Dansektor 21 Satgas Citarum Sidak Empat Pabrik Di Wilayah Sungai Cisangkuy

oleh
Dansektor 21 Satgas Citarum Sidak Empat Pabrik Di Wilayah Sungai Cisangkuy
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat (kanan) saat mengecek outlet IPAL PT Cemara Kwangjin Textile, Banjaran, Senin (15/10/2018).

BANDUNG, sorotindonesia.com,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat beserta jajaran melaksanakan giat inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) pabrik yang berpotensi membuang limbah ke aliran Sungai Cisangkuy, Senin (15/10/2018).

Empat pabrik yang disidak itu ialah PT Guna Mitra Prima (GMP) yang berlokasi di kawasan KTSM dan PT Prodian Chemicals yang keduanya berada di Jl. Raya Banjaran, serta PT Cemara Kwangjin Textile dan PT Graha Surya Angkasa (GSA) yang keduanya beralamat di Jl. Tarajusari, Banjaran.

Dansektor mengawali sidaknya ke PT GMP yang merupakan cabang dari GMP Cimahi yang berstatus kontrak di KTSM. Didampingi oleh Danramil Pameungpeuk Kodim 0609 Kapten Inf Siswanto bersama jajaran Satgas dan Babinsa. Disambut oleh Manager PT GMP, Selamat Hadiwijaya.

Setelah berbincang sejenak sambil menjelaskan tugas dan tanggung jawab Satgas Citarum kepada manager perusahaan, Dansektor beserta jajaran berjalan ke lubang pipa pembuangan limbah PT GMP yang menuju ke sungai. Disini Dansektor mendapati air limbah yang dibuang berwarna keruh kehitaman. Menariknya, air hasil olahan limbah di outlet yang dipasangi titik koordinat yang melewati meteran, airnya berwarna lebih jernih daripada di saluran pembuangan.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menunjukkan pembuangan limbah PT GMP, Arjasari. Senin (15/10/2018).
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menunjukkan sampel yang diambil dari ujung pipa pembuangan limbah dari PT GMP, Arjasari. Senin (15/10/2018).

“Ini kita akan perbaiki semaksimal mungkin, kita juga sebelumnya sudah punya komitmen dengan Satgas. Saya juga akan cek ada kebocoran dimana, karena kemarin itu kita juga pernah menemukan ada saluran yang tidak kita ketahui yang masuk ke saluran outlet,” kata Selamat.

Ditambahkannya, “Kita bukan orang KTSM, dan yang membuat saluran IPAL juga bukan kita, jadi kita masih meraba mana saluran yang kira-kira bypass ke saluran pembuangan,” tambah Selamat yang perusahaannya sudah beroperasional di kawasan tersebut selama 2 tahun.

Seusai memberikan keterangannya kepada awak media, Selamat Hadiwijaya diminta oleh Dansektor untuk membuat komitmen tertulis akan memperbaiki kualitas hasil olahan limbahnya selama 7 (tujuh) hari. Termasuk membuat kolam ikan yang diisi dengan jenis ikan koi disamping outlet.

PT Prodian Chemicals Indonesia Ngeyel Saat Disidak Oleh Dansektor 21 Satgas Citarum

Setelah dari PT GMP, Dansektor beserta jajaran melakukan sidak ke PT Prodian Chemicals Indonesia (PCI) yang disambut oleh Commercial Manager, Brilianto Kurniawan, mewakili pimpinan perusahaan yang sedang berada di luar negeri.

Dikatakan oleh Brilianto bahwa hasil olahan limbah perusahaannya sudah bagus dan bening. Hal itu dikatakannya saat tanya jawab dengan Dansektor 21 Kolonel Inf Yusep Sudrajat. Padahal sidak yang dilakukan oleh Dansektor ini berkat laporan jajaran Komandan Subsektor Cisangkuy, Serka Rohdiana, yang sebelumnya menemukan perusahaan PCI ini membuang hasil olahan limbah ke aliran sungai dalam kondisi berwarna.

