Dies Natalis Ke-50 ISBI Bandung Angkat Nasib Sungai Citarum

oleh
Dies Natalis Ke-50 ISBI Bandung Angkat Nasib Sungai Citarum

SOROTINDONESIA.COM, Bandung,- Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung genap berusia emas ke-50 di tahun 2018 ini. Tema yang diusung pada dies natalis ini adalah Berbagai Budaya Jawa Barat dan Nusantara dalam Bayangan & Mandala : ISBI Bandung Keur Tatar Sunda Jeung Nusantara”.

Pada gelaran dies natalis kali ini, tim artistik dari ISBI menyiapkan satu mata acara menarik yang mengedepankan kriya produk kearifan lokal yang berhubungan dengan air dan sungai, ditunjuk sebagai koordinator kriya adalah Dr. Mohamad Zaini Alif.

“Tema besar yang kita usung dalam bentuk artistik ini, sebenarnya mendukung apa yang sedang digaungkan oleh masyarakat, yakni kaitan dengan Sungai Citarum. Karena kepekaan dari seluruh seniman terutama civitas akademika ISBI, bagaimana peka terhadap hal tersebut,” kata Zaini mengawali keterangannya kepada wartawan tentang seni artistik yang akan ditampilkan pada acara dies natalis.

“Maka kini kita ungkapkan dengan artistik yang bertemakan Citarum. Salasatunya kita buat bubu (alat penangkap ikan) setinggi kurang lebih 7 meter, serta ratusan lainnya yang ukurannya lebih kecil. Harapan saya agar masyarakat sadar kembali tentang bagaimana fungsi sungai di masyarakat yang berkaitan dengan fungsi sosial dan ekonomi,” terangnya terkait dengan kriya yang akan dipajang di halaman ISBI ini.

“Hubungan antara seni dan Citarum itu kuat sekali, terutama kaitan dengan seni rupa. Jadi kita mencoba mengetuk masyarakat yang datang kesini, mari kita kembalikan lagi sungai kepada habitat yang aslinya,” kata Zaini tentang pesan yang ingin disampaikan.

Dijelaskan lebih lanjut oleh Zaini, “Sasmita atau sindiran yang halus ini merupakan ajakan bagi masyarakat kita kaitan dengan kondisi Sungai Citarum. Seperti ayakan, bagaimana sih ayakan ini digunakan, bagaimana bubu itu digunakan, bagaimana sirip untuk menangkap ikan digunakan, yang generasi sekarang mungkin tidak mengenalinya lagi. Karena memang sungainya sudah tidak layak untuk memasang alat-alat tersebut,” jelasnya miris karena ikan kini sudah jarang ditemukan di sungai.

“Mungkin dengan hal yang kaitannya ada nilai budaya disana (sungai), diharapkan orang-orang atau generasi sekarang sadar tentang lingkungan, bahwa ada banyak produk-produk yang bernilai manfaat dan nilai guna di masyarakat yang memiliki bentuk-bentuk kearifan masyarakat lalu, yang mungkin bisa berkembang sekarang sebagai bentuk kesadaran terhadap kebersihan sungai itu sendiri,” harap dosen Seni Rupa dan Design di ISBI ini yang dikenal juga sebagai Doktor Permainan Tradisional.

Zaini Alif pada kesempatan tersebut juga ingin menunjukkan bahwa kriya itu bisa dituangkan sebagai alat mengkampanyekan sebuah program ke masyarakat. “Design itu tidak hanya sebuah bentuk yang bisa dipakai, tetapi bisa juga sebagai sebuah media yang bisa bermanfaat untuk masyarakat,” pungkasnya.

Dr Mohamad Zaini Alif saat diwawancara oleh wartawan terkait persiapan kriya terkait Sungai Citarum di acara Dies Natalis ke-50 ISBI Bandung, Rabu (3/10/208).
Dr Mohamad Zaini Alif saat diwawancara oleh wartawan terkait persiapan kriya terkait Sungai Citarum di acara Dies Natalis ke-50 ISBI Bandung, Rabu (3/10/208).

Kesempatan terpisah, Rektor ISBI Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen, M.Hum., menjelaskan, “Pada Dies Natalis tahun emas ini memang kita mencoba ada beberapa hal yang berbeda dengan biasanya, kami sekarang mengangkat tema artistik khususnya berkaitan dengan respon keadaan terkini yakni Citarum Harum yang merupakan program yang benar-benar sedang di push oleh pemerintah. Alat-alat yang dibuat itu adalah bagaimana mengingatkan kita agar DAS Citarum kembali bisa dimanfaatkan untuk menangkap ikan, ada bubu lagi di sungai dan alat lainnya. Ini sebagai kritikan yang halus bahwa anak sungai dan Sungai Citarum harus bersih,” jelas Een.

Ia juga mengapresiasi kinerja jajaran Satgas yang responsif terhadap sampah dan juga penindakan terhadap pabrik-pabrik yang membuang limbahnya ke sungai. “Kami melihat kemajuan Sungai Citarum sedikit demi sedikit, bahkan saya membaca bahwa ada pabrik-pabrik yang membuang limbah, itu langsung di tutup salurannya. Akhirnya kan pabrik-pabrik mencari cara lain untuk tidak coba membuang lagi limbah ke sungai. Itu saya kira sudah sangat bagus,” ujar Een.

