Colin Bass dan Sambasunda Reuni Batin di Matasora World Music Festival

oleh

BANDUNG – Penampilan Colin Bass dan Sambasunda di ajang Matasora World Music Festival 2017 di Kota Bandung merupakan salah satu wujud untuk menunjukan konsistensi dukungannya terhadap dunia musik di Indonesia, terutama untuk mengangkat musik tradisional Indonesia ke level internasional.

“Its feel strong about own coulture (merasa kuat dan percaya diri dengan budaya milik sendiri), kekuatan itu sangat penting bagi musisi yang bermain musik di Indonesia,” ujar Colin Bass, musisi kawakan berusia 66 tahun asal Inggris yang mencipta lagu Denpasar Moon.

Ia memberikan masukannya itu saat sesi talks di acara Matasora World Music Festival di Gudang PT. KAI Jl. Sukabumi, Kota Bandung, Sabtu (22/7/2017).

Colin Bass menjelaskan, tidak perlu harus mencari jenis musik yang diciptakan buat kepentingan turis semata untuk menggambarkan budaya Indonesia, yang penting adalah orang luar bisa memahami apa yang pemusik Indonesia buat dan tujukan, bukan sebagai ‘musik museum’ tapi juga boleh kontemporer.

“Dunia musik kontemporer itu bagi kita adalah untuk berbagi, berkolaborasi, mengajak dan belajar. Kita bisa membuka diri. Dan diruangan seperti ini (Matasora) kita bisa melihat dan mengetahui musik dari tempat yang lain,” ujar Colin mengingatkan agar pemain musik di Indonesia punya usaha untuk menyampaikan pesan yang sangat kuat kepada seluruh dunia ini.

Colin Bass memberikan contoh, Sambasunda menurutnya adalah kelompok musik tradisional kreatif asli dari Bandung, “Saya tidak tahu apakah Sambasunda dikenal dan punya nama besar disini (Bandung), di Eropa Sambasunda punya following yang banyak dan orang di Eropa sangat senang dengan Sambasunda,” ungkap Colin Bass.

Lebih jauh Colin menilai bahwa selama ini umumnya musik diciptakan untuk dijual kepada masyarakat dalam bentuk CD atau media, bukan untuk bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat. Ada pemain musik yang saling berhubungan dengan tradisi mereka sendiri untuk disampaikan dan diterjemahkan untuk negara lain di dunia, beberapa kelompok ini seperti Sambasunda dan Saratus Persen. “Ada nilai untuk pesan yang disampaikan,” ujar Colin.

“Saya berharap akan lebih banyak lagi musik Indonesia yang dikenal di dunia musik internasional, Indonesia kaya dengan jenis musik tradisional seperti gamelan, degung, dan sebagainya yang harus disampaikan ke dunia, dan dunia sudah siap untuk menerima,” harap Colin yang memang sangat tertarik dengan musik tradisional Indonesia.

Terkait dengan ketertarikannya kepada musik tradisional tersebut, di gelaran Matasora ini Colin Bass menjanjikan akan berkolaborasi dengan musik Sambasunda.

“The first i heard Sundanese Music kecapi suling, degung, i didn’t know where it come from, its more about the feeling. That so why i come here ( Bandung) to lrarn more ( Yang pertama saya dengar musik Sunda kecapi suling, degung, saya tidak tahu dari mana asalnya, lebih banyak tentang perasaan. Makanya kenapa saya ke sini (Bandung) untuk belajar lebih banyak),” ucap Colin Bass saat diwawancara oleh sorotindonesia.com atas cintanya kepada musik tradisional Indonesia, Sabtu (22/7/2017).

Ismet Ruchimat, komandan dari Sambasunda mengaku pada hari kedua gelaran Matasora World Music Festival akan berkolaborasi dengan Colin Bass.

“Kami apresiasi dengan kehadiran Mr Colin Bass di Matasora. Kehadirannya memberikan support khususnya bagi masyarakat Jawa Barat,” kata Ismet saat bertemu dengan sorotindonesia di lokasi Matasora.

Menurut Ismet, Colin Bass nyatanya merupakan legend di Indonesia dan juga orang besar di dunia. “Ketertarikannya kepada musik kebudayaan Indonesia tinggi sekali, sekitar tahun 1998 – 2000an ia pernah menginternasionalkan degung, jaipongan, jugala, dengan tour ke seluruh Eropa, termasuk dangdut. Sambasunda ikut mendapatkan dampaknya,” terang Ismet.

“Ini yang kami apresiasi dari keinginan dan kemampuan Colin Bass untuk memberikan kesempatan musik Indonesia diperhitungkan oleh dunia, itu luar biasa sekali,” ujar Ismet.

“Sambasunda juga awalnya di support oleh Colin Bass di sekitaran tahun 1997-2001, oleh karena itu penampilan kami dengan Colin Bass di ajang Matasora adalah semacam reuni, reuni batin kita. Mulai 2001, kontinyuitas kita terus berkembang,” pungkas Ismet.

Dijadwalkan, Colin Bass dan Sambasunda akan tampil berurutan di panggung fenomenal bersejarah di penghujung gelaran Matasora World Music Festival tanggal 23 Juli 2017 di Gudang Persediaan PT KAI Jl Sukabumi, Kota Bandung. (*)

Sambasunda dan Colin Bass
Ismet Ruchimat (kanan) berdiskusi singkat dengan musisi internasional Colin Bass sebelum gelaran acara Matasora di Trans Hotel , Bandung.

Comments

comments