Untuk membuktikan apa yang disampaikan oleh Brilianto, Dansektor mengajak perwakilan perusahaan tersebut untuk menunjukkan lokasi IPAL. Ternyata, setelah diambil sampel dari outlet, hasil olahan limbahnya berwarna keruh.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat menunjukkan sampel air hasil olahan limbah PT Prodian Chemicals Indonesia
Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat menunjukkan sampel air hasil olahan limbah PT Prodian Chemicals Indonesia, Senin (15/10/2018).

Brilianto sempat berdalih bahwa hasil olahan limbahnya sudah memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan oleh Lingkungan Hidup. Namun ia akhirnya mau mengakui bahwa hasilnya olahan limbahnya kurang optimal dan akan memperbaiki sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Dansektor, yakni selama 7 (tujuh) hari.

Pantauan awak media disekitar IPAL, rembesan dari limbah PT PCI ini tampak membuat rerumputan mati dan meranggas.

“Mungkin bapak tiap hari disini, merasa hasilnya sudah benar,” ujar Dansektor kepada Brilianto.

“Saya sudah berhadapan dengan puluhan pabrik, sudah paham dengan alasan-alasan pabrik. Saya sudah tidak mau dengar karena alasannya klasik. Alasan operatornya tidur, ada kebocoran, kerusakan mesin, semua disampaikan, padahal yang tidak diolah sudah sering,” kata Dansektor lagi. Sambil menceritakan kerusakan ekosistem DAS Citarum saat ini.

“Bapak sudah pernah lihat kondisi Sungai Cisangkuy?” tanya Dansektor. Dijawab oleh Brilianto, “Belum pernah,” jawabnya, singkat.

Menanggapi hal itu, Dansektor menekankan, “Saya tidak akan melihat kebelakang. Saya lihat kedepan. Jika kedepan ini sudah bagus, saya tidak akan ungkit-ungkit lagi yang dibelakang,” pesan Dansektor. Sekaligus meminta Brilianto untuk meningkatkan kejernihan dan kebersihan hasil olahan limbahnya dan membuat kolam ikan di samping outletnya sebagai indikator.

Hasil Olahan Limbah PT Cemara Kwangjin Textile Sudah Cukup Jernih Saat Disidak Dansektor 21 Satgas Citarum

Seusai melaksanakan sidak ke PT Prodian Chemicals, Dansektor melanjutkan kegiatannya dengan mengecek IPAL PT Cemara Kwangjin Textile di Tarajusari, Banjaran.

Serupa dengan sidak di perusahaan-perusahaan sebelumnya, Dansektor mengarahkan agar perusahaan tersebut membuat bak indikator yang berisi ikan koi atau ikan mas untuk memudahkan saat dilakukan pengecekan.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat menunjukkan sampel hasil olahan limbah di IPAL milik PT Cemara Kwangjin Textile, Banjaran, Senin (15/10/2018).
Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat menunjukkan sampel hasil olahan limbah di IPAL milik PT Cemara Kwangjin Textile, Banjaran, Senin (15/10/2018).

“Setelah kita melihat IPAL PT Cemara Kwangjin ini, ada beberapa hal yang perlu dimaksimalkan. Pertama, warna air hasil olahan limbah agar ditingkatkan. Meski ini sudah lumayan bagus. Kedua, saya minta buat bak yang bisa ditanami ikan koi sebelum outlet, sebelum air keluar ke sungai. Itu untuk indikator kita, bahwa air yang bening tersebut sudah aman untuk dibuang ke sungai. Ketiga, pembuangan hasil olahan limbahnya di sungai masih dibawah permukaan air, sehingga masih banyak interpretasi dari satgas maupun masyarakat. Jadi, saya minta lubang pembuangannya untuk dinaikan kurang lebih 30 cm diatas air, sehingga dapat terlihat warna air yang keluar dari perusahaan ini,” urai Dansektor terkait dengan sidaknya ke IPAL PT Cemara Kwangjin.

