Apiten Souw Bengkong Salah Satu Tokoh Etnis China Dan Sejarah Koloni Pribumi

oleh
Apiten Souw Bengkong

Oleh : Iwan Mahmud Al-Fattah

Jakarta kini sedang mengalami gunjang ganjing pada masalah politik. Salah satu hal yang membuat bergejolaknya Jakarta adalah berkaitan dengan suksesi kepemimpinan. Berhasilnya Jokowi untuk naik menjadi Presiden, otomatis membuat peta kemimpinan DKI Jakarta berubah, secara konstitusi wakilnya yang bernama Basuki Cahaya Purnama atau yang lebih akrab dengan panggilan Ahok dipastikan akan menggantikan posisi Jokowi. Secara konstitusi memang Ahok “layak” menjadi Gubernur DKI yang selanjutnya. Namun pada kenyatannya ternyata dengan naiknya Ahok ini telah banyak menimbulkan Pro dan Kontra, terutama pada masyarakat Betawi.

Mengapa naiknya Ahok ini telah menimbulkan Pro dan Kontra pada masyarakat Betawi?

Saya sendiri melihat permasalahan ini dari sisi sejarah dan budaya. Sebenarnya masyarakat Betawi itu kulturnya sederhana saja, yang penting bagaimana mereka itu bisa diakui dan dihormati serta dijaga perasaannya sebagai penduduk asli. Sebagai penduduk asli Jakarta tuntutan hal itu menurut saya wajar dan lumrah, dimanapun kita berada yang namanya penduduk asli memang sudah selayaknya dihormati, terlepas bagaimana keadaan mereka, kehormatan pada penduduk asli jelas harus dijaga, baik itu berkaitan dengan idiologi mereka, budaya atau istiadat mereka, bukankah dulu ada peribahasa “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”. Tengoklah dulu bagaimana ketika Walisongo datang ke Nusantara dalam rangka menyebarkan Dakwah Islamiah. Walisongo dalam proses dakwahnya sangatlah menjunjung tinggi adat istiadat setempat, kepada penduduk Pribumi mereka santun dan mampu menjaga perasaanya. Walisongo bisa dijadikan sebagai contoh didalam menjalankan pola kepemimpinan. Mereka menyentuh dulu hati rakyat, mereka juga memberikan contoh kepada masyarakat, hasilnya? Sampai sekarang Islam adalah agama yang mayoritas di negeri dengan catatan bahwa Islam yang ada di Indonesia adalah Islam yang santun, damai dan toleran, Rahmatan Lil Alamin benar-benar diterapkan oleh Walisongo.

Sebagai pemimpin dari sebuah daerah yang multi kultur tapi masih banyak penduduk aslinya memang sudah selayaknya Ahok mempelajari ungkapan bijak itu. Selayaknya pula Ahok belajar dari strategi-strategi pemimpin dulu dalam melakukan manajemen kepemimpinan. Proporsional serta adil itu adalah kata kuncinya. Kearifan pada sejarah dan budaya lokal itu perlu difahami secara mendalam, apalagi posisinya kini sudah menjadi pemimpin. Seharusnya Ahok belajar dari tokoh-tokoh Etnis China yang berhasil berbaur dan bisa diterima ditengah masyarakat seperti Masagung, Yunus Yahya, Hembing, dan masih banyak lagi lainnya. Tidak semua Etnis China itu buruk, banyak pula mereka yang berjasa terhadap bangsa ini, oleh karenanya saya fikir Ahok bisa belajar banyak dari mereka. Mudah-mudahan kedepannya kita berharap kepada Ahok untuk bisa mengubah gaya kepemimpinannya yang lebih fleksibel dan toleran.

Namun demikian dalam tulisan saya kali ini, saya tidak akan banyak berbicara tentang Ahok, saya ingin mencoba mengangkat beberapa tema tentang bagaimana sebenarnya peran serta Etnis China dalam perjalanan Sejarah Kota Jakarta (Jayakarta) ini. Salah satu topik menarik yang ingin saya angkat adalah tentang salah satu tokoh etnis China yang bernama Souw Beng Kong. Kenapa sosok ini menarik untuk diangkat? Karena sosok ini adalah orang pertama dari etnis China di Batavia (nama dari Jan Pieterzoon Coen) yang ikut merancang dan membantu pembangunan bekas wilayah Jayakarta yang telah runtuh di tahun 1619 Masehi (lihat tulisan dibawah). Pada tulisan ini saya juga akan secara singkat menulis tentang profil beberapa “koloni-koloni suku” yang berada pada masa kekuasaan Penjajah VOC.

