Sejumlah Pabrik Di Cimahi Sudah Penuhi Arahan Dansektor 21 Satgas Citarum, Bening Dan Ikan Hidup

oleh
Sejumlah Pabrik Di Cimahi Sudah Penuhi Arahan Dansektor 21 Satgas Citarum, Bening Dan Ikan Hidup
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menunjukan hasil olahan limbah yang diambil langsung di outlet PT Sokolancar, Cimahi, Senin (12/11/2018).

CIMAHI, sorotindonesia.com,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat beserta jajaran Subsektor 13/Cimahi Selatan kembali melaksanakan kegiatan inspeksi mendadak ke sejumlah industri produk tekstil di wilayah Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Senin (12/11/2018).

Kegiatan ini untuk memastikan seluruh industri tekstil yang berpotensi membuang limbahnya ke aliran sungai di wilayah Cimahi Selatan tersebut pengelolaan IPAL-nya sudah mengikuti arahan dari jajaran Satgas Citarum Sektor 21.

Sasaran sidak pertama yang dilaksanakan mulai dari pagi itu adalah PT Sokolancar/Bapintri, Jl. Mahar Martanegara. Kehadiran Dansektor bersama jajaran disambut langsung oleh direktur perusahaan tersebut, Tarsa Tarmansya dan HRD GA, Heru.

Berbincang sejenak, Kolonel Yusep meminta izin untuk mengecek IPAL. Didampingi langsung oleh jajaran manajemen, Dansektor lalu mengamati proses pengolahan limbah perusahaan weaving dan pencelupan benang itu.

IPAL yang memproses air limbah sekitar 300 meter kubik perhari ini, tampak beroperasi normal mulai dari proses inlet hingga outlet. Di bagian outlet ini, Dansektor cukup lama memperhatikan keluaran air hasil olahan limbah. Termasuk ikan-ikan koi yang ditempatkan di bak outlet limbah dan saluran keluar air hasil olahan limbah itu dibuang ke sungai. Air hasil olahan limbah diambil langsung oleh Dansektor, hasilnya air berwarna jernih.

“Kita sudah buat IPAL ini sejak tahun 1982, bahkan sempat jadi percontohan di Nairobi, Kenya,” kata Tarsa saat memberikan keterangannya kepada wartawan di lokasi IPAL.

“Kita selalu memproses limbah ini dengan maksimal. Bahkan saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Dansektor yang telah datang dan berkunjung kesini,” ucapnya.

Sedangkan saat wawancara terpisah dengan Heru, dikatakannya bahwa pihaknya sudah mengelola dengan sungguh-sungguh IPAL sejak tahun 1990. “Pihak manajemen tidak mau main-main dengan olahan limbah. Jadi, bukan hanya saat ini saja,” terangnya. Pengolahan IPAL PT Sokolancar ini menggunakan metode fisika, kimia dan biologi.

“Kita akan pertahankan seperti itu. Intinya adalah komitmen kita dan kontinyuitas operator. Setiap 15 menit sekali kita ambil sampel. Sehingga hasilnya bisa terkontrol,” ungkap Heru yang sudah bersertifikat EPCM.

Untuk ikan koi yang ditempatkan disaluran buang hasil olahan limbahnya, diakui oleh Heru baru beberapa bulan lalu setelah satgas melakukan sosialisasi. “Sebetulnya di bak sedimentasi ikan sudah hidup, jadi saya kira tidak ada masalah saat ikan ditempatkan di bak outlet. Dan secara prinsip kami mendukung,” ujarnya

Kunjungan Dansektor 21 ini diakhiri dengan pembuatan surat pernyataan komitmen oleh pihak PT Sokolancar untuk senantiasa membuang hasil olahan limbah ke sungai dalam kondisi bersih.

Ini Hasil Sidak Dansektor 21 Satgas Citarum Ke PT Antelas

Seusai melaksanakan sidak ke PT Sokolancar, Dansektor 21 beserta jajaran meluncur ke PT Antelas, Jl. Cibaligo. Perusahaan ini bergerak di bidang pencelupan benang.

Didampingi direktur perusahaan, Viktor, dan HRD-nya, Kiki, Dansektor berjalan mengamati IPAL dari inlet hingga outlet. Proses yang diolah sekitar 400 meter kubik perhari. Dan di outlet hasil olahan limbah, Dansektor melihat bak ikan yang berisi ikan mas. Selain itu, air hasil olahan limbahnya tampak bening.

Saat diwawancarai wartawan dengan hasil pengecekan oleh Dansektor, dikatakan oleh Viktor, “Ya, balik lagi, untuk limbah itu obat dan dosisnya begitupun aturan mainnya harus pas, baru bisa bikin limbah itu bening. Kita saat ini masih proses chemical, tapi ke depannya biologi juga akan jalan,” katanya.

“Semenjak ada Citarum Harum, tentunya kita ada dorongan untuk lebih cepat dan maksimal lagi,” ucap Viktor terkait dengan dukungannya terhadap program revitalisasi Sungai Citarum.

Sama halnya dengan sidak sebelumnya ke perusahaan yang lain, Dansektor 21 meminta pihak perusahaan untuk membuat surat pernyataan komitmen untuk menjaga hasil olahan limbahnya yang dibuang ke aliran sungai dalam kondisi bening dan aman bagi lingkungan serta ekosistem.

Bening, hasil olahan limbah dari PT Antelas, Cimahi, yang ditunjukkan oleh Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat
Bening, hasil olahan limbah dari PT Antelas, Cimahi, yang ditunjukkan oleh Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, Senin (12/11/2018).

Kesempatan terpisah, Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat mengucapkan terima kasih kepada perusahaan-perusahaan yang sudah langsung berbuat mengelola IPAL-nya dengan baik sejak adanya sosialisasi program Citarum Harum sesuai dengan amanat Perpres No.15 tahun 2018 untuk mengembalikan ekosistem di DAS Citarum.

“Hari ini kita telah masuk ke pabrik ke dua. Sesuai dengan tugas saya Sektor 21 Satgas Citarum yaitu mengembalikan ekosistem di DAS Citarum. Sehingga hari ini kita mengecek pabrik-pabrik yang belum pernah kita datangi. Diantaranya PT Sokolancar dan PT Antelas ini,” terang Dansektor.

“Perusahaan yang mengeluarkan limbah cair yang dibuang ke sungai, kondisinya harus bening, ada ikan hidup, dan tidak membahayakan ekosistem,” tegas Dansektor. [St]

Comments

comments