maryoto selaku Wadan Satgas II.

Ridwan Kamil pada paparannya dihadapan perwakilan dari kementerian, kepala daerah bupati dan walikota serta ratusan undangan dari berbagai komponen masyarakat, menjelaskan, Sungai Citarum menjadi masalah dan isu nasional, karena citra Citarum mudah viral. “Viral itu terbagi dua, viral positif dan viral negatif, nah ini menjadi citra buruk dari wajah kita di dunia internasional,” kata Ridwan Kamil.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Ridwan Kamil, “Kemudian dari Perpres No. 15 tahun 2018 itu ditugaskan 7 tahun kita akan membuktikan, apakah orang Indonesia ini mampu atau tidak, khususnya orang Jawa Barat ini bisa atau tidak, pesannya adalah seperti itu. Didalam Perpres tersebut Gubernur Jabar ditunjuk sebagai komandan Satgas, disinilah saya akan menyiapkan cara di 2019 agar semuanya terkoordinasi,” jelasnya panjang lebar.

Ridwan Kamil dikesempatan itu juga menyentil cara pandang warga terhadap program revitalisasi sungai terpanjang di Jawa Barat itu, “Orang yang tau Citarum terbagi menjadi 3, ada yang peduli, ada yang tidak peduli dan ada mereka yang merusak dan mencemari. Jadi sebenarnya kita masuk golongan yang mana? 1. Yang peduli, 2. Cuek, atau 3. Yang memang bagian dari masalah,” ujarnya.

“Mereka yang peduli, kami memberikan apresiasi, karena inisiatifnya atau tugasnya, itu sudah melakukan upaya-upaya. Namun juga kita masih sadari, masih ada permasalahan koordinasi, ada puluhan kelompok yang berkegiatan di Citarum ini. Pertanyaannya, misalkan, apakah kelompok nomor satu tau kegiatan yang dilakukan oleh kelompok nomor 30? Apakah kelompok nomor 5 paham apa yang dikerjakan oleh kelompok nomor 50? Itulah kenapa karena tidak adanya koordinasi terpusat, maka di 2019 kita harus perbaiki,” urai Ridwan Kamil.

Ada beberapa langkah solusi yang ditawarkan oleh Gubernur Jabar itu untuk mengatasi persoalan koordinasi.

“Pertama, mulai bulan depan Citarum Harum ini ada kantornya untuk pusat komando, di Jalan Naripan. Kantor BPLHD Jawa Barat akan kami pindah, gedung yang kosong ini selanjutnya akan kami dedikasikan untuk pusat komando Citarum Harum. Jadi, nanti semua rapatnya disitu, ambil keputusannya disitu, ada pusat command center-nya, CCTV yang akan hadir dilihatnya disitu, semua diputuskan disitu, tidak lagi terpisah-pisah. Ini satu komitmen,” kata Ridwan Kamil yang langsung mendapat aplaus dari segenap yang hadir.

Kedua, lanjutnya, hari ini kita perbanyak evaluasi, nanti di awal bulan Februari kita akan ada acara, yakni Expo Citarum, disana semua kelompok kami minta untuk daftar ulang komitmennya. Kalau pribadi mau apa komitmen pribadinya, kalau kelompok mau apa sumbangannya, dari perguruan tinggi berarti keilmuannya, kalau bisnis berarti komitmen best practice business-nya atau bahkan CSR-nya, dari Pramuka yang sudah datang kepada kami, akan door to door campaign menyuarakan Citarum. Jadi banyak sekali, sehingga kami harus tau, jadi setelah daftar ulang akan paham pasukan kita ini ada berapa ribu, speknya seperti apa, setelah itu diakhir acara kita bikin rencana aksi, di mana semua orang akan pulang membawa tugas dimana dan koordinatnya dimana, melakukan apa dan jadwal apa. Termasuk jika butuh pendanaan, dananya darimana,” bebernya.

“Hari ini mohon maaf, saking banyaknya dan masih belum maksimal sehingga tidak semua bisa terdanai oleh negara, karena informasinya tidak masuk di jadwal yang seharusnya. Mudah-mudahan kita akan perbaiki terus, sehingga tidak ada lagi kementerian-kementerian yang mau belanjakan anggaran tapi tidak ngobrol satu sama lain terhadap Citarum,” sambung Ridwan Kamil.