Souw Beng Kong sendiri adalah salah satu tokoh etnis China yang hidup diera Jan Pietierzoon Coen. Jan Pieterzoon Coen sendiri adalah tokoh VOC yang telah membumi hanguskan Kraton Jayakarta dan membunuh penghuninya secara kejam dan brutal pada tahun 1619 Masehi. Pasca runtuhnya Kraton Jayakarta, JP Coen kemudian membangun kembali kota Jayakarta untuk kemudian nama tersebut dia ganti menjadi Batavia. Nah untuk membangun kota Batavia ini, maka JP memanggil orang-orang yang dianggapnya bisa membantu keinginannya, diantaranya adalah Souw Beng Kong ini. Souw Beng Kong kemudian dijadikan seorang “Kapitan”. Kapitan sendiri adalah sebutan bagi mereka yang membawahi sebuah suku atau sebuah pemukiman besar yang berada dilingkungan penjajah, dengan bahasa sederhana mereka ini bisa disebut kepala kampung.
Menurut Mona Lohanda (Dalam Adi Windoro,2007:123-125) sejarah munculnya Kapitan adalah berasal dari tentara pribumi yang membantu Jan Pieterszoon Coen dalam menyerang Jayakarta, kebanyakan mereka berasal dari Ambon, Bali, Banda, Bugis dan Melayu. Setiap kelompok membentuk semacam kompi dan hidup bersama menurut adat istiadat dan kepercayaan mereka masing-masing, mereka juga memilih kepala kampung dari anggota anggota mereka yang dianggap cakap, idealnya kepala kampung itu hidup ditengah orang-orangnya dan bertanggungjawab menangani masalah kependudukan mereka, mengingat fakta bahwa para pemukim pertama itu adalah tentara, sangat wajar jika kepala Kampung mereka diberi pangkat KAPTEN/KAPITAN. Artinya Kapitan sendiri sebuah jabatan yang diberikan kepada seseorang yang mewakili etnisnya dalam berurusan dengan VOC. Artinya dia hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan etnis dan wilayahnya semata. Sejak tahun-tahun awal kekuasaan VOC, Jan Pieterzoon Coen memang berupaya mengisi kota Batavia dengan penduduk dari berbagai daerah, seperti Bali, Bandan, Ambon, termasuk di dalamnya etnis Tionghoa atau China. Kemudian, penduduk ini dialokasikan di kawasan Ommelanden, luar kota Batavia, dan dipisahkan sesuai kelompok. Mereka kemudian hidup sesuai adat istiadat dan kepercayaan masing-masing dengan pimpinan kepala kampung.

Sebutan kepala kampung ini sama dengan Kapten atau Kapitan. Sekalipun mereka adalah dahulunya Tentara, namun jenjang pangkat ini, seolah-olah tidak memiliki arti, karena secara jenjang kepangkatan militer, VOC tidak terlalu menganggapnya, apalagi mereka adalah dahulunya Tentara Bayaran. Menurut Ade Sukirno (1995:23). Kota Jakarta sejak bernama Sunda Kelapa, Jayakarta, Jacatra, Batavia, Betawi, Jakarta, bahkan Pelabuhan Kelapa memang banyak menghimpun etnis dan berbagai suku bangsa kedalam kehidupan kota dan masyarakatnya. Setelah Portugis dan muncul masa Penjajahan Belanda, yang berhasil memerintah seratus tahunan menyambung masa perdagangan monopolinya selama 250 tahun, kota ini menjadi koloni-koloni etnis yang sangaja diciptakan Belanda. Penciptaan Suku bangsa yang terpisah dan akhirnya dipecah belah satu sama lainnya sangatlah menguntungkan Belanda karena tidak adanya kekompakan diantara mereka. Mereka mudah untuk diatur untuk bercekcok agar saling baku hantam sehingga Belanda dengan politik adu dombanya dapat terus memerintah dan berkuasa secara leluasa dikota perjuangan ini.

