Alasan Kondisi Kesehatan, Kejaksaan Belum Melakukan Penahanan Tersangka Penipuan

oleh

BANDUNG,- Darmawan Suryaatmadja, walaupun sudah berstatus tersangka dan sudah dalam penyidikan pihak kejaksaan, namun hingga kini masih bebas beraktifitas diluar.

Hal ini disayangkan oleh Jon B. Pasaribu, SH, MH., kuasa hukum dari pelapor Arif Muhamad Lutfi, “Seharusnya dengan ancaman hukuman diatas 5 (lima) tahun, tersangka bisa langsung ditahan,” ujarnya kepada wartawan melalui sambungan teleponnya, Jumat (4/8/2017).

Dilanjutkan oleh Jon, bahwa sebagai pelapor pihaknya bersikap pasif, “Kita serahkan ke penyidik kejaksaan, karena jaksa mewakili negara,” ucap Jon. “Kami saat ini melihat proses selanjutnya, sampai nanti dinyatakan dalam persidangan,” kata Jon lagi.

Dijelaskan oleh Jon Pasaribu, kasus Arif M. Lutfi dan Darmawan diawali dengan perjanjian kerjasama. Kliennya bertindak sebagai developer dan terlapor yang kini menjadi tersangka (Darmawan) sebagai yang mengaku pemilik tanah. Tapi kemudian diketahui bahwa pengakuannya (Darmawan) itu tidak benar. Maka dari itu pihaknya melaporkan Darmawan ke Polda Jawa Barat. “Kami laporkan dengan tuduhan pemalsuan akta otentik (Pasal 266 KUHP) dan penipuan serta penggelapan. Tapi yang diutamakan di pemalsuan akta otentik tadi,” ujar Jon.

“Pada saat klien saya (Arif M. Lutfi) sudah mengeluarkan uang banyak, sampai milyaran, Darmawan menggugat kita secara perdata ke PN Bandung, klien kita di gugat atas perbuatan wanprestasi atas perjanjian kerjasama yang ditandatangani. Ada dugaan Darmawan ingin memutuskan perjanjian kerjasama tersebut atau putus kontrak. Setelah tanah yang akan dibangun itu sudah di urug, sudah dibangun, jalannya sudah dimatangkan,” jelas Jon. “Klien saya bukan korban yang pertama,” ungkapnya.

“Jadi, proses perdata itu kita digugat, kita sampai sekarang sudah menang, artinya gugatan dia itu tidak diterima oleh pengadilan karena ternyata dia (Darmawan) yang wanprestasi, bukan kita,” terang Jon. “Sekarang perdatanya sedang proses kasasi,” imbuh Jon.

Jon Pasaribu menambahkan, “Nah, sementara untuk laporan pidananya kita ini, Darmawan sudah jadi tersangka, sudah tahap II kemarin tanggal 2 Agustus 2017, sekarang dia dalam pengawasan kejaksaan, artinya penyidikan sudah dialihkan ke kejaksaan. Kejaksaan yang melakukan tahap penuntutan dan penyerahan ke pengadilan untuk disidangkan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Arif M. Lutfi sebagai pelapor kepada awak media mengaku merasa bingung atas proses hukum yang sedang ditempuhnya, “Kok tersangka tidak ditahan, padahal berkas perkara diketahui sudah P21. Semenjak pemeriksaan di kepolisian tahun lalu hingga saat ini sudah dilimpahkan ke kejaksaan tapi tersangka belum pernah ditahan,” keluhnya.

Diterangkan oleh Arif, pihaknya membuat perjanjian kerjasama di notaris membangun perumahan di daerah Cisaranten Kulon. “Dia (Darmawan) minta uang didepan, dan dia sudah terima uang dari saya sebagai ‘uang tunggu’. Saya sudah kerjakan sesuai dengan perjanjian kerjasama, dia yang punya tanah lalu saya yang bangun dan jual. Di perjanjian dia sebutkan sertifikatnya sedang di split. Tapi sampai dengan kita bangun dan akad kredit dengan bank, sertifikatnya tidak jelas dimana,” terang Arif.

Diterangkan lebih lanjut oleh Arif, “Dia seperti ngeles-ngeles, lalu kita laporkan di sekitar bulan Maret 2016 lalu ke Polda Jabar. Ternyata baru diketahui, tidak pernah ada proses pemecahan seperti yang disebutkan dalam perjanjian kerjasama. Saya artikan dia telah berbohong di akta notaris, di bank juga begitu,” terang Arif dengan nada sedikit kesal.

Alasan Kejaksaan Tidak Menahan Tersangka

“Menimbang kondisi kesehatan tersangka yang dibuktikan dengan keterangan dari dokter, dan ada jaminan tersangka tidak akan melarikan diri, kami belum melakukan tindakan penahanan terhadap tersangka,” terang Jaksa A. Nurhidayat saat ditemui oleh awak media, Senin (7/8/2017).

Tapi diyakinkan oleh Nurhidayat bahwa proses hukum terus berlanjut. “Ini kan sudah P-21, dan sedang berproses lebih lanjut,” tegas Nurhidayat. (*)

Comments

comments