Amandemen Imbau Jangan Nodai Pilkada Dengan Isu SARA

oleh

Mendekati pesta demokrasi serentak di Jawa Barat dan beragai daerah lain di Indonesia, Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen ) mencermati tulisan – tulisan yang beraroma SARA dan fitnah mulai disebar secara masif diantara netizen.

Hampir setiap hari kita disuguhkan dengan tulisan-tulisan dan konten-konten yang cenderung bernada provokatif dan ini begitu mudah menyebar diantara netizen.

Amandemen menengarai, motif penyebar konten ini bisa jadi untuk mempengaruhi calon – calon pemilih ( berlatar politik ), namun bisa juga mereka memiliki maksud lain ( berlatar ekonomi ).

Atas ini kami menyatakan sikap,

1. Tentunya kami sangat prihatin atas keadaan ini. Kami menganggap hal yang terus berulang ini adalah hal yang harus dicermati oleh semua elemen bangsa. Jangan biarkan hal ini terus berlangsung, yang akhirnya akan membahayakan kerukunan kita sebagai bangsa yang berbhineka.

2. Kami memohon pada pihak – pihak yang ikut andil dalam hal – hal provokatif itu untuk tidak melanjutkan niatannya. Karena hal itu akan membawa kita sebagai anak bangsa makin terpuruk dalam jurang perbedaan yang semakin dalam. Stop eksploitasi SARA untuk kepentingan politik.

3. Sadarlah saudara kami se-tanah air, adu domba tidak akan membawa kebaikan dan akan semakin memperburuk kondisi pendidikan demokrasi bangsa ini. Konten yang kini beredar hanya berkutat di kepentingan parpol dan figur yang diusung, bukan kepentingan rakyat.

Analis dan Pengamat Media Massa Lembaga Kajian Aliansi Masyarakat Untuk HAM, Demokrasi dan Keadilan Hukum ( Amandemen ), Adi Raksanagara mengatakan, “Analisa – analisa politik tanpa sumber yang kompeten akan membuat blunder opini publik. Analisa – analisa itu akan menguras energi.

“Mereka habiskan energi disini. Terkuras sebelum penentuan dari balon (bakal calon) menjadi calon. Komunikasi politiknya terkesan vertikal. Masih seputar keputusan dan kebijakan parpol. Belum ada yang menyentuh kepentingan publik, masyarakat dan di media juga yang masih terlihat sekarang adalah ambisi para balon, bukan perspektif para balon menyikapi persoalan sosial masyarakat, lingkungan hidup, dan lainnya,” kata Adi.

4. Menghimbau dan mengajak seluruh media massa sebagai salah satu pilar demokrasi untuk sama – sama menghalau pemberitaan yang sifatnya adu domba dan provokatif. Kami meminta teman-teman jurnalis untuk tidak terjebak dalam menyebarkan informasi yang menyesatkan publik. Informasi negatif ini harus kita lawan bersama dengan informasi – informasi positif.

5. Kami menghimbau dan mengajak para figur yang diusung menjadi pimpinan daerah, parpol, pengamat, akademisi, cendikiawan dan tokoh – tokoh masyarakat untuk sama – sama turut mencerdaskan masyarakat dengan pendidikan demokrasi yang sehat. Mari kita halau kampanye – kampanye hitam demi anak – anak dan generasi penerus kita. Agar bangsa ini bisa menatap masa depan tanpa terus menerus dibayang – bayangi teror kebencian dari mereka yang tak ingin bangsa ini hidup dalam kedamaian.

Sementara itu, Iu Rusliana (iu), peneliti senior Amandemen mengatakan, Pilkada adalah pertarungan gagasan, bukan sebagai arena menumpahruahkan kebencian.

“Mari bersama mendorong kecerdasan berpolitik, kesantunan berpolitik, sehingga mendorong ruang publik sebagai arena pertarungan gagasan yang memajukan, bukan arena tumpahruahnya kebencian. Pilkada adalah agenda lima tahunan yang rutin, kualitasnya harus terus ditingkatkan. Pada konteks kebangsaan, kain kebangsaan yang lama telah ditenun oleh anak bangsa jangan sampai dirobek, karena butuh waktu lama untuk menjahitnya, ” Kata Iu. (*)

Amandemen imbau jangan nodai pilkada dengan SARA

 

Comments

comments