Sukirno (1995:23) juga menambahkan, sejarah lama mengungkapkan tabir bahwa Belanda memang tidak segan-segan untuk menyerahkan pangkat atau jabatan tinggi kepada tiap “kepala suku” atau koloni bangsa pribumi yang dibentuknya, asalkan semua itu menguntungkan posisi Penjajah. Bahkan posisi tinggi yang hampir setaraf dengan jabatan penguasaan pemerintahan kala itu misalnya, secara mudah diberikan penjajah Belanda kepada Pedagang etnis China yang menjadi saingan dalam berdagang dengan berbagai alasan. Lewat kepala suku yang dibentuk secara mudah itu, Belanda mengontrol dan mengatur mereka, bahkan tidak jarang jika memang diperlukan, pihak penjajah segera mengadakan tindakan keji dalam bentuk “Devide Et Impera” (politik adu domba) yang terkenal. Akibat paling buruk yang dirasakan bangsa Indonesia adalah kehadiran koloni-koloni didalam kota secara terkotak-kotak telah meninggalkan suasana sifat rasa kedaerahan yang terlalu fanatik dan kurang membaur antara sesama manusia dari suku yang lain. Bahkan kondisi itu sampai sekarang masih membekas dan sangat dirasakan oleh Jakarta yang sudah berubah menjadi Kota Metropolitan. Persaingan antar suku atau ras masih tampak dan membekas diberbagai segi akibat semua golongan ras di zaman penjajahan rata rata memiliki wawasan kebangsaan yang rendah, rasa kedaerahan yang sempit, serta kurang menyadari betapa pentingnya semangat dan persatuan.

Dahulu pada masa berkuasanya para “kepala suku” itu, Keberadaan mereka banyak sekali, mereka ada yang bernama Kapitan Jonker, Kapitan Arab, Kapitan Bali (Buleleng), Kapitan Melayu, Kapitan Ambon (Jongker), Kapitan Bugis seperti Wan Abdul Bagus, Kapitan Makassar, Kapitan Jawa, dan Kapitan Sumbawa. Nah Diantara sekian Kapitan ada Kapitan yang cukup terkenal, yaitu Kapitan Souw Beng Kong dari China. Para Kapitan ini benar-benar mendapatkan kepercayaan yang tinggi dari Penjajah VOC.

Kapitan Souw Beng Kong sendiri ditunjuk Gubernur Jenderal VOC Jan Pieterzoon Coen sebagai kapitan pada 1619 untuk membangun tata kota baru. Menurut Alwi Shihab (2002:46) Sow Beng Kong ini merupakan teman akrab Jan Piesterszoon Coen sejak di Banten, kemudian dibawa dia dibawa ke Batavia. Jan Pieterszoon Coen sering mendatangi kediaman Beng Kong yang luas dan besar, sambil minum teh. Mereka menggunakan bahasa Portugis, yang sampai abad ke 18 merupakan alat komunikasi sehari-hari berbagai etnis di Batavia baik Barat maupun non Barat. Jelas disini bahwa hubungan antara Souw Beng Kong dengan JP Coen sangat dekat, sehingga wajarlah bila kemudian JP Coen ini menjadikan Beng Kong tangan kanannya dalam membangun kota yang baru di Jayakarta tersebut.

