Bangun IPAL, PT Koriester Kini Kebut IPLC

oleh
Bangun IPAL Dalam Tiga Bulan, PT Koriester Kini Kebut IPLC
Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat saat mengecek hasil olahan limbah di IPAL PT Koriester, Selasa (13/11/2018).

sorotindonesia.com, Kab. Sumedang,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat laksanakan kegiatan pengecekan ke PT Koriester yang berada di kawasan Sunson, Jl. Raya Rancaekek, Kabupaten Sumedang (13/11/2018).

Pengecekan ini untuk melihat perkembangan pembangunan fasilitas IPAL dari pabrik PMA yang memproduksi kain jenis polyester tersebut.

Sebelumnya, pada sidak pertama oleh jajaran Satgas Citarum Sektor 21 pada bulan Juli 2018, PT Koriester ini diketahui belum memiliki IPAL. Limbahnya sendiri saat itu dialirkan ke IPAL PT Central Sandang Prima (CSP) untuk diolah berdasarkan MoU yang dibuat oleh keduanya. Persoalan mulai muncul saat lubang pembuangan limbah PT CSP saat itu dilokalisir oleh jajaran Satgas Citarum Sektor 21 karena ditemukan telah membuang hasil olahan limbah yang kurang optimal.

Darisitu, PT Koriester yang masuk ke kawasan Sunson dengan cara kontrak, mulai berbenah dengan berinisiatif membangun IPAL mandiri.

Meski cor yang melokalisir lubang pembuangan limbah PT CSP dibuka pada tanggal 1 Oktober 2018 lalu, karena sudah memaksimalkan hasil olahan limbahnya, yang juga turut dihadiri dan disaksikan oleh DLH Kabupaten Sumedang serta elemen masyarakat, namun saluran limbah PT Koriester ke IPAL komunal PT CSP tetap ditutup.

Padahal, saat pertemuan antara Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat, Direktur PT CSP, Andri, Kabid P2HL DLH Kabupaten Sumedang, Budi, dan perwakilan PT Koriester, Ratmi, disaksikan oleh elemen masyarakat dan awak media, pihak PT CSP menyatakan siap berbagi aliran limbah dari PT Koriester hingga IPAL mandiri PT Koriester tuntas dan mengantongi IPLC.  Namun hingga pengecekan oleh Dansektor hari ini, hasil pertemuan tersebut tidak dapat terlaksana untuk alasan tertentu.

“Kita cari solusi, jangan ‘membunuh’, berapa orang yang bekerja disitu. Misalkan karyawannya ada 400, jika rata-rata sudah berkeluarga dan dikalikan tiga, sudah 1.200 orang yang bergantung makan dan bekerja disitu. Tapi juga tidak sembarangan buang limbah,” usul Dansektor kala itu.

“Salasatu contohnya adalah pabrik PT Koriester ini, yang kendala awalnya tidak punya IPAL, kemungkinan pabrik ini ada iming-iming dari teman-temannya hingga bisa buka disini tanpa IPAL. Saya harap setelah ini (pertemuan) bisa dikomunikasikan dengan LH Kabupaten dan Pak Andri (PT CSP) untuk penyaluran limbahnya. Sambil dorong mereka urus perizinan IPAL,” saran Dansektor yang mendapat respon anggukan dari Budi dari DLH Kabupaten Sumedang.

Kini saat dilaksanakan pengecekan oleh Dansektor beserta jajaran, IPAL mandiri PT Koriester tampak telah hampir 100 persen rampung dan sudah trial.

Saat memberikan keterangan kepada wartawan setelah pengecekan, Dansektor menjelaskan, “Hari ini kita peninjauan ke PT Koriester yang ada di Kabupaten Sumedang. 4 bulan lalu perusahaan ini kita tutup pembuangan limbahnya, waktu itu tidak punya IPAL. Waktu itu kita lihat PT Koriester ini bekerjasama dengan PT CSP, dengan demikian pengolahan limbahnya disana,” jelas Dansektor.

“Seiring waktu, banyak dinamika dilapangan, IPAL perusahaan disebelah tidak mengizinkan lagi limbah PT Koriester dibuang kesana. Sehingga PT Koriester ini membuat IPAL mandiri sekitar 3 bulan ini. Saya dengar dengan biaya yang cukup besar, hingga dua milyar. Namun demikian, apa yang dibangun oleh PT Koriester masih ada kendala, yakni IPLC-nya belum keluar. Saya pikir lebih baik dibuat IPAL-nya dulu, IPLC-nya seiring berjalan. Kita akan dorong,” ujar Dansektor.

Ditambahkan oleh Dansektor, “Perusahaan ini ada keinginan berbuat untuk lingkungan dengan membuat IPAL, meski IPLC belum keluar. Saya datang kesini, semoga LH Kabupaten Sumedang melihat persyaratan-persyaratan yang ada, dan segera keluarkan izin-nya,” tambahnya.

Hari memang dari hasil pengecekan, sambung Dansektor, kondisi warna air limbah akhir masih berwarna keruh, sehingga saya memberikan waktu satu minggu lagi untuk PT Koriester agar memperbaiki dan meningkatkannya sesuai dengan standar Satgas Citarum, yakni bening dan ikan hidup didalamnya. “Jika minggu depan kita datang lagi kesini dan kondisinya belum berubah, terpaksa kita tutup lagi saluran limbahnya,” tegas Dansektor. “Walau demikian saya apresiasi, meski sisa kontraknya mungkin sekitar 3 tahun lagi, tapi mau mengeluarkan dana untuk membangun IPAL,” pungkas Dansektor.

Dikesempatan yang sama, General Manager PT Koriester, Ratmi, mengatakan, “Sebetulnya kami dari awal tujuan menyewa disini, usaha kita adalah pencelupan. Dalam agreement sangat jelas sekali kami mendapatkan IPAL dari pihak Sunson, tapi ternyata seiring waktu berjalan kenyataannya kami tidak dapat membuang ke IPAL yang ditunjuk kepada kami sejak 3 bulan lalu. Akhirnya, dengan adanya program Citarum Harum ini, kami berusaha supaya kita mandiri, meskipun masa kontrak kita seperti yang tadi sudah disampaikan, 3 tahun lagi. Mudah-mudahan selama 3 tahun ini, kami bisa memperbaiki diri,” urainya dihadapan awak media.

Ditanya hubungan kesepakatannya saat ini dengan PT CSP terkait saluran limbah, dijawab oleh Ratmi, “Kalau hubungan secara bisnis kita baik-baik saja, tapi hubungan tentang masalah pembuangan limbahnya kita sama sekali nol,” keluhnya. “Meskipun dalam perjanjian, terakhir kita bertemu, ada Kolonel Yusep, Bapak Budi (DLH), katanya dalam satu atau dua hari kemudian itu bisa dibuka kembali, namun menurut pengakuan beliau (Andri-PT CSP) ada penutupan oleh KLHK, jadi sampai detik inipun kami tidak dapatkan saluran pembuangan kesana,” jelasnya.

Mengenai anggaran yang dikeluarkan untuk membangun IPAL yang tentunya menambah cost bagi perusahaannya, Ratmi menjawab, “Kami sudah mengeluarkan antara 1,5 hingga 2 milyar untuk IPAL, jika dikatakan sayang, kita naif sekali. Yang kita sayangkan adalah ketika kita sudah berusaha sebaik mungkin, tapi IPLC belum keluar,” ujarnya. “Setelah kami mengeluarkan biaya, kami mendapatkan dukungan dari semua pihak,” harapnya. [*]

Comments

comments