Cerai Salah Siapa

Cerai Salah Siapa

“Cerai, apa sebenarnya makna dari kata itu “, gemuru batinku yang tidak bisa mengejawantahkannya.  Biarlah aku tidah tah. Toh, aku masih terlalu belia untuk tahu hal itu. Pikiranku masih terlalu bersih untuk menyelami makna dibalik topeng kata itu.

Tapi entah mengapa, setiap kali mendengar ataupun melihatnya, hati ini bagai teriris samurai yang tidak pernah diasah. Padahal, itukan hanya sederetan huruf yang dirangkai menjadi sebuah kata. Betapa besar makna dan peranannya dalam hidup dan kehidupanku. Meskipun nilai yang kudapatkan darinya
hanyalah nilai kesedihan dan kekecewaan. Tetapi, kan tidak selamanya kita berada dalam kesedihan itu.

Masa kecil yang dulunya indah, telah berubah menjadi waktu yang penuh dengan ketidakpastian. Ini semua karena kehadirannya. Keha-dirannyalah yang membuatku tidak dapat memilih, mesti aku harus
memilih.

Biarlah kenyataan yang berbicara karena aku hanya bungkam tanpa kata. Waktu yang dapat menyalurkan aspirasiku, dan waktu pula yang menenggelamkannya karena kenyataan berkata lain. “Ayah, Ibu, bolehkah aku tidak memilih?“ Terlalu berat kuayunkan lidahku untuk berucap.

Rasanya ini seperti mimpi buruk yang membangunkan dari tidur panjangku. Waktu itu, duniaku begitu
sempit dan sesak. Mungkin semua itu hanyalah bias dari kedangkalan pikiranku yang susah untuk memahami permasalahan hidup.

Masih segar dalam memori ingatanku, pertanyaan yang apabila kujawab, maka berubahlah segalanya. “Nak, kamu mau ikut dengan siapa, ibu atau ayahmu?” ucapnya dengan nada membujuk. Aku diam seribu bahasa, tenggelam dalam pergolakan bisikan hati yang berontak. Aku ber-tanya dalam relung hati yang paling dalam “mengapa hanya aku yang ditanya ? apakah karena adikku masih terlalu kecil sehingga dia merdeka dari belenggu pertanyaan yang menyayat hati ?”

Kebungkamanku ternyata tidak dapat mengubah apapun. Kenyataan berkata lain dan keputusan itu mesti dan wajib aku terima. Aku dan adikku, selayaknya barang yang hanya Goresan Pena bisa diam dan pasrah kepada nasib dan keputusan mereka. Keadilan itu baru dianggap ada, bila aku harus berpisah dengan ibu dan adikku, serta mengikuti langkah-langkah sang keputusan yang menen-tengku
untuk ikut ayah. Waktu berlalu dengan cepat dan menyapa pelaku-pelaku pengejar waktu dengan ramah.

Baca:   Bantuan Dana dari LPSK kepada Keluarga PKI Melalui YPKP'65 Patut Dipertanyakan

Entah mengapa, waktu itu serasa tidak bersahabat dan juga tidak pernah menampakkan keramahannya. Padahal aku hidup dalam lingkaran waktu. “Mungkinkah ini hanya biasan kenyataan hidup yang ahrus aku jalani ?” Entah siapa yang biasa menjawab. Akupun seperti merasa asing dengan pertanyaanku sendiri.

Beribu-ribu tanya bergejolak dalam hatiku yang berontak untuk lepas dari kekangan, waktu dan kenyataan hidup ini. “ Bisakah seorang anak menerima dengan hati lapang bila ibunya dijelek-jelekkan dihadapannya ?” ataukah dapatkah seorang anak seusiaku menahan rindu bila harus dilarang untuk bertemu ibunya.

Hidupku, kuberikan tanyaan ini untuk kau jawab kalau memang kenyataannya seperti itu, hanya kamu yang tahu. Sudah waktunya aku memantapkan lngkah untuk meniti jalan hidupku kedepan. Aku tidak akan berbalik untuk meratapi kesedihan dimasa lalu.

Namun aku akan tetap berkiblat dan mengumpulkan berkas-berkas cahayanya dari masa laluku karena cahaya itulah yang akan mengiringi dan menyinari langkahku untuk menggapai impian yang kuimpikan
“Cerai, aku sudah biasa menyelami makna dibalik topeng besimu. Dari dirimu aku belajar banyak hal dan dari kenyataan yang telah kau berikan, memberikan ketegaran dalam memapaki setiap anak tangga kehidupanku.

Aku bukan lagi anak belia seperti dulu, yang hanya bisa menyalahkan keadaan, tetapi hiduplah yang menggemblengku untuk menjadi anak yang lebih dewasa dalam meyikapi hidup Seiring berja-lannya, waktu, kutitipkan sejuta Tanya dan harapan dalam setiap detiknya. Semoga aku dipertemukan
dengan jawaban dengan harapan yang kuinginkan dalam hidup ini.

Comments

comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.