Sang Kapitan ini (Souw Beng Kong) bertanggung jawab atas perdagangan dan perkembangan warga China di Batavia. Jadi meski berlabel Kapitan, jabatan ini tidak lagi berkait dengan fungsi militer. Beng Kong sendiri bertugas selama 17 tahun, dalam masa pemerintahan lima Gubernur Jenderal. Kapitan jelas adalah orang yang loyal pada pemerintah kolonial Belanda. Fungsi mereka adalah penyambung lidah pemerintah kolonial. Souw Beng Kong sendiri seperti layaknya sebagian etnis China di Jakarta pada hari ini, kesibukan Beng Kong pun tidak jauh berbeda. Ia pemilik berbagai usaha seperti pembuatan mata uang koin tembaga, pemilik kapal, kontraktor, dan pengawas rumah perjudian dan rumah penimbangan. Salah satu buah karya Sang Kapitan pun masih bisa kita lihat hingga kini, yaitu bagian Muara Ciliwung yang diluruskan menjadi Kali Besar untuk kelancaran lalu-lintas kapal. Sampai akhir hidupnya Sou Beng Kong masih tetap setia terhadap pemerintahan penjajah VOC ini, dimata Penjajah VOC Souw Beng Kong adalah “anak emas” sekalipun suatu saat dia melakukan kesalahan, namun karena dianggap mempunyai jasa yang besar, fihak Penjajah VOC masih tetap memaafkannya. Sejak dijadikannya Souw Beng Kong menjadi Kapitan, etnis Tionghoa pada masa itu banyak mendapatkan “fasilitas’ yang istimewa dari penjajah VOC. Apalagi VOC juga banyak mendapatkan keuntungan finansial yang tidak sedikit dengan banyaknya pendatang Tionghoa ke Batavia itu. Dimata penjajah VOC etnis ini dianggap lebih menguntungkan karena dianggap ulet dan cakap dalam bekerja, sedangkan etnis pribumi dianggap penjajah VOC dianggap sebagai etnis yang malas (sebuah cap negative yang sering dilontarkan penjajah kafir VOC kepada bangsa ini).

Sebenarnya diantara sekian kapitan-kapitan yang disebut, ada juga kapitan-kapitan yang berjasa terhadap perkembangan Dakwah Islamiah, bahkan mereka ada yang berasal dari etnis Tionghoa, namun keberadaan mereka ini jarang diangkat, seperti misalnya Kapitan Dossol. Dossol adalah kapitan peranakan Tionghoa pertama di Batavia. Setelah itu jabatan dilanjutkan oleh putranya, Tamien Dossol, dan kemudian Aliemuddin yang merupakan anak Tamien Dossol. Keluarga Dossol, khususnya Tamien Dossol, tercatat sebagai orang berjasa atas keberadaan Masjid Jami Kebon Jeruk di Jalan Hayam Wuruk. Masjid yang dibangun pada 1786 itu didirikan di atas tanah milik Kapitan Tamien Dossol (1780-1797). Disamping itu ada juga beberapa Kapitan yang mblelo atau membangkang terhadap penjajah VOC seperti Kapiten Jongker. Kapiten Jongker sendiri adalah seorang muslim yang berasal dari Pulau Seram. Dia sebenarnya adalah tawanan perang VOC namun kemudian karena dianggap berpotensi dalam bidang militer, maka kemudian VOC memanfaatkan ketrampilan Jongker. Awalnya dia memang mengabdi kepada penjajah VOC namun kemudian akhirnya dia menjadi musuh nomor satu penjajah VOC.

Sebenarnya Kapiten Jongker ini tidaklah mengabdi secara penuh kepada penjajah VOC, walaupun secara fisik ia terlihat mengabdi, tapi itu dilakukannya karena terpaksa. Yang mungkin banyak orang tidak tahu, Kapiten Jongker yang merupakan muslim tulen ini ternyata istrinya adalah berasal dari keluarga besar Aria Jipang Jayakarta yang bernama Ratu Ayu Fatimah Nitikusuma.Artinya perlawanan Kapiten Jongker terhadap VOC tidak lepas perannya dari keluarga besar Aria Jipang yang ada di Jayakarta. Kapiten Jongker ini secara diam-diam melakukan hubungan diam-diam dengan keluarga besar Aria Jipang yang mempunyai basis pertahanan di Rawa Belong Palmerah. Kapiten Jongker sendiri akhirnya wafat syahid karena dibunuh oleh Penjajah VOC.

Sejak syahidnya Kapitan Jongker, keberadaan Kapitan kapitan lain diawasi secara ketat, tidak jarang Penjajah VOC sering mengadu domba antara Kapitan yang satu dengan yang lain. Satu Kapitan diangkat, satu lagi diinjak, satu kapitan dipuji yang lain dicerca, satu suku dipuji suku lain dikatakan jelek, intinya politik adu domba antar Kapitan dan antar suku yang ada di bekas wilayah Jayakarta ini terus menerus dilakukan oleh Penjajah VOC. Semua koloni-koloni yang berada pada kekuasaan Penjajah VOC yang berada di Batavia (nama dari JP Coen) betul-betul dipersempit ruang geraknya. Sedangkan pemukiman-pemukiman yang dihuni oleh keluarga besar Jayakarta luput dari pengawasan Penjajah karena posisi mereka berada jauh dari pusat pemerintahan Penjajah VOC, disamping jauh posisi pemukiman keluarga besar Jayakarta tertutup aksesnya bagi fihak luar., karena kalau sampai posisi pemukiman keturunan Jayakarta terbongkar maka habislah keturunan-keturunan mereka oleh penjajah kafir VOC itu.

