Luar Biasa, Ekspor Ikan Hias Dari Bandung Naik Tajam

oleh

BANDUNG – Satu lagi berita gembira yang bisa membuat masyarakat khususnya pelaku perikanan ikan hias bangga. Data yang dihimpun dari hasil monitoring BKIPM (Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan) Kementerian Perikanan dan Kelautan Bandung, pada tahun 2017 terjadi peningkatan tajam ekspor ikan hias yang berasal dari Bandung.

“Terjadi peningkatan sejumlah 7-8 juta ekor pada tahun 2017 dibandingkan dengan jumlah ekspor tahun 2015 dan 2016. Jika disetarakan dengan nominal, meningkat sekitar Rp 18 sampai 20 milyar,” ungkap Kepala BKIPM Perwakilan Bandung, Dedy Arief, pada keterangannya lewat pesan seluler kepada sorotindonesia, Sabtu (16/12/2017).

Menurut Dedy Arief, peningkatan ini merupakan efek positif dari kepercayaan negara-negara pengimpor ikan hias kita, karena farm-farm/ eksportir yang ada di Bandung telah mengantongi Sertifikat Jaminan berupa Good Fish Quarantine System yang dipersyaratkan negara yang bersangkutan.

“Substansi jaminan tersebut adalah jaminan bebas penyakit ikan tertentu yang diminta negara tujuan, jaminan konsistensi penanganan dengan konsep biosekuriti yang baik serta jaminan monitoring berkala dari BKIPM Bandung,” terang Dedy Arief yang juga selama ini aktif ikut turun ke masyarakat untuk memberikan edukasi.

Berdasarkan data dari BKIPM Bandung, negara-negara yang masuk dalam 6 besar pengimpor ikan hias dari Bandung ini adalah negara Jerman, Amerika, Canada, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura.

Lebih lanjut informasi yang disampaikan oleh Dedy, jenis ikan yang diminati negara pengimpor adalah ikan endemik sungai-sungai di Indonesia, seperti Rasbora, tetra, betta, udang hias, snail.
“Kami akan meningkatkan pelayanan Sertifikasi Kesehatan Ikan dan Mutu sesuai ISO 9001 yang telah kami kantongi, juga meningkatkan pelayanan Lab yang akurat sesuai ISO 17025 sebagai laboratorium uji,” jelas Dedy yang telah berkomitmen menunjang kualitas ikan hias tujuan ekspor ini.

Dedy menambahkan, “Pengawasan di lapangan juga akan kami tingkatkan, jika terdapat indikasi adanya tindak pelanggaran UU 31 tahun 2005 tentang perikanan dan UU 16 thn 1992 tentang Karantina,” tegas Dedy Arief.

Peningkatan jumlah ekspor ikan hias ini diharapkan menjadi pemicu bagi tumbuhnya wirausaha baru dibidang perikanan dan menjadi prospek usaha yang dapat diandalkan. “Harapan kami, anemo masyarakat terhadap budidaya ikan hias semakin meningkat dengan pembinaan dari Dinas Perikanan Pemerintah Daerah Setempat dan kami sebagai Otoritas Kompeten Sertifikasi CKIB. Kami akan berupaya melakukan jaminan pada sistem manajemen terpadu,” harap Dedy.

Disebutkannya, target pemerintah adalah Indonesia Menjadi Negara Pengekspor Ikan Hias Terbesar Dunia.¬† Maka dari itu, mari kita sukseskan bersama demi kedaulatan sumber daya kelautan dan perikanan kita serta untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ajak Dedy.

“Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan adalah mitra masyarakat. Di seluruh Indonesia terdapat 47 titik kantor karantina ikan ditambah lebih dari 100 wilayah kerja di tempat-tempat terpencil. Sehingga tidak ada alasan bagi siapapun yang bertujuan akan mengirimkan komoditi perikanan baik antar area di Indonesia ataupun ekspor tidak memenuhi persayaratan karantina ikan dan mutu,” pesan Dedy.

Dikesempatan itu, Dedy mengajak masyarakat bahwa Karantina Ikan Dan Mutu Bukan Sekedar Kewajiban, tetapi Merupakan Kebutuhan.[*]

Comments

comments