Diterangkan lebih lanjut oleh Een, “ISBI juga mencoba ikut berpartisipasi dalam program di Citarum ini. Kita akan merespon dengan Kuliah Kerja Nyata (KKN), tetapi untuk bidang seni ini kami belum langsung, harus seperti apa, jika contoh seperti Kang Tisna membuat lukisan-lukisan di Citarum, itu kan contoh yang luar biasa, mungkin nanti ada model lain untuk kita, seperti penyuluhan kepada masyarakat dengan cara pertunjukan seni, itu insyaallah ada programnya,” terangnya.

Rektor ISBI Bandung, Dr Een Herdiani, S.Sen, M.Hum.
Rektor ISBI Bandung, Dr Een Herdiani, S.Sen, M.Hum.
Dies Natalis ISBI ke-50 Beri Penghargaan Kepada Saini KM

Selain menggelar beragam pertunjukan seni budaya dan kegiatan seperti Isbian Games, pada Dies Natalis kali ini ISBI akan memberikan penghargaan kepada Saini KM.

“Di tahun emas ISBI ini bertepatan dengan usia 80 tahun Bapak Saini KM. Ketika kita berbincang-bincang dengan alumni, ternyata alumni juga berkeinginan yang sama, sehingga di Dies Natalis ke-50 tahun ini kita mengangkat juga Saini KM dalam bentuk memberikan penghargaan dan pertunjukan-pertunjukan,” kata Rektor ISBI Bandung, Dr. Een Herdiani.

“Partisipasi alumni-alumni ini sangat luar biasa, juga dari orang-orang diluar yang bukan murid-murid saya secara langsung, tapi tau karya-karya dari Pak Saini dan mereka antusias untuk ikut didalamnya,” tambahnya.

Menurut Een, sosok Saini KM ini adalah guru yang sangat santun, ilmuwan, budayawan, sastrawan yang memiliki talenta masagi. Disamping itu, Saini ini bukan orang yang sombong, low profile, orang yang patut menjadi contoh. “Sekarang ini kita hampir kehilangan orang yang seperti beliau, sehingga kita mengangkat Pak Saini agar masyarakat bisa mengingatkan lagi nilai-nilai budaya lokal yang diajarkan Pak Saini. Sampai sekarangpun beliau tidak pernah lepas dari nilai-nilai tradisi lokal kita,” jelas rektor yang murah senyum ini.

Ini Kata Tim Relawan 80 Tahun Saini KM Di Acara Dies Natalis Ke 50 ISBI

Saini KM merupakan salah satu sosok yang tidak bisa dilupakan dalam sejarah pamajuan kebudayaan Indonesia. Budayawan humanis ini telah menjadi guru, motivator, menginspirasi banyak orang dan menulis naskah drama, puisi, cerita rakyat, novel, juga esai. Tahun 2018 ini, diusianya menginjak ke 80 tahun sangatlah layak mendapat penghormatan. Yakni sebuah penghargaan terhadap dedikasi dan karyanya yang sudah memberi banyak kontribusi bagi pemajuan kebudayaan di tanah air.

“Sebagai penghormatan, kami gelar Bulan 80th Saini KM, meliputi gelar kesenian karya Saini KM dan karya seniman lainnya. Beberapa kelompok seni dan seniman yang terlibat dalam kegiatan ini, diantaranya: Teater Awal Bandung, Lena Guslina, IA ISBI Banten, Magican’s, Japa Ethnic Art (Oga Wilantara), Pantomim (Duo Mime), Jaipongan (Supukaba), Djaleuleu Percussion, Jetreng Jamret  Milenia (Iik Setiawan), Monolog (Nur Rahmat SN-Teater Alit Jakarta), Musik Rusli Keleeng, Rigas Studio (Rosikin), Gondo Art Production, Longser Antar Pulau, Ega Robot Ethnic Percussion (Ega Robot), Datam Dance Company, Padepokan Daeng Udjo, Monolog (Teater Alibi), Baca Puisi (Yesmil Anwar), DMT (Cep Gorbachep), Ferry Curtis, Malire, Acil Bimbo, Jingga Buana, Putri Pamayang, Tisna Sanjaya, Joko Kurnaen, Toonel Bandung, Bandoengmooi, dan lainnya,” jelas Ketua Tim Relawan 80 tahun Saini KM, Hermana MT.

Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 24 September 2018 dengan menyuguhkan pertunjukan teater Ben Go Tun karya Sani KM produksi Teater Awal Bandung. Lena Guslina pertunjukan tari “Sisipus” inspirasi puisi karya Saini KM, 4 Oktober 2018 di Wot Batu Dago, dan Lomba Baca Puisi se Provinsi Banten, 4 Oktober 2018. Adapun gong kegiatan yang melibatkan sekitar 250 seniman akan dilaksanakan tanggal 7 Oktober 2018 di Gedung Sunan Ambu ISBI, Jalan Buah Batu 212, Kota Bandung, sekaligus pemberian pengaugrahan pada Saini KM dari ISBI Bandung dan Ikatan Alumni ISBI Bandung.

“Tema yang di usung Saini KM: Guru, Humanis dan Inspirator. Tema inipun mengingatkan bahwa Saini KM tidak semata melahirkan karya besar, dibalik itu ia juga seorang pendidik. Buah pikirannya banyak meinspirasi dan lewat tangannya terlahir seniman teater dan sastrawan besar yang sampai saat ini turut menghidupkan khasanah budaya Indonesia. Aura kesederhanaan terpancar dari sosok Saini KM menjadi suri tauladan bagi penggiat seni dan birokrat tempat ia mengabdi,” pungkas Hermana. [St]

Comments

comments