Pemukiman-pemukiman keluarga besar Jayakarta memang tidak menggunakan pola pemerintahan ala penjajah, apalagi dengan adanya gelar KAPITAN itu. Sebab kalau mereka menggunakan istilah Kapitan itu, berarti mereka menyatakan diri tunduk pada penjajah, sekalipun tidak semua Kapitan itu jadi “pengikut setia” Penjajah VOC, namun tetap saja keluarga besar Jayakarta tidak memakai gelar-gelar yang diberikan oleh Penjajah VOC seperti Gelar Kapitan ini. Sampai runtuhnya Kraton Jayakarta ditahun 1619 M, keluarga besar Jayakarta memang tidak pernah menyatakan diri tahluk kepada penjajah VOC. Secara De Fakto kota Jayakarta sudah berhasil dipegang oleh para penjajah kafir tersebut, namun secara de jure perlawanan jihad fisabilillah itu masih terus berlangsung dibumi Jayakarta baik yang dilakukan secara gerilya maupun secara terbuka dan ini tercatat dan diceritakan secara turun temurun oleh keluarga besar Keturunan Jayakarta, baik yang ada di Rawa Belong Jakarta Barat, Kayu Putih Tanah Tinggi (kini menjadi Kayu Putih Utara Jakarta Timur) Jelambar (Jakarta barat) , Jatinegara Kaum (Jakarta Timur) dan wilayah Jayakarta yang lain. Keluarga besar Jayakarta sampai tahun 1945 terus melakukan perjuangan dibawah tanah.

Adanya pemukiman yang independen seperti yang saya sebut diatas ini jelas telah menjaga kerahasiaan sejarah maupun melindungi garis keturunan yang mereka miliki. Jika dibandingkan dengan pemukiman-pemukiman yang dihuni beberapa suku dan dipimpin oleh seorang KAPITAN, keberadaan pemukiman independen seperti yang saya sebut diatas tidaklah terlalu sulit untuk dilacak akar sejarah maupun akar garis keturunannya, sedangkan daerah-daerah koloni atau pemukiman-pemukiman yang dipimpin oleh para Kapitan, keberadaan penduduk aslinya kini sulit sekali untuk dilacak, jangankan sejarahnya, garis keturunannyapun sulit untuk dideteksi, hal ini karena banyak dari penduduk aslinya sudah berpindah keberbagai daerah, kini nama-nama tersebut kebanyakan hanya menjadi nama sebuah kampung, sedangkan penduduk aslinya nyaris sulit terdeteksi. Lebih repot lagi jika kita menemukan mereka yang mengaku dirinya asli dari daerah tersebut tapi ternyata mereka buta sejarah dan juga buta akan garis keturunannya. Jika kita datang ke Kampung Melayu, Kampung Ambon, Kampung Bandan, Kampung Jawa, Kampung Bali, Kampung Makasar, dan kampung-kampung lainnya yang pernah tercatat dalam sejarah Jakarta kebanyakan justru penduduk daerah tersebut bukan lagi berasal dari nama-nama daerah tersebut.

Bagaimana kisah selanjutnya dari etnis Tionghoa atau China itu pasca masanya Kapitan Sow Beng Kong itu?

Setelah masa Souw Beng Kong berlalu, perlakuan penjajah VOC terhadap etnis ini sebenarnya masih sama, namun menjelang tahun-tahun 1730 – 1740an sikap Penjajah VOC itu mulai ada perubahan. Kisah etnis Tionghoa/China yang paling memilukan bahkan pernah dialami ketika ketika penjajah VOC di tahun 1740 Masehi melakukan pembantaian besar-besaran terhadap etnis ini di daerah Angke Jakarta Barat. Etnis Tionghoa sebelum terjadi pembantaian ini sangat sabar terhadap perlakuan VOC. Mereka diperas dan diperlakukan secara tidak manusiawi oleh Penjajah VOC. Bangkrutnya keuangan Belanda, membuat Belanda menjadikan etnis ini sebagai sapi perahan. Akibat dijadikan sapi perahan ini banyak membuat mereka melakukan perlawanan. Namun demikian Penjajah VOC pun akhirnya tidak tinggal diam.