“Saya menitipkan, semua wilayah-wilayah juga harus bergerak dengan hal yang sama, misalkan daerah-daerah yang terlewati Sungai Citarum atau anak sungainya yang berujung ke Citarum juga melakukan rencana aksi. Misalkan Kota Bandung memastikan Sungai Cikapundung atau sungai-sungai yang masuk ke Citarum, itu relatif sudah bersih, tidak ada sampah karena dilakukan penahanan-penahanan sampah di anak sungainya sebelum bermuara ke Sungai Citarum,” pesannya.

“Kita juga ada terobosan inovasi yang sedang dikaji, kemungkinan kita akan memperlakukan Citarum sebagai wilayah administrasi sendiri, kira-kira begitu. Karena sekarang hadir dari belasan kota dan kabupaten, di sektor anu butuh penanganan sampah lapor ke kabupaten anu ternyata urusannya panjang, di kota ini butuh bantuan apa, repot. Jadi, kalau satu wilayah administrasi, nanti urusan Citarum dikelola oleh satu manajemen saja,” ungkap Ridwan Kamil.

Diterangkannya, “Radius misalkan 500 meter dari garis tengah sungai, itu wilayah kerja sendiri. Dinas kebersihan sendiri, urusan pengetes kualitas air juga kita lakukan terpusat,”  terangnya.

Insha Allah, kalau semuanya satu komando, siapa yang ngegas, siapa yang ngerem, siapa yang dicicil, siapa yang ngabret, itu diatur iramanya. Itulah yang akan membawa progress luar biasa, bangsa Indonesia tidak bisa dikalahkan kalau kompak dan bersatu, masalahnya bukan uang, masalahnya bukan ilmu, masalahnya adalah kekompakan persatuan dalam satu irama,” tuturnya.

Mudah-mudahan, harap Ridwan Kamil, dengan dimulainya komitmen 2019, insha Allah saya meyakini Citarum Harum ini akan mengakselerasi dengan maksimal, sehingga kita bisa lihat di Desember 2019 dari mulai penanganan sosial ekonomi, penanganan pencemaran, penanganan hukum dan lain-lain akan terkoordinasi beriringan satu irama sehingga menjadikan sebuah kebaikan.

“Kita juga akan bikin aplikasi, supaya tadi, apa mengerjakan apa bisa diketahui oleh siapapun tanpa harus lapor-lapor di forum rapat. Karena kita sekarang sudah dijaman digital. Semoga ini bisa menjadi bahan untuk rencana aksi di pertemuan kedua, setelah itu semua akan pegang brosur fotocopy-nya, lihat namanya tugasnya dimana berbuat apa saja, berapa lama, kerjakan, nanti kita memanen kumpulan-kumpulan pekerjaan itu menjadi sebuah kebaikan yang luar biasa,” ungkap Ridwan Kamil lagi dalam paparannya.

Terpisah, Mayjen TNI Tri Soewandono saat diwawancarai wartawan terkait dengan evaluasi satu tahun Program Citarum Harum mengungkapkan, “Seperti yang ditampilkan tadi di slide saat paparan bahwa hasilnya sungai sudah lumayan bersih, tapi kita berfikirnya bukan hari ini saja, namun bagaimana kita memberdayakan masyarakat hingga mereka sadar bahwa Sungai Citarum itu milik mereka juga,” kata Pangdam III/Siliwangi tersebut.

Dilanjutkan oleh Pangdam, “Kedepannya kita harus lebih banyak merangkul masyarakat,” ujarnya.

Program tahun 2019 ini, sambung Pangdam, “Kita akan lebih mengintensifkan lagi serta sinergi antar sektor dengan terbentuknya kantor pusat pengendali (Satgas Citarum) di Jalan Naripan, Bandung, sehingga kontrolnya hanya disitu. Jadi, lebih sinergi lagi,” kata Pangdam III/Siliwangi selaku Wadan Satgas I Bidang Penataan dan Pengendalian Ekosistem ini. [St]

Comments

comments