Bandung Philharmonic Hadirkan Cellist Hee Young Lim Di Konser Enigma

oleh

BANDUNG,- Cellist muda berbakat di dunia musik orchestra asal Seoul, Korea Selatan, yang kini menjabat sebagai pimpinan seksi cello di Roterdam Philharmonic Orchestra, Hee Young Lim, akan tampil bersama Bandung Philharmonic dalam konser season three Enigma di Dago Tea House, Taman Budaya Jawa Barat, Jl Ir H Djuanda, Kota Bandung, Sabtu 28 April 2018.

Pada konferensi pers yang dilaksanakan di Dago Tea House, Jumat (27/4/2018) sore, yang dihadiri oleh Direktur Musik Bandung Philharmonic Robert Nordling dan Michael Hall serta dipandu Direktur Eksekutif-nya Airin Efferin, di konser Enigma tersebut Hee Young Lim juga akan mengiringi komposisi musik karya Nathan Iskandar berjudul Gerbang Nias dan conductor muda Wisnu Dewanta, yang juga menjabat asisten conductor di Bandung Philharmonic di musim ketiga ini.

Konferensi pers konser orchestra Enigma Bandung Philharmonic di Dago Tea House Taman Budaya Jawa Barat
Konferensi pers konser orchestra Enigma Bandung Philharmonic di Dago Tea House, Kota Bandung, (27/4/2018). Foto (ki-ka): Airin Efferin (berdiri), Nathan Iskandar, Wisnu Dewanta, Hee-Young Lim, Michael Hall, Robert Nordling.

Michael Hall menjelaskan, pada konser tersebut akan diantarkan beberapa karya komposer, seperti concerto cello (Lalo) oleh Hee Young Lim, Gerbang Nias bersama Wisnu Dewanta serta ditutup dengan Enigma karya Elgar.

Robert Nordling, pada kesempatan itu menjelaskan, konser ini cerita tentang ada yang terang dan ada yang misterius. Ada kala penonton menangis karena keindahannya atau tertawa karena lucu. Dan disetiap karyanya ada misteri didalamnya. “Enigma, rahasia didalamnya saat ia (Elgar) berjalan di tepi sungai bersama temannya yang membawa anjing dan anjingnya jatuh ke sungai, sehingga keduanya masuk kesungai. Ini durasinya hanya 60 detik. Selain dari itu Elgar memberikan tanda dengan siulan bermelodi untuk memberitahukan kepada istrinya bahwa ia sudah pulang, dan hanya mereka yang mengetahuinya. Bagian ke 9 dari 14 bagian dan variasi dalam Enigma ini. Yang ke 9 itu adalah Nimrod yang sangat dikenal dimusik klasik, karya terindahnya yang dibuat untuk penerbitnya yang itu dinilai aneh, karena tidak dipersembahkan untuk orang yang disayanginya,” terang Nordling.

Diceritakan oleh Robert Nordling, “Elgar pernah akan berhenti bermusik di usia 30-an. Dari situ ia dikunjungi dan diberi semangat oleh temannya, sehingga beberapa tahun kemudian menelurkan karya Enigma,” ungkapnya.

Hee Young Lim, ia baru menyelesaikan konser di Chicago dan Wahington DC. Disamping itu akan audisi untuk menyandang calon profesor di Beijing.

Kepada sorotindonesia, Hee Young Lim mengaku sangat senang bermain di Bandung Philharmonic, “I am so grateful to be here, very exited with wonderful orchestra (saya bersyukur berada disini, sangat senang, bersama dengan orchestra yang luar biasa),” ujarnya.

Cellist Hee Young Lim di konferensi pers konser Enigma Bandung Philharmonic
Cellist internasional asal Seoul, Korea Selatan, Hee Young Lim.

Bandung Philharmonic pada konser sebelumnya bulan Januari 2018 lalu, menghadirkan konser Krakatoa karya Stacy Garrop, serta mempromosikan musik tradisional lokal dengan menampilkan karya dari Tan De Seng yang berjudul “Aki Manggul Awi’ yang di aransemen oleh Fauzie Wiriadisastra. [St]

Comments

comments