Etnis Tionghoa pada tanggal 9 Oktober tahun 1740 Masehi betul-betul menjadi buruan VOC untuk dibunuh-bunuhi, kurang lebih 10.000 orang etnis tewas secara mengenaskan! Tapi tahukah anda, bahwa dari sekian yang dibunuhi-bunuhi tersebut ternyata banyak juga dari mereka yang merupakan muslim dan muslimah Tionghoa, terutama mereka yang sering disebut sebagai China Gundul. Sepertinya penjajah VOC ini sangat paranoid ketika mendengar idiologi yang satu ini. Secara historis memang banyaknya Etnis China atau Tionghoa yang muslim adalah sebuah kewajaran, karena salah satu tokoh China yang pernah datang ke Negeri ini dalam rangka melakukan titian Muhibah adalah seorang Muslim yang bernama Laksamana Muhammad Cheng Ho.

Prof Hembing (2005:vii) bahkan menulis bahwa etnis Tionghoa yang banyak masuk Ke Nusantara ini tidak lepas juga dari jasa Laksamana Muhammad Cheng Hoo dengan misi persahabatan dan kerukunan. Laksamana Cheng Ho adalah muslim yang nasabnya masih berhubungan dengan etnis arab. Sehingga dengan banyaknya etnis Tionghoa yang muslim sangat wajarlah jika Penjajah Belanda sangat benci dengan keberadaan mereka disamping faktor ekonomi (perdagangan). Menurut Alwi Shihab (2004:104) bahkan saat Sow Beng Kong menjabat sebagai Kapitan ia dibantu oleh sekretarisnya yang bernama Jan Con, alias Gouw Tjay. Orang kedua pada masyarakat China ini termasuk kelompok yang disebut China Gundul, sebutan seperti ini diberikan unttuk warga China yang beragama Islam. Gambaran ini menunjukkan bahwa sejak awal dibangunnya Batavia, sudah banyak Etnis Tionghoa yang beragama Islam. Namun demikian pada masa itu para Imigran Tiongkok itu lebih menyukai hidup damai dan menghindari keributan. Adanya kapitan-kapitan dari etnis Tionghoa adalah salah satu bentuk keterlibatan mereka agar VOC tidak berbuat “macam-macam” kepada mereka. Namun pada akhirnya dikemudian hari tahun 1740 Masehi terjadilah peristiwa memilukan di Batavia, yang mungkin sampai saat ini tidak akan pernah bisa dilupakan oleh mereka. Kali Angke jelas bagi mereka yang pernah membaca kisah pembantaian tahun 1740 Masehi itu, tentu akan terus menciptakan duka yang mendalam….

Itulah beberapa catatan sejarah mengenai kiprah tentang salah satu tokoh etnis Tionghoa serta beberapa sejarah koloni-koloni yang ada di Jayakarta, terlepas Pro dan Kontra dalam menyikapi keberadaan mereka, yang jelas keberadaan mereka itu pernah mewarnai perjalanan Kota Jakarta ini. Ambil sisi positif hilangkan sisi negativ.

Semoga mencerahkan…..

Daftar Pustaka:

Adi, Windoro (2010). Batavia 1740, Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Mertakusuma, Ratu Bagus D Gunawan (1986). Wangsa Aria Jipang di Jayakarta. Jakarta: Penerbit AgraPress,
Shihab, Alwi (2002). Robin Hood Betawi. Jakarta: Republika.
Shihab, Alwi (2004). Saudagar Baghdad Dari Betawi. Jakarta: Republika.
Sukirno, Ade (1995). Pangeran Jayakarta, Perintis Jakarta Lewat Sejarah Sunda Kelapa. Jakarta: Grasindo
Wijayakusuma, Hembing (2005). Pembantaian Masal 1740, Tragedi Berdarah Angke.

Comments

comments