Angkatan 66, Salah Satu Kekuatan Membubarkan PKI

oleh -
angkatan-66-dokumen-aksi-bubarkan-pki
angkatan-66-dokumen-aksi-bubarkan-pki

“JasMerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian Tokoh proklamator Bung Karno  berpesan kepada kita bangsa Indonesia. 30 Sepember 1965, sebuah peristiwa berdarah  G 30-S/PKI mengorbankan 7  pahlawan revolusi serta para tokoh ulama. Tonggak angkatan 66 yang pertama kali beraksi untuk bubarkan PKI”

 

Jakarta–  Peristiwa perlawanan dan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1966 bukan hanya dilakukan oleh ABRI, kelompok masyarakat daerah, para santri dan tokoh agama saja. Ada satu gerakan bernama Angkatan 66 yang berperan aktif dalam membubarkan PKI dengan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran mendesak pemerintah segera mengambil tindakan. Gerakan ini terdiri dari mahasiswa yang terhimpun dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang para tokoh-tokohnya lalu populer disebut Angkatan 66. Di Jakarta muncul tokoh-tokoh mahasiswa, khususnya dari lingkaran HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan PII (Pelajar Islam Indonesia) yang bergandengan tangan dengan pasukan RPKAD di bawah komando Sarwo Edhie untuk melakukan perlawanan dan pembersihan terhadap kekuatan PKI yang melakukan makar.

Andil HMI

Beberapa senior HMI yang memiliki andil ikut membentuk perjalanan intelektual saya yang sekarang masih hidup antara lain Dr. Sulastomo (1938), Prof. Malik Fadjar (1939), Mar’ie Muhammad (1939), AM. Fatwa (1939), Prof. Dawam Rahardjo (1942), Harun Kamil, SH. (1943), Dr. Fahmi Idris (1943), Dr. Akbar Tanjung (1945). Mereka ini putra-putra bangsa yang memiliki komitmen kebangsaan, keislaman dan keilmuan. Dalam diri mereka terkumpul idealisme, pengalaman berorganisasi, rekam jejak politik praktis dan kapasitas intelektual, suatu perpaduan yang semakin langka ditemukan di kalangan mahasiswa hari ini dan politisi era Reformasi. Salah satu tokoh Angkatan 66,

Fahmi Idris, Angkatan 66

Fahmi Idris menceritakan jika suasana di kampus saat itu terasa sekali berbeda, teman-teman kita di seberang sana menunjukkan ekspansi revolusioner. Kita-kita yang non komunis tidak tinggal diam, tanggal 30 September komunis melakukan pergerakan. Itu menjadi titik kulminasi pergerakan anak muda yang tergabung dalam KAMI dan dari situlah tercetus Tritura. Tiga Tuntutan Rakyat terdiri dari Bubarkan PKI, Rombak Kabinet dan Turunkan Harga. Dikatakan Fahmi, mahasiswa kala itu tidak bergerak sendirian. Mereka dibantu dengan Angkatan Darat yang juga meyakini harus adanya revolusi untuk memperbaiki situasi politik, ekonomi dan sosial Indonesia yang kacau balau saat itu. Gelombang aksi yang terus terjadi membuat pemerintah harus mengambil tindakan pertama yaitu membubarkan PKI. Kondisi politik berangsur-angsur mereda dan disambut gembira oleh seluruh masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa. (nefa puspa melati)

Comments

comments