“Untuk maksud tersebut, saya berikan waktu 7 (tujuh) hari. Setelah itu kita akan cek kembali,” tambah Dansektor.

Menanggapi masukan dari Dansektor 21, Direktur PT Cemara Kwangjin, Susanto, menjelaskan bahwa pihaknya berterimakasih atas masukan dan arahan dari Satgas Citarum Harum. “Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Yusep selaku Dansektor 21 Citarum Harum, yang mana di perusahaan textile ini saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk air pembuangan limbah itu sesuai dengan standar yang dianjurkan pemerintah. Kekurangan-kekurangan ini, saya akan senantiasa minta petunjuk bagaimana untuk lebih baik,” kata Susanto.

“Dari awal kita membuat pabrik tekstil ini, bukan sekedar produksi saja yang kita kejar, IPAL-nya terus kita perhatikan. Bahkan kita akan membuat dua bak lagi, supaya pembuangan limbahnya lebih bagus. Apalagi kita orang Indonesia, kenapa tidak kita bantu untuk kebersihan Sungai Citarum. Program itu sangat bagus, saya atas nama pimpinan perusahaan sangat mendukung Citarum Harum,” ucap Susanto saat wawancaranya dengan wartawan.

Hasil Olahan Limbah PT Graha Surya Angkasa Jernih

Kunjungan Dansektor 21 Satgas Citarum Harum pada hari, Senin (15/10/2018), di wilayah Banjaran, adalah dengan mengunjungi PT Graha Surya Angkasa (GSA).

Setelah disambut oleh perwakilan perusahaan, Alen, yang mengaku sudah mengenal kiprah Dansektor 21, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Yusep langsung mengajaknya untuk mengecek IPAL.

Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat melaksanakan pengecekan IPAL PT GSA, Banjaran. Senin (15/10/2018).

Beberapa saat setelah melihat proses pengolahan limbah dan mengambil sampel, Dansektor beserta jajaran menuju ke salah satu ruangan untuk meminta pihak perusahaan membuat surat pernyataan komitmen. Disaksikan oleh awak media.

“Hasil olahan limbahnya sudah jernih, tinggal sedikit lagi hingga sama dengan warna air minum dalam kemasan. Tapi persoalannya, di outlet belum ada bak indikator yang berisi ikan hidup. Itu penting, sehingga orang tidak berpikir perusahaan kucing-kucingan buang limbah berbahaya. Selanjutnya, diketahui dibagian belakang pabrik ada saluran lain, harus dikondisikan bagaimana caranya agar tidak salah persepsi dari kita dan masyarakat,” kata Dansektor.

Menanggapi itu, Direktur PT GSA, Aang Sudharta menyatakan akan segera menindaklanjuti arahan dari Dansektor.

“Saya senang dengan adanya Citarum Harum,” kata Aang. “Dengan adanya program ini, kita (pabrik) cost-nya jadi sama. Dulu kita limbahnya diolah dengan benar, tapi yang lain tidak, tentu jadi ada beda harga. Kita dari awal sudah mengolahnya dengan maksimal,” tambahnya. PT GSA sendiri, kata Aang, sudah bergerak dibidang usaha pencelupan selama tiga tahun. Sebelumnya hanya garmen dan rajut.

Mengakhiri pertemuan, dilaksanakan penandatanganan surat komitmen oleh Aang Sudharta yang berisi antara lain akan mengolah limbah sesuai baku mutu dan arahan dari Dansektor 21 Satgas Citarum juga membuat kolam ikan di samping outlet sebagai parameter hasil olahan limbah yang dibuang tidak berbahaya bagi lingkungan dan ekosistem. [St]

Direktur PT GSA, Aang Sudharta, membuat surat pernyataan komitmen yang diserahkan kepada Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat
Direktur PT GSA, Aang Sudharta, membuat surat pernyataan komitmen yang diserahkan kepada Dansektor 21 Satgas Citarum Kol Inf Yusep Sudrajat, Senin (15/10/2018).